Dekat dengan si Buah Hati di Tempat kerja

Banyak pekerja yang kerap mengeluh karena sulitnya berbagi waktu bersama anggota keluarga, dengan alasan memiliki berbagai kesibukan aktifitas di kantornya. Termasuk dalam hal mengurus anak, dan ini kerap terjadi pada orang tua yang keduanya bekerja. Padahal mereka selaku orang tua menginginkan dapat mengasuh buah hati tanpa harus meninggalkan rutinitas pekerjaan kantor.

Saat keduanya harus bersinergi antara hubungan orang tua dan anak, realisasinya tidaklah mudah. Namun, ketika kantor atau perusahaan sebagai tempat bekerja itu dengan ramah memberikan fasilitas khusus untuk ruang penitipan anak, hal itu mungkin dapat menjadi nafas segar bagi karyawannya, khususnya bagi Ibu yang baru melahirkan.

Layaknya perkantoran, gedung Manggala Wanabakti mestinya tak berbeda dengan gedung perkantoran lainnya, yaitu menjadi tempat orang dewasa bekerja. Akan tetapi, di sudut gedung yang terletak di Jl Gatot Subroto, Senayan, Jakarta Pusat itu akan tampak berbeda, melihat anak-anak balita bahkan bayi justru berduyun-duyun masuk ke ruangan di sudut gedung Departemen Kehutanan itu, yang bertuliskan Taman Bina Balita Sylva.

Meskipun namanya taman untuk balita, Anda jangan membayangkan suasana seperti sebuah taman kanak-kanak pada umumnya. Meskipun tanpa “tanda-tanda” bahwa ruangan itu adalah tempat anak-anak, seperti adanya ayunan dan permainan lainnya, atau halaman berumput yang luas, di sana puluhan anak setiap harinya turut pula ke kantor bersama orang tuanya.

Seperti yang dijelaskan oleh Drg. Budi Surachmanto selaku ketua pengurus harian Taman Bina Balita Sylva, “Supaya karyawati di sini (gedung Manggala Wanabakti, red) juga bisa lebih tenang, jadi nggak sering ijin atau sebagainya. Karena dengan bayinya di sini (Taman Bina Balita Sylva), si ibu sewaktu-waktu bisa nengok (lihat) atau memberi ASI.

Dengan kata lain orang tua tetap bekerja lebih tenang, sambil sekalian mengontrol putra putrinya,” jelasnya kepada HC pada akhir Februari lalu. Hal ini diupayakan pula sebagai wujud menciptakan hubungan sang Ibu dengan buah hatinya menjadi semakin dekat, sebab sebagai pegawai kantor si Ibu dapat bekerja lebih tenang karena tak perlu lagi khawatir akan nasib sang anak, seperti bila ditinggal di rumahnya.

Misalnya pada Susi Kuncoro, Ibu yang bekerja sebagai staf protokol kementerian Departemen Kehutanan, memilih menitipkan Alya, anaknya yang berusia 8 bulan di Taman Bina Balita Sylva, dengan alasan agar dapat melihat perkembangan anaknya sehari-hari. “Saya dan suami juga bekerja, kebetulan sama-sama di Departemen Kehutanan. Dengan adanya tempat penitipan bayi di sini (Departemen Kehutanan), ya otomatis saya sambut dengan gembira, karena ketimbang (daripada) saya tinggalin di rumah dengan pembantu sendirian, tanpa ada pantaun dari keluarga, saya jadi nggak tega,” ucap Ibu yang tingal di perumahan Cipinang itu.

“Di sini (Taman Bina Balita Sylva) kan saya bisa ngasih ASI, saya juga bisa melihat perkembangan anak saya sehari-hari. Saya pun bekerja jadi tenang, karena saya yakin di Taman Bina Balita Sylva ini, di samping ada susternya, ibu-ibu Dharma Wanita Departemen Kehutanan di sini juga sering pantau, ya pokoknya tenanglah ketimbang ditinggal di rumah. Karena saya takut, tahu-tahu anaknya nanti nggak kenal sama orang tuanya lagi,” lanjut Susi.

Tempat penitipan anak menjadi salah satu kelengkapan penting, khususnya untuk kota besar seperti Jakarta. Sebab, semakin banyaknya orang tua yang keduanya bekerja membuat mereka tak leluasa meninggalkan anak di rumah. Keberadaan pembantu rumah tangga atau pengasuh anak memang dapat menjadi jalan keluar, namun tak semua orang tua bisa mendapatkan pengasuh yang cocok dengan anak mereka sesuai keinginannya.

Manggala Wanabakti hanyalah satu dari sedikit gedung perkantoran yang menyediakan fasilitas tempat penitipan anak bagi karyawan yang bekerja di gedung tersebut, maupun kantor-kantor yang berlokasi di sekitarnya. Ketika ada kantor yang justru “alergi” dengan keberadaan anak karyawannya di tempat kerja, sejak Februari 1993 Manggala Wanabakti justru menyediakan tempat penitipan anak, Taman Bina Balita Sylva itu.

Nursery room di Unilever

Menjadi seorang ibu merupakan anugerah tersendiri bagi perempuan. Sementara menjadi ibu bekerja juga kebutuhan hidup sekaligus keasyikan tersendiri. Namun saat melakukan aktifitas menyusui untuk si buah hati kerap menjadi masalah klasik yang dilematis bagi ibu bekerja seusai melahirkan.

Seorang ibu tentunya ingin memberi yang terbaik bagi bayinya, yaitu ASI (air susu ibu). Namun, sering kali “aktivitas mewah” ini menjadi sulit ketika saat cuti melahirkan yang dimiliki ibu bekerja itu habis. Terlebih jika pekerjaan sang ibu tidak jelas waktu dan tempatnya.

Adanya fasilitas ruang menyusui dan fleksibilitas waktu bekerja bagi ibu seusai cuti melahirkan merupakan keputusan perusahaan yang bijak. Kualitas SDM itulah yang juga menjadi titik tolak PT Unilever Indonesia ketika memutuskan menyediakan ruang menyusui bagi karyawan perempuannya. Upaya perusahaan penghasil produk kebutuhan rumah tangga itu dikarenakan kepedulian kepada karyawatinya itu, senada yang dijelaskan oleh External Communications Manager PT Unilever Indonesia Maria Dewantini Dwianto, “Persoalan umum ibu bekerja yang masih menyusui, ketika memerah atau memompa ASI di toilet kantor. Mereka sering kali terpaksa membuang ASI perahan itu karena khawatir dengan faktor higienitasnya. Akhirnya, sang ibu tak bisa membawa pulang dari kantor oleh-oleh ASI perahan untuk bayinya,” kata Mia, panggilan akrabya, sambil menutup perbincangan kepada HC. (ang)