Jika Mau Dicintai Bawahan

Nah, cobalah Anda jawab pertanyaan berikut. Sebagai atasan apakah Anda dihormati oleh bawahan? Atau bahkan sebaliknya, malah ditakuti. Apakah kehadiran anda dibutuhkan karyawan ataukah malah “dicuekin”?. Tidak tertutup kemungkinan ada pertanyaan di lingkungan kerja Anda “Who’s the boss?”. Jika selama ini Anda merasa belum menjadi atasan yang baik, lalu apa dan bagaimana sebaiknya yang perlu Anda perbuat?.

Hendrik Lim sebagai consultant leadership and coaching general management training, mengatakan untuk menjadi atasan yang baik, seorang atasan itu dapat bercermin terhadap dirinya sendiri, dengan mengakui segala kekurangan atau kelebihan yang dimilikinya. “Atasan yang baik, atasan yang saat melihat dirinya dalam cermin bisa menerimanya, hanya saat seseorang bisa menerima dirinya sendiri, ia bisa menerima orang lain, dan bagimana kita bisa memimpin orang lain tanpa bisa menerima orang tersebut,” katanya kepada HC awal bulan lalu.

Menurut Hendrik Lim, seorang atasan yang baik itu juga dapat terlihat saat ia dapat menghormati dirinya sendiri, dengan dimulai menghormati apa yang ia ucapkan, dan mempertanggungjawabkan setiap kata yang diucapkan dalam tindakannya. “Karena bagaimanapun juga kita bisa mengharapkan ia (atasan) menghormati apa yang diomongkan kepada orang lain, baik kolega maupun bawahannya, kalau menghormati apa yang ia ucapkan pada diri sendiri saja tidak bisa ia hormati, kalau home works dasar ini saja tidak bisa, yang lain akan omong kosong,” ucapnya.

Sebagai seorang praktisi bisnis entrepreneur di bidang international trade, Hendrik Lim yang kini juga memiliki perusahaan berbasis bisnis tekstil, di PT Grand Elite Textile, menyampaikan agar seorang atasan itu tidak dibenci oleh bawahannya, maka ia harus bertindak profesional, bisa membedakan antara kepentingan pribadi dan profesi.

Diungkapkan lulusan IPB pada tahun 1988 ini, apabila ada anak buah membenci atasannya, hal itu terjadi karena ada yang tidak sama antara yang dilakukan oleh atasan saat sendiri dan saat di depan publik, dan gapnya itu disebut integrity. Kemudian ada yang tidak sama antara apa yang diucapkan dan yang di lakukan, dan gapnya itu bernama teoritis. “Kedua gap itu menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidaksenangan,” kata Hendirk.

Maka untuk menjaga hubungan harmonis antara atasan dan bawahan, Hendirk Lim menyarankan hanya perlu menjelaskan dua hal agar suatu hubungan itu tercipta dengan baik, yakni satu menjelaskan mengapa kita melakukannya (maksud), dan apa yang hendak kita capai dengan melakukannya (tujuan) itu. “Lalu menjelaskan policy-nya tidak bersikap pribadi, jadi siapapun yang memegang posisi tersebut akan melakukan hal yang sama, misalnya keputusan soal PHK. Atas melakukannya karena ia HRD manager, dan siapapun yang duduk di situ akan melalukan hal yang sama,” tuturnya. (ang)