Karyawan Setia, Perusahaan Pun Bahagia


Kamis, 5 Agustus 2010. Sekumpulan orang berpakaian batik tampak memenuhi salah satu ballroom di hotel Four Seasons, Jakarta. Hari itu, ada perayaan besar yang diselenggarakan oleh PT Unilever Indonesia Tbk. dalam rangka pemberian penghargaan masa kerja kepada karyawan yang telah menunjukkan dedikasi dan kinerja yang memuaskan.

Kesempatan ini ternyata juga dimanfaatkan Unilever untuk mengadakan ajang pencarian bakat bagi karyawan yang memiliki prestasi dan kemampuan di bidang seni. Pantas, acaranya dinamakan “Jubilaris 2010 – Unilever Mencari Bakat”. Sang empunya hajat, Direktur Human Resources and Corporate Relations Unilever Indonesia, Josef Bataona, memaparkan, pemberian penghargaan masa kerja merupakan bentuk penghormatan dan kepercayaan perusahaan terhadap karyawan. “Karyawan adalah salah satu aset perusahaan yang sangat penting dan semestinya dihargai, maka pihak manajemen sudah sepatutnya menghargai karyawan yang telah loyal mengabdi pada perusahaan untuk jangka waktu yang cukup lama,” tuturnya kepada HC seusai acara.

Tahun ini, disampaikan Josef, penghargaan masa kerja diberikan kepada 186 karyawan yang telah mengabdi selama 15 dan 25 tahun serta mereka yang memasuki masa purna karya. “Mereka terdiri dari 90 orang yang mencapai masa kerja 15 tahun, empat orang dengan masa kerja 25 tahun, dan 92 orang yang memasuki masa pensiun,” ujarnya menyebutkan. Ditambahkan Josef, mereka yang memasuki usia pensiun rata-rata masa pengabdiannya selama 31 tahun. Bahkan, salah seorang dari mereka yang akan pensiun tahun ini, ada yang mencapai masa kerja selama 36 tahun.

Mengenai bentuk penghargaannya, Josef mengungkapkan, selain uang, perusahaan juga memberikan cincin emas dan piagam kesetiaan kerja bagi mereka yang telah mengabdi selama 15 dan 25 tahun serta yang memasuki masa purna bakti. “Cincinnya bermata icon Unilever. Mereka yang mengabdi selama 15 tahun mendapat cincin emas seberat 8 gram, sedangkan yang mencapai 25 tahun mendapatkan cincin emas seberat 10 gram. Bagi mereka yang memasuki masa pensiun mendapat sepasang cincin, yang satu untuk pasangannya,” Josef memaparkan. Di samping itu, karyawan yang pensiun juga mendapatkan seragam batik dan plakat penghargaan yang ditandatangani Josef sebagai wakil dari pimpinan perusahaan.

“Selaku direksi, saya turut bangga dan berterima kasih kepada para karyawan yang sudah melampaui perjalanan yang tidak pendek di perusahaan ini. Karena kontribusi mereka sangat luar biasa, yang telah membawa perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi dengan berbagai penghargaan yang diterima dari pihak luar,” paparnya bangga. Oleh karena itu, menurut Josef, penghargaan masa kerja ini hendaknya mampu memompa kinerja dan loyalitas karyawan. Tak hanya itu, Josef menyampaikan, perusahaan juga memberikan apresiasi kepada pasangan (suami atau isteri) dari karyawan yang menerima penghargaan saat itu.

“Pada acara ini, kami juga mengundang pasangan karyawan untuk ikut menerima penghargaan. Semangat dan kerja keras karyawan, tidak luput dari dukungan pasangannya,” kata Josef memastikan. Ia yakin, kontribusi dari sang isteri yang selalu memberikan doa dan dukungan kepada sang suami akan mampu menambah semangat dan konsentrasinya bekerja di Unilever. Begitu pula dengan dukungan suami yang isterinya bekerja di perusahaan ini. “Dengan sepenuh hati sang suami membolehkan isterinya bekerja di Unilever, bahkan sampai pensiun. Itupun merupakan sesuatu yang patut kami hargai dan syukuri,” katanya menambahkan.

Lebih jauh, Josef menyatakan, ada dua alasan yang perlu disyukuri oleh karyawan Unilever. Pertama, mereka bekerja di perusahaan yang diberkahi. Kedua, mereka bekerja bersama dengan karyawan lainnya yang juga diberkahi sebagai keluarga yang saling peduli dan membantu satu sama lain. Jadi, lanjutnya, perusahaan tidak hanya menilai masa kerja karyawan yang panjang, tetapi juga kualitas kontribusi karyawan selama berkarya di perusahaan. Pasalnya, kontribusi karyawan merupakan hal yang sangat penting dihargai seraya mereka tetap menjunjung tinggi etika kerja dan prinsip bisnis. “Untuk itu, kami saling mengingatkan kawan-kawan untuk bekerja dengan standar etika yang tinggi, dan itu yang selama ini kami lakukan,” ujarnya menandaskan.

Di samping itu, Josef menghargai pula dedikasi karyawan yang memasuki masa purna bakti lantaran mereka telah meninggalkan pengalaman dan pengetahuan berharga bagi generasi penerusnya. “Mereka yang muda-muda punya kesempatan untuk belajar dari pendahulu atau senior mereka sehingga ketika pensiun ilmu pengetahuan dan pengalamannya tidak dibawa pergi begitu saja, tetapi akan tinggal di perusahaan ini. Apalagi, bagi karyawan yang baru masuk ke perusahaan ini, mereka perlu pembelajaran,” tuturnya mengenai proses transfer knowledge.

Bagi karyawan yang memasuki masa pensiun, Josef mengharapkan, perlu adanya perubahan mental dari sebelumnya pekerja kantoran lalu akan menjalani kehidupan lain. “Maka itu, lima tahun menjelang pensiun, kami sudah mempersiapkan pembekalan dan pelatihan untuk dia dan pasangannya. Jadi, saya berharap mereka sudah mendapat jalan baru setelah tidak lagi menjadi karyawan Unilever,” ujarnya. Namun, yang terpenting, katanya, mereka harus tetap menjaga kesehatan karena dengan hidup sehat akan membantu kemudahan aktivitas. “Walau banyak duit, tetapi begitu pensiun sakit-sakitan percuma juga, malah akan jadi beban keluarga,” ujarnya mencontohkan.

Josef juga mengungkapkan, berkat darma bakti dan dukungan karyawan yang optimal, pada akhir Juli 2010 Unilever mendapatkan penghargaan tingkat Asia yang menobatkan perusahaan ini sebagai perusahaan idaman. “Artinya, banyak orang yang mau cari kerja, mereka bermimpi atau berharap bisa masuk ke Unilever. Nah, bagi mereka yang sudah bekerja di Unilever, bahkan mereka bisa bekerja lama, sudah semestinya bersyukur karena banyak orang di luar sana yang mengidamkan bisa bekerja dan menjadi bagian dari keluarga Unielever,” katanya memberikan alasan

Dengan terus memiliki rasa syukur, lanjut Josef, karyawan akan melihat pekerjaan bukan sebagai beban. Pekerjaan akan dianggap sebagai bagian dari panggilan hidup karyawan. Dengan cara seperti itu, ia yakin, para talent akan tetap tinggal di perusahaan. “Mungkin manajemen tidak perlu lagi memaksa untuk mengikat para talent agar tetap tinggal di perusahaan, karena dengan melakukan program pemberian penghargaan masa kerja, mereka akan berpikir bahwa perusahaan ini sesuai dengan keinginannya, yakni memberikan nilai tambah dalam kehidupan karyawan,” Josef memastikan. Ia pun berharap, perusahaan yang telah mencapai usia 77 tahun ini mampu melampaui umur yang panjang, sehingga produk-produknya masih bisa dinikmati masyarakat dengan berbagai inovasi baru.

Mengenai konsep acara yang diselingi dengan ajang pencarian bakat, Josef menerangkan, ide itu merupakan hasil kerja sama antarlintas departemen. “Memang acara ini dicetuskan oleh HR, namun dalam pelaksanannya kami selalu bekerja sama dengan departemen lain. Setiap tahun kami selalu mencari tema yang unik, sehingga mereka yang datang dapat sesuatu yang baru dan diharapkan pulangnya akan cerita ke teman-teman atau keluarga,” katanya. Acara yang bertajuk Unilever Mencari Bakat ini memang mengadopsi acara Indonesia Mencari Bakat (IMB) yang sedang ditayangkan di stasiun Trans TV. Bahkan, menariknya, salah satu tim penilainya adalah juri asli IMB, yakni Titi Sjuman.

“Ajang Unilever Mencari Bakat ini diharapkan mampu memberikan inspirasi kepada karyawan untuk menggali bakat-bakat mereka yang terpendam, yang mungkin tidak mereka sadari dalam perjalanan hidup mereka sendiri, sebagai bentuk life balance dalam pekerjannya,” Josef menjelaskan. Pada kesempatan ini, ada lima peserta yang menampilkan karya dan bakat seninya. Misalnya, ada satu keluarga yang terdiri dari ayah dan dua anaknya yang memainkan alat musik bersama-sama. Kemudian, ada karyawan yang mampu membuat modul pelatihan tentang alat mesin di pabrik. Materi tersebut kemudian di-share melalui intranet (website internal perusahaan) agar bisa dipelajari oleh karyawan lain. Semoga kegiatan yang positif ini dapat ditiru oleh perusahaan-perusahaan lain di Indonesia.

Anung Prabowo