7 Kualifikasi Karyawan Loyal yang Sesungguhnya

Seorang karyawan dikatakan loyal bukan karena dia patuh, bukan karena dia mengabdi tanpa syarat atau karena masa kerjanya yang sudah sangat lama di perusahaan. Memang cukup mengejutkan, tetapi jika kita harus memilih di antara dua pilihan berikut.

– Karyawan yang sudah bekerja selama 10 tahun, tetapi tidak melakukan improvement yang berarti. Ia hanya mengerjakan apa yang menjadi tugasnya tanpa menambahkan value added dan asal selesai.

– Karyawan yang baru bekerja selama 18 bulan tetapi percaya pada misi kita dan berkomitmen untuk membantu kita mencapai tujuan tersebut, serta membuktikan hal tersebut dengan aksi nyata setiap harinya.

Maka, pilihan terakhirlah yang lebih mewakili karakter seorang karyawan loyal. Selain dapat dilihat dari kesungguhan si karyawan dalam menyukseskan goal organisasi, loyalitas karyawan juga dapat diamati dari perilaku sehari-hari, antara lain seperti dikutip dari blog Dharmesh Shah linkedin.com berikut:

1. Mereka memperlihatkan loyalitas dengan integritas

Sebagian orang mungkin berpikiran bahwa karyawan  loyal adalah mereka yang patuh tanpa syarat apapun, dan bersedia melakukan segala hal, baik itu karena kebijakan atau atas keinginan atasan. Bahkan adakalanya karyawan-karyawan tersebut tidak menolak ketika diminta melakukan hal-hal yang kurang etis.

Karyawan loyal cenderung akan melakukan hal yang benar yang berdampak positif pada perusahaan. Tidak hanya berdasar pada kepentingan pribadi tetapi pada kebaikan perusahaan jangka panjang. Mungkin bagi kita sebagai atasan, mereka tidak terlihat seperti karyawan yang loyal. Tetapi sesungguhnya dialah yang akan mengarahkan kita pada pemahaman “do the right thing (melakukan hal yang benar)” dan menghindarkan kita dari sekedar “do it right now (kerjakan sekarang)”

2. Mereka akan mendorong proses diskusi

Tidak sedikit karyawan merasa malas untuk mengutarakan  pendapatnya dalam sebuah meeting. Pun dalam situasi private, mereka masih malas berbicara. Karyawan loyal menunjukan hal yang berbeda.

Dalam sebuah meeting, ia mungkin akan menanyakan kembali ide-ide kita di depan umum padahal sebetulnya ia sudah tahu dan bahkan terlibat sebagai tim. Ia melakukan itu agar orang semua orang dalam rapat menyadari adanya program tersebut, lepas mereka terlibat atau tidak. Loyal adalah ketika karyawan kita peduli dengan isu-isu penting perusahaan. Ia memahami benar bahwa untuk membuat perusahaan sukses, kita perlu tahu apa saja pemikiran orang lain dan mereka mengerti pemikiran kita.

3. Mereka suka memberikan penghargaan kepada koleganya.

Loyalitas karyawan dilihat dari kepeduliannya terhadap misi perusahaan. Dan ia akan menghargai upaya rekan kerjanya, sepanjang itu berdampak positif bagi perusahaan. Karyawan yang memberikan hadiah atau bentuk recognition lain terhadap rekan kerjanya, bisa dikatakan memiliki interpersonal skill yang bagus. Penghargaan dari boss terasa hebat, tetapi penghargaan dari teman kerja sendiri akan terasa spesial dan luar biasa.

Penghargaan yang ia berikan kepada rekan kerjanya adalah bentuk kepedulian. Dan peduli adalah basis dari loyalitas.

4. Mereka menunjukkan sikap tidak setuju.

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang memberi kesempatan untuk opini penolakan, penyanggahan, maupun tidak setuju atas sebuah keputusan. Dengan adanya bantahan, keputusan yang  diambil secara tidak langsung justru akan terkoreksi dan menjadi semakin baik.

Karyawan yang loyal akan tetap mengemukakan pendapatnya meskipun ia tahu akan adanya risiko penolakan. Ia menginginkan perusahaan untuk menjadi lebih baik ke depannya. Dan itulah yang membuat mereka berani keluar dari sudut pandang yang sudah dianggap benar oleh mayoritas orang.

5. Mendukung Ketetapan yang sudah diputuskan

Seorang yang loyal terhadap organisasi akan tetap menjalankan keputusan yang telah disepakati bersama meskipun itu bertolak belakang dengan pemikirannya. Ia akan melakukannya dengan sepenuh hati seolah-olah itu keputusannya sendiri.

Karyawan yang tidak loyal biasanya akan menjadi pasif dan berharap bahwa keputusan tersebut gagal untuk membuktikan bahwa dirinya benar.

6. Memberitahukan kepada kita hal-hal yang mungkin tidak ingin kita dengar

Dalam sebuah perusahaan, biasanya semakin jauh jabatan secara hirearki, akan semakin jarang orang beradu pendapat. Apalagi seorang entry-level, akan lebih nyaman untuk berbicara dengan supervisornya. Untuk itulah, seorang karyawan mejadi pasif ketika ada ketetapan direktur yang sebetulnya tidak ia setujui.

Menghadapi situasi tersebut, karyawan yang sungguh-sungguh loyal akan mencari cara untuk memberitahukan kabar apapun yang atasannya perlu tahu, pun seandainya itu adalah kabar buruk. Misalnya saja, kebijakan justru merugikan, complain dari karyawan atau sistem yang tidak bisa dijalankan. Meski mungkin atasan tidak ingin mendengar berita buruk semmacam itu, karyawan loyal yakin bahwa sebtulnya mereka perlu mengetahui hal-hal tersebut untuk kebaikan perusahaan.

7. Mereka akan Resign, ketika memang harus meninggalkan perusahaan

Karyawan yang loyal hampir selalu menjadi karyawan sensational dan memiliki performa bagus. Namun satu hal yang harus kita ingat adalah kita harus dengan senang hati melepaskannya ketika ia resign. Biasanya, karyawan-karyawan  semacam ini akan pergi ketika memang ia memiliki kesempatan berkembang lebih baik pada perusahaan lain. Ia ingin mencari pengalaman di bidang yang lain.

Kita akan kecewa, itu pasti. Hanya saja, kita tidak perlu risau. Karyawaan loyal akan mempersiapkan segalanya sebelum pergi. Ia akan memastikan bahwa perusahaan akan tetap berjalan lancer tanpa dia. Pun ketika sudah bekerja di tempat lain, ia akan memprioritaskan perusahaan kita dan merekomendasikan kita untuk kerja sama yang menguntungkan perusahaan.

Tags: ,