Menangis di Tempat Kerja, Bolehkah?

crying

Entah itu karena ada sesuatu yang terjadi dengan keluarga, perlakuan yang tidak adil dari atasan, bahkan kesenangan karena berhasil mencapai target, terkadang keinginan untuk menangis di tempat kerja tidak dapat tertahankan. Pertanyaannya, bolehkah?

crying

Perbedaan biologis dan stereotip sosial mendikte bagaimana suatu individu harus bereaksi ketika melihat orang lain bersedih atau melihat orang lain menangis. YouGov melakukan survey terhadap 1.000 orang dewasa di Amerika Serikat mengenai perilaku menangis dan persepsi mengenai apakah pantas jika seseorang menangis.

Wanita dilaporkan lebih diterima jika menangis di depan umum dibandingkan pria. Meskipun begitu, baik wanita ataupun pria mengatakan bahwa wajar saja jika pria ataupun wanita menangis di depan umum.

Sebanyak 80% pria dan 84% wanita menyatakan bahwa menurut mereka wajar jika wanita menangis di depan umum. Sedangkan sebanyak 66% pria dan 78% wanita menyatakan bahwa wajar jika pria menangis di depan umum. Perbedaan pendapat antar jenis kelamin ini juga berbeda mengenai kepantasan pria menangis di depan umum. Hanya 12% wanita yang menyatakan bahwa tidak pantas seorang lelaki menangis di depan umum. Sedangkan menurut 21% pria tidak seharusnya pria menangis di depan umum.

Ketika air mata sudah tidak dapat terbendung, resiko sosial dan professional yang dikaitkan dengan pekerjaan akan memberikan dampak bertubi-tubi. Ketika Anda mulai menangis di meja, atau ketika sedang curhat dengan rekan kerja, terlepas dari apa yang membuat Anda menangis, Anda perlu mengingat bagaimana orang lain akan menilai Anda.

Ketika Anda menangis, muka sembab Anda akan mengganggu konsentrasi rekan kerja Anda. Meskipun begitu orang lain akan mencoba untuk menenangkan Anda atau memberikan Anda waktu untuk merefleksikan diri.

Pada dasarnya menangis merupakan salah satu bentuk luapan emosi yang harus dikeluarkan. Namun alangkah lebik baiknya jika tangisan Anda bersifat sewajarnya dan tidak berlebihan. (*)