Memo Sponsor dari Atasan? Bagaimana Mengatasinya?

Indra, seorang manajer komunikasi pemasaran sebuah institusi keuangan suatu hari mengucap janji dalam hati. Ia tengah gundah memilih apakah harus bertahan dengan pekerjaannya yang bergaji besar tapi kerap membuatnya stress? Atau menerima pinangan perusahaan lain yang menawarkan gaji lebih kecil tapi menjanjikan harapan hidup lebih damai?

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ternyata dari salah satu direktur yang belum pernah menghubungi dirinya. Indra bahkan yakin sang direktur tak akan mengenalinya jika bertemu. Pembicaraan di telepon sangat singkat, tapi Indra jelas menangkap pesannya. Intinya sang direktur mengetahui Indra sering berhubungan dengan pihak ketiga atau supplier. Dan baru saja beliau meminta Indra membantu salah satu calon supplier yang mengaku kesulitan mendapat order dari Indra. Ketika telepon ditutup, Indra jengkel alang kepalang. Tapi setengah menit kemudian ia tersenyum lega. Indra merasa mendapatkan pilihan. Sendirian ia bergumam: “Berarti ini isyarat bahwa aku harus pindah kerja. Sesuai dengan janji hati jika ada 1 hal saja hari ini yang menyesakkan luar biasa, berarti aku harus keluar dari kantor ini.” Indra melenggang santai menuju meja kerjanya dan mulai menghubungi perusahaan lain yang menawarinya pekerjaan. Besoknya ia menyampaikan pengunduran diri pada atasannya. Kisah ini ekstrim tetapi benar-benar nyata.

Bagaimana jika Anda berada di posisi Indra? Pernahkah Anda mendapatkan memo sponsor khusus dari jajaran tinggi di kantor Anda yang berusaha mempengaruhi keputusan Anda? Beberapa rekan berbagi pengalaman berikut ini:

FIFI, ASSISTANT MANAGER GENERAL AFFAIR
Alhamdullillah belum pernah mengalami yang begitu. Ya kalau usulan atau saran dari atasan sih ada. Tapi bagusnya kami selalu konsisten menerapkan system tender yang fair dan terbuka. Team penilai juga terdiri dari berbagai macam bagian sehingga pilihan melalui keputusan bersama berdasarkan kualifikasi yang ditetapkan.

JOKO, IT OFFICER
Hmm.. sensitif ya ngomongin ginian. Gini aja deh.. Kalau saya, sepanjang kualitas bisa dipertanggungjawabkan tidak masalah. Boleh saja. Tapi apapun hasilnya, saya selalu membuat memo rekomendasi mengenai pihak ketiga itu dengan tembusan ke pihak-pihak berwenang lain. Kan ada komite yang berhak memutuskan itu. Kalau misalnya rekomendasi saya jelek dan pihak ketiga itu tetap dipakai biar saja mereka yang bertanggungjawab. Yang penting saya sudah sampaikan penilaian saya dan ada dokumentasinya.

DIAN, PROMOSI & KOMUNIKASI MANAGER
Wah.. nggak kena tuh saya dibegituin. Udah nggak jaman lagi! Ini kan sudah masa reformasi. Lagian saya punya 1001 cara menolak memo kayak gitu. Dari mulai saya anggap angin lalu, sampai saya permasalahkan ke pihak-pihak yang bisa membantu, seperti atasannya si pembuat memo (kalau ada), ke HRD, atau ya langsung saja saya counter orangnya. Minta tandatangan si pembuat memo untuk menjamin bahwa yang dia rekomendasikan itu memang lebih baik dari kandidat lain. Kalau sampai terbukti tidak, dia yang harus ganti. Berani nggak?

BUDI, HUMAN RESOURCE MANAGER
Umumnya saya sikapi dengan tetap menjalankan proses sesuai prosedur. Apapun hasilnya akan saya sampaikan kepada pihak-pihak yang berhak menilai dan membuat keputusan. Ada juga sih satu dua kandidat pembawa memo sponsor yang akhirnya lulus dan bisa bekerja di kantor saya karena kesaktian memonya. Tapi belakangan, para pengirim memo sponsor itu menyadari kok kalau sembarang memberi rekomendasi itu bisa mengganggu strategi pengembangan perusahaan sehingga akhirnya mereka bisa lebih selektif dan obyektif.