Luka Psikologis Akibat PHK

Karyo akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan baru setelah berjuang selama satu setengah tahun sejak di-PHK dari sebuah Perusahaan Otomotif. Dalam masa-masa perjuangan mendapatkan pekerjaan, ia telah menjalani puluhan kali wawancara dan tes tertulis. Beberapa kali ia berhasil melewati beberapa tahap dalam penerimaan karyawan, namun ternyata pada tahap screening akhir ternyata orang lain yang diterima. Namun berkat kegigihan dan semangat pantang menyerah akhirnya ia diterima bekerja di sebuah perusahaan otomotif terkemuka.

Teman-teman dan kerabatnya beranggapan bahwa ia adalah orang yang beruntung karena berhasil mendapatkan pekerjaan dengan jabatan dan bidang pekerjaan yang sama dengan sebelumnya dan bekerja pada perusahaan besar serta terkemuka. Namun bagi Karyo semua itu tidak lagi terasa sebagai suatu “kemenangan”. la menanggapi keberhasilan tersebut secara biasa-biasa saja. la bahkan masih risau memikirkan kelanjutan karirnya di perusahaan tersebut dan meragukan apakah ia mampu berprestasi dengan baik di tempat kerjanya yang baru ini.

Bagi Anda yang pernah terkena PHK dan kemudian berhasil memperoleh pekerjaan baru, setelah melalui perjuangan yang sangat panjang, mungkin pengalaman Karyo pernah juga Anda alami terutama pada saat-saat awal diterima bekerja. Perasaan kaget, tidak percaya bahwa itu benar-benar terjadi, ragu apakah setelah diterima akan mampu bekerja dengan baik, sulit mempercayai atasan atau perusahaan baru, atau bahkan mempertanyakan apakah ini benar-benar hasil usaha sendiri atau ada pihak lain yang ikut campur tangan, adalah sebagian gambaran dampak psikologis (saya lebih suka menyebutnya “luka psikologis”) yang masih membekas pada individu yang baru diterima kerja pasca PHK.

Pertanyaan yang patut diajukan adalah mengapa terjadi reaksi seperti itu dan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyembuhkan luka psikologis yang masih membekas di individu korban PHK tersebut?

Penyebab

Bagi individu yang memandang kehidupan secara sangat pribadi dan subyektif, seperti disebutkan di atas, kehilangan pekerjaan dianggap sebagai penghinaan atau serangan terhadap pribadi. Mereka merasa dilecehkan dan mungkin sangat marah sehingga sulit berpikir secara obyektif. Jika kemarahan tersebut diarahkan pada dirinya sendiri, maka mereka mungkin masih akan terus merasa bahwa dirinya tidak berharga untuk jangka waktu cukup lama meskipun telah memiliki pekerjaan baru.

Bagi individu yang memandang setiap kejadian secara obyektif dan rasional serta percaya bahwa segala sesuatu di jagat raya diatur oleh hukum tertentu, bersilat logis dan adil, kehilangan pekerjaan akan berarti kehilangan kendali terhadap diri sendiri dan alam sekitarnya. Kondisi tersebut membuat mereka kehilangan kepercayaan diri dan timbul ketakutan bahwa mereka tidak mungkin lagi dapat kembali ke kondisi seperti sebelum PHK.

Dari seluruh individu yang ada dalam satu perusahaan, menurut careerjournal.com, hanya ada sepertiga individu yang mengganggap bahwa pekerjaan adalah alat/kendaraan untuk menjalani kehidupan, bukan sebagai simbol status, stabilitas, penentuan harga diri atau pengendalian terhadap alam sekitar. Bagi individu seperti ini kehilangan pekerjaan tidak menimbulkan reaksi emosional yang kontraproduktif. Kehilangan pekerjaan bagi mereka dianggap sebagai suatu situasi sementara yang tidak nyaman tetapi tidak perlu merasa tertekan.

Jika Anda termasuk individu yang rasional, pemikir yang obyektif, mungkin ada baiknya Anda melakukan analisis terhadap berbagai kejadian dan reaksi Anda dalam menyikapi setiap kejadian tersebut. Catatlah faktor-faktor apa yang telah mengakibatkan diri Anda terkena PHK, pelajari hal-hal yang dialami selama masa pencarian pekerjaan, apa tujuan yang ingin dicapai dalam beberapa tahun ke depan dan apakah kelebihan atau keuntungan dari jabatan Anda yang baru ini. Dengan melakukan analisa tersebut Anda akan dapat mengurangi ketakutan yang tidak rasional, mengurangi pikiran-pikiran yang tidak produktif, dan dapat lebih fokus pada kekuatan dan sumber daya individu yang ada saat ini.

Bagi mereka yang merasa kehilangan kendali terhadap diri dan alam sekitarnya sebagai akibat dari kehilangan pekerjaan mungkin akan mengabaikan kesehatan fisik dan jiwa mereka. Meskipun kesehatan jiwa tidak selalu berarti memiliki kondisi fisik yang prima, namun secara faktual akan sangat sulit bagi seseorang untuk peduli terhadap kondisi fisiknya jika ia tidak sejahtera secara mental. Demi meningkatkan kesehatan mental dan fisik, maka setelah mendapatkan pekerjaan baru cobalah melakukan kebiasaan-kebiasaan baru yang berguna bagi keseimbangan fisik dan mental seperti melakukan olahraga atau diet. Akan sangat baik jika Anda bergabung dalam kelompok (klub) olahraga di mana anda dapat berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain.

Suatu teknik yang disebut Mental Imaging mungkin akan sangat berguna untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang muncul pada saat Anda telah diterima bekerja kembali. Cara kerja teknik ini adalah dengan menyusun skenario (secara mental) tentang suatu kondisi kerja yang stabil, aman, lalu identifikasi perilaku-perilaku produktif yang dapat menunjang Anda mencapai kesuksesan sehingga Anda optimis dapat melangkah ke masa depan yang lebih cerah. Sekali skenario tersusun, cobalah berperilaku menurut skenario tersebut.

Penyembuhan luka psikologis tentulah harus disertai dengan usaha keras dan perhatian yang sangat serius dari individu yang bersangkutan untuk mengatasi keraguan terhadap dirinya sendiri dan mendapatkan kembali kepercayaan dan komitment terhadap perusahaan. Ingatlah bahwa sekali anda diterima bekerja artinya anda mempunyai kewajiban untuk memberikan yang terbaik dari semua hal yang anda miliki kepada perusahaan seperti yang pernah anda janjikan ketika wawancara atau proses penerimaan karyawan. Pada akhirnya nanti mungkin kontribusi anda akan sangat menentukan kelangsungan hidup perusahaan, karir anda, dan keamanan kerja bagi rekan-rekan yang lainnya.

Sumber: Majalah Human Capital No. 23 | Februari 2006