Bagaimana Social Media Mengubah HR

jessica-color-150x150

Selama bertahun-tahun, revolusi besar-besaran terjadi di dunia ini, termasuk salah satunya teknologi. Inovasi terbesar yang menjadi pembicaraan masyarakat dunia sampai sekarang adalah social media. Dengan perubahan tersebut, siap atau tidak, perusahaan juga harus beradaptasi dalam seluruh sistem pelaksanaan bisnisnya.

Dua departemen yang langsung memberikan reaksi pada perubahan tersebut tentunya marketing dan IT. Departemen IT biasanya akan mengambil langkah blocking situs-situs social yang dirasa akan mengganggu konsentrasi karyawan. Sedangkan departemen marketing, mereka menemukan cara dan media baru untuk menggaet lebih banyak pelanggan.

Lalu bagaimana dengan departemen Human Resources (HR)? Bagaimana seharusnya departemen HR menanggapi tren ber-social media tersebut? Kenyataannya, departemen HR memang harus menjadi  salah satu yang perlu beradaptasi dengan social media. Departemen HR tidak hanya menjadi pengawas dari kebijakan perusahaan ataupun prosedur (SOP), tetapi lebih krusial lagi adalah mengawasi kinerja karyawan. Dengan munculnya social media, tingkah polah karyawan tidak lagi sepenuhnya dapat dikontrol oleh mereka.

Menurut Jessica Miller-Merrell, SPHR, seorang konsutan HR sekaligus new media strategist, praktisi harus menyadari bahwa social media telah mengubah 3 hal secara fundamental:

1. Komunikasi antar karyawan

Sebelum social media merajai dunia kerja, komunikasi antar karyawan dilakukan dengan cara konvensional, misalnya dengan meeting, email, memo, atau email internal kantor. Segala macam bentuk perubahan, pemberitahuan perusahaan diumumkan dengan cara yang sama. Semuanya hampir dapat dikontrol, dapat diprediksi dan aliran komunikasi jelas. Sedangkan dengan social media, segala bentuk pengumuman dapat disampaikan kepada semua orang hanya dengan update di twitter atau facebook. Departemen HR tidak perlu mendatangi orang per orang untuk memberikan pengumuman, melainkan dengan sekali ketik di komputer.

2. Aspirasi Karyawan

Sebelum social media populer, perusahaan mengandalkan kotak saran untuk menampung kritik, saran maupun aspirasi karyawan. Employee hotline dan pertemuan personal juga menjadi sarana untuk menjaring aspirasi karyawan. Kini, dengan adanya social media, blog, forum online, karyawan dapat dengan mudah sharing mengenai unek-unek mereka, aspirasi, saran maupun kritik bagi perusahaan. Tetapi, kelemahannya tentunya adalah makin sulitnya departemen HR melakukan kontrol terhadap perilaku para karyawan.

3. Employer Branding

Social media memberikan inovasi dalam hal perekrutan bagi departemen HR. Kini, seperti halnya marketing dan Public Relation, social media adalah perpanjangan tangan bagi departemen HR. Bedanya, jika marketing menginginkan konsumen, HR menginginkan kandidat.

Social media telah mengubah HR, untuk itu perlu sekali bagi praktisi HR untuk mengekplorasi strategi-strategi baru yang dapat memfasilitasi hal tersebut. Sehingga, kemunculan social media, bukan dianggap sebagai sesuatu yang merugikan tetapi justru inovasi baru yang dapat mempermudah pelaksanaan kinerja HR.

Tags: ,