Amuk Pekerja dan Kecerdasan Manajer

Ribuan buruh galangan kapal di Drydocks Batam mengamuk, meluluhlantakkan infrastruktur pabrik dan membuat sebagian besar pekerja expatriate India diungsikan untuk mencegah cidera fisik. Apa yang membuat kegaduhan itu terjadi?

Jika ditelusuri lebih dalam, peristiwa tersebut terjadi akibat dari perlakuan yang tidak adil. Celakanya, pihak yang terlibat berbeda secara fisik sehingga stereotip rasial ikut bermain dan melipatgandakan kerusakan. Bagaimana mencegahnya agar kejadian seperti itu tidak terjadi di organisasi Anda?

Tindakan manajer dalam kasus Drydocks Batam mungkin terjadi karena ia merasa insecured dengan dirinya. Ada luka batin yang menganga, yang perlu disembuhkan terlebih dahulu. Tanpa pemulihan itu, seorang eksekutif secara tidak langsung mendapatkan rasa aman dan nyaman, dan merasa telah berprestasi kalau bisa menunjukkan kesalahan atau ketololan pihak lain, yang dalam hal ini adalah pekerja.

Memang menggelikan, tapi itulah yang sering terjadi dalam praktik industrial. Orang akan merasa senang kalau bisa tinggal dalam kelemahan orang lain atau kekonyolan situasi di luar. Akibatnya, tipe manajer seperti itu bukannya menjadi aset perusahaan malah menjadi beban liabilitas bagi korporasi baik secara fisik maupun retaknya hubungan industrial.

Inilah salah satu potret hubungan industrial kita. Banyak korporasi yang gagal menjadi medium yang memberikan kesempatan kepada para pekerjanya untuk menemukan hidup yang penuh arti alias bermakna. Karena itu, diperlukan manajer yang cerdas untuk membangun kompetensi tersebut.

Setiap orang akan bisa tersulut kalau ia secara mental tidak merasa memiliki terhadap tempatnya bekerja dan tidak terlibat di dalamnya. Dan, itu terjadi bila standard perlakuan industrial yang diterapkan adalah template yang sudah usang. Misalnya, masih banyak orang yang berpikir dengan konsep zaman industri dan menganggap pekerja sebagai suku cadang dari organisasi. Istilahnya hanya orang sewaan (hired), bukan disiapkan untuk memiliki (sense of ownership). Jika perusahaan sedang perlu disewa (hiring), dan jika sudah tidak diperlukan maka dibuang (fired).

Kalau orang secara mental merasa memiliki perusahaan di mana ia bekerja dan terlibat di dalamnya, ia akan bekerja habis-habisan. Meskipun lelah secara fisik, tetapi hatinya senang. Pikiran dan perasaannya akan bergairah, karena telah memberikan kontribusi. Ada perasaan meaningful sebagai pekerja. Dampaknya terhadap organisasi akan positif. Produktivitas akan meningkat dan initiatif juga melonjak. Organisasi dan korporasi akan memiliki daya saing yang tinggi, menghasilkan profit, dan sanggup memberikan kompensasi yang menggiurkan. Pemilik pun pasti senang mendapat deviden dan melihat organisasinya tumbuh menjadi medium untuk meningkatkan harkat hidup dan mencapai tujuan bisnis. Sedangkan korporasi yang gagal menjadi medium adalah, jika tidak mampu mewujudkan visi dan misinya.

Mungkin Anda berpikir, hal itu tidak logis, kurang ideal dan tidak masuk akal secara bisnis. Bagaimana dengan tujuan utama bisnis, yaitu untuk memperoleh profit yang sebesar-besarnya?

Profit hanya sebuah konsekuensi logis. Kalau organisasi mampu mewujudkan visi dan misinya, maka profit pasti datang dengan sendirinya. Sebaliknya, kalau tidak memahami cara berpikir seperti itu, meskipun di palang pintu tertulis: ”we must make profit” besar-besar, perseroan belum tentu untung, malah kemungkinan bangkrut.

Saya teringat seorang teman, Thio Tjoen Hok. Dia adalah manajer di learning center PT United Tractor, anak perusahaan PT Astra International Tbk. Salah satu misi organisasi mereka di antaranya: menciptakan peluang bagi insan perusahaan untuk meningkatkan status sosial dan aktualisasi diri melalui kinerjanya. Mereka juga bertekad membantu pelanggan meraih keberhasilan melalui pemahaman usaha yang komprehensif dan interaksi berkelanjutan. Sungguh suatu misi yang amat baik. Sebagai konsekuensinya organisasi ini makin sehat dan menghasilkan profit yang membuat para investor tersenyum.

Membaca konsep di atas, seorang teman, Mas Adhi, yang juga salah satu direktur penerbitan di Kelompok Kompas Gramedia mengatakan, ”Wah, sampean makin lama makin ’vertikal’ saja.” Mungkin Mas Adhi benar. Tetapi, saya justru merasa makin ’horizontal’. Menurut saya, hidup yang ’cuma numpang lewat ini’ harus menjadi medium untuk rahmat dan berkah bagi orang lain. Kata senior saya di IPB, Paulus Bambang, organisasi dan korporasi harus menjadi ’Built to Bless’. Namun tanpa kerinduan, pemahaman dan empati, organizasi akan berubah menjadi ’Build to Blast’. Meledak jadi debu.