Awas Pelecehan Seksual di Tempat Kerja

Pelecehan seksual (sexual harassment) memang belum lama populer di kalangan masyarakat Indonesia, walaupun istilah tersebut sebenarnya telah ada sejak pertengahan tahun 70-an. Munculnya istilah ini barulah marak seiring dengan kesadaran kaum wanita akan hak dan derajatnya. Hal ini karena masalah pelecehan seksual tidak dapat dipisahkan dari masalah diskriminasi gender.
Di Indonesia, kasus-kasus yang menyangkut pelecehan seksual, baik di perusahaan maupun di rumah tangga memang sudah mulai banyak yang dilaporkan kepada pihak berwajib atau terungkap oleh media massa. Salah satu kasus pelecehan seksual di tempat kerja yang sempat menghebohkan adalah kasus terbongkarnya gambar hasil rekaman seorang pengusaha Warnet di kota Pati, Jawa Tengah yang secara sengaja mengabadikan gambar karyawannya yang sedang mandi di kantor tersebut.
Lain halnya di luar negeri, ‘Karena pelecehan seksual pelatih renang top disidang’. Demikian judul berita yang dimuat dalam detiksport.com tanggal 25 Juli 2002 yang lalu. Menurut berita tersebut pelatih renang yang dimaksud adalah salah seorang pelatih renang paling top di Australia. Ia diduga melakukan tindakan cabul terhadap murid-muridnya dan diancam dengan hukuman penjara paling lama 10 tahun. Dua kasus tersebut merupakan gambaran bahwa pelecehan seksual sungguh-sungguh ada dan terjadi dalam dunia kerja. Meskipun di Indonesia kasus-kasus pelecehan seksual yang dilaporkan kepada pihak berwajib masih sedikit, namun hal itu tidaklah berarti bahwa pelecehan seksual yang dialami oleh para pekerja atau pegawai perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih sedikit jika dibandingkan dengan di negara-negara lain.
Senada yang dituturkan oleh Roosmaya A, Assistant Director of Human Resources Gran Melia Jakarta, “Karena sexual harassment sifatnya hampir sama di seluruh dunia, maka hal tersebut dapat terjadi dinegara manapun,” tuturnya kepada HC pada akhir bulan lalu.
Permasalahannya adalah bahwa para pekerja kita masih enggan melaporkan hal tersebut dengan berbagai alasan, termasuk adanya mitos yang mengatakan bahwa pelecehan seksual merupakan suatu yang biasa terjadi kantor dan tidak perlu dibesar-besarkan.
“Kami tidak dapat mentolerir adanya pelecehan seksual di tempat kerja,” ungkap Roosmaya serius, kalau nantinya ia pun menemukan kasus seperti itu. Menurut wanita kelahiran Moscow, USSR, 27 tahun lalu ini menjelaskan bahwa kasus sexual harassment tersebut akan menjadi tanggung jawab bersama antara manajemen dan pekerja, hal ini demi menjaga lingkungan kerja yang nyaman dan aman kepada setiap orang yang bekerja di perusahaan tersebut. “Karenanya apabila terjadi dugaan suatu pelecehan seksual maka setelah melakukan penyelidikan yang seksama, perusahaan berkewajiban mengambil suatu tindakan tegas kepada pelaku,” jelasnya.
Pemahaman tentang pelecehan seksual memang sudah seharusnya diatur secara rinci. Hal ini amat berguna sebagai bahan pembuktian di pengadilan jika ada korban yang melaporkan. Oleh karena itu amatlah penting untuk membuat definisi tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan pelecehan seksual tersebut.
Secara umum yang dimaksud dengan pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi atau mengarah kepada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran, sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti malu, marah, benci, tersinggung, dan sebagainya pada diri individu yang menjadi korban pelecehan tersebut.  Roosmaya pun menggambarkan batasan pelecehan seksual itu, “Pelecehan seksual dapat dilakukan oleh seorang lelaki kepada seorang perempuan atau sebaliknya. Batasan yang sederhana adalah apabila seseorang melakukan suatu tindakan atau mengucapkan sesuatu kepada seorang lainnya yang membuat pihak yang terkena tindakan tersebut atau mendengarkan ucapan tersebut merasa menjadi tidak nyaman, tidak senang dan tidak aman,” katanya sambil ia pun mencontohkan tindakan colak-colek misalnya.
Bentuk-bentuk perilaku pelecehan seksual yang kerap terjadi dan dikategorikan sebagai pelecehan seksual diantaranya, tingkah laku dan komentar yang berkenaan dengan peran jenis kelamin wanita (gender harassment). Ajakan untuk kesenangan seksual yang tidak dikehendaki dan memaksa namun tidak memiliki sanksi apapun (seductive behavior).
Permintaan untuk melakukan kegiatan seksual atau hal yang berhubungan dengan disertai janji atau imbalan tertentu (sexual bribery). Pemaksaan untuk melakukan hubungan seksual dengan disertai ancaman hukuman (sexual coercion) dan kejahatan seksual dan pelanggaran hukum yang dilakukan secara terang-terangan (sexual assault). Maka untuk mencegah maraknya pelecehan seksual di tempat kerja maka perlu dilakukan berbagai tindakan oleh pihak-pihak terkait, dalam hal ini adalah pihak perusahaan yang diwakili oleh HRD atau manajemen dan pihak individu, karyawan. “Apabila ada laporan dugaan suatu pelecehan maka saya akan meminta keterangan selengkap-lengkapnya kepada si korban dan para saksi kalau memang ada saksi dan kemudian menanyakan hal tersebut kepada orang yang diduga melakukan pelecehan tersebut,” ucap Roosmaya, suatu tindakan yang akan dilakukannya sebagai orang HR.
Mengingat perusahaan pun perlu memulai langkah proaktif untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual di tempat kerja tersebut. Tentunya menurut Roosmaya pun perusahaan sudah saatnya membuat Peraturan Perusahaan ( PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang memuat ketentuan tentang larangan atas pelecehan sesksual itu.
Dengan demikian kata wanita yang sempat mengenyam pendidikan di University of Northern Territory Australia itu, mengatakan setiap pekerja dan pengusaha pun akan mengerti adanya larangan pelecehan seksual dan ancaman hukumannya tersebut. Sehingga tidak akan melakukannya, “Seperti yang telah diterapkan di perusahaan kami, telah dicantumkan dengan jelas ancaman hukumannya di dalam PKB untuk tindakan pelecehan seksual tersebut,” terangnya dengan kepastian.
“Sebaiknya tempat kerja dibuat terbuka sehingga diharapkan setiap orang mengetahui dan melihat apa yang terjadi di sekelilingnya, dan hal ini akan dapat mencegah atau setidaknya membuat calon pelaku itu mengurungkan niatnya,” tutupnya, sambil mengakhiri perbincangan dengan HC. H C (ang)