Bolehkah Pacaran di Tempat Kerja?

Di antara kita mungkin ada yang pernah menonton sebuah drama komedi romantis yang cukup popular berjudul “ATM Errak Error”. Di film garapan Negara Thailand tersebut, si tokoh utama bekerja pada sebuah perusahaan yang melarang karyawannya menjalin hubungan asmara atau berpacaran dengan rekan kerja dalam satu perusahaan.  Pernahkah Anda membayangkan bahwa peraturan semacam itu ada di dunia nyata? Lalu baik atau burukkah hal ini jika dilihat dari sudut pandang pemberi kerja?

Berpacaran di lingkungan tempat kerja, oleh beberapa ahli ketenagakerjaan dipandang sebagai gagasan yang tidak baik. Meskipun demikian, berdasarkan survey dari CareerBuilder 2013, sebanyak 40% pekerja di Amerika berpacaran di tempat kerja. Kesimpulan tersebut diambil karena hubungan percintaan berpotensi menimbulkan tegangan dan aktivitas pacaran yang diumbar (Office Display of Affection) akan membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Peraturan dalam bercinta

Tidak semua perusahaan cukup perhatian dengan masalah romansa yang terjadi di lingkungan kerja mereka. SHRM pernah melakukan survey pada 617 perusahaan yang menjadi anggotanya mengenai hal ini. Dari survey tersebut, didapatkan hasil bahwa 72% responden tidak memiliki peraturan tertulis terkait dengan hubungan percintaan karyawan di perusahaannya, 14 persen tidak memiliki peraturan tertulis sedangkan 13 persen mengatakan bahwa mereka memiliki peraturan tertulis.

Terdapat perusahaan yang secara gamblang melarang adanya hubungan asmara di tempat kerja. Hanya saja peraturan tentang hubungan special semacam itu sulit untuk diimplementasikan. Karyawan akan tetap berhubungan jika ada rasa suka dan hubungan tersebut akan tertutup rapat jika mereka tidak menunjukkan kemesraan di tempat kerja. Hal semacam itu sebenarnya justru akan berdampak buruk pada produktivitas karena fokus mereka lebih pada menutup-nutupi hubungan percintaan antar karyawan.

Dalam sebuah ulasan di situs about.com, diungkapkan beberapa tips yang dapat dilakukan oleh praktisi SDM menyikapi adanya romansa di tempat kerja ini:

Baca juga: Separuh Wanita Alami Pelecehan di Tempat Kerja

1. Mengadakan training tentang romansa di tempat kerja

Training diperlukan bagi para supervisor dan manager agar mereka mengerti bagaimana cara mengatasi masalah romansa ini dengan cukup rapih. Mereka bisa memberikan bimbingan ketika dijumpai karyawannya menjalin hubungan yang lebih dari teman dengan kolega. Training ini menjadi lebih penting jika hubungan tersebut terjadi antar karyawan sesama jenis, karena dampak yang ditimbulkan akan menjadi lebih parah. Mereka akan menjadi bahan omongan karena hubungan semacam itu masih diberi stigma negatif oleh masyarakat.

Hubungan asmara di dalam lingkungan kerja biasanya menjadi bahan gosip oleh para karyawan. Untuk itulah, selain memberikan bimbingan kepada pasangan yang terkait, supervisor juga harus membuka telinga dan mendisiplinkan karyawan sehingga gosip tersebut tidak merusak produktivitas kerja.

2. Komunikasikan kepada semua stakeholder kebijakan mengenai Pelecehan Seksual

Perusahaan seharusnya peduli dengan isu pelecehan seksual di tempat kerja. Kepedulian tersebut termasuk memberikan aturan yang tegas tentang konsekuensi dari tindakan pelecehan jika itu dilakukan oleh karyawan. Untuk menegaskan bahwa perusahaan tidak akan memberikan toleransi pada tindakan pelecehan, peraturan tersebut hendaknya ditulis dalam buku panduan yang dipegang oleh setiap karyawan. Dalam peraturan tersebut, ditulis pula mengenai sanksi yang akan diberikan perusahaan pada pelaku pelecehan.

4. Membuat Kebijakan yang tepat tentang Hubungan Istimewa antar Karyawan

Langkah terakhir yang perlu dilakukan oleh HRD adalah secepatnya bertindak apakah mereka akan membuat peraturan tertulis tentang romansa ini atau tidak. Dari hasil study yang dilakukan SHRM, melarang orang memiliki hubungan percintaan di kantor tidak disarankan. Peraturan tersebut terlalu ekstrim. Untuk menyiasatinya, peraturan bisa dibuat spesifik, yakni melarang manager atau atasan berpacaran dengan anak buah yang langsung memberikan laporan ke mereka. Alasannya yang paling logis untuk peraturan ini adalah untuk menjaga profesionalitas di tempat kerja.

Bersama peraturan tersebut, kita juga perlu mengatakan bahwa karyawan seharusnya bisa memisahkan antara kepentingan pribadi atau asmara dengan urusan pekerjaan di kantor. SHRM melalui survey yang dilakukannya mendapati bahwa hanya 12% dari perusahaan respondennya yang menerapkan peraturan tentang romansa di tempat kerja ini.

Baca juga: “Bullying” di Kantor Lebih Merusak Ketimbang Pelecehan Seksual

 

Tags: ,