Bagaimana Bertahan dalam Lingkungan Kerja yang Represif?

Kita tidak selalu beruntung mendapatkan tempat kerja yang menyenangkan. Bahkan, tidak jarang kita harus bekerja dengan partner yang membuat kita merasa tertekan setiap saat berada di tempat kerja. Jika kamu menjawab “ya” untuk salah satu pertanyaan ini, mungkin kamu adalah salah satu yang mengalami masalah tersebut:

– Apakah kamu tidak suka bekerja tiap harinya?

– Apakah kamu mengerjakan dua atau tiga pekerjaan tetapi hanya dibayar untuk satu saja?

– Apakah hasil kerjamu tidak dihargai?

– Apakah seseorang berteriak atau membentakmu?

– Pernahkah kamu meminta bantuan tetapi tidak ada seorang pun yang peduli?

– Apakah kamu pernah diminta berbohong dan kemudian kamu yang disalahkan?

– Apakah kamu pernah disuruh untuk memalsukan laporan?

– Apakah kamu mendapatkan pelecehan seksual?

– Apakah kamu pernah menerima diskriminasi karena jenis kelamin, ras, agama dan lain-lain?

– Apakah pernah terjadi tindakan kekerasan atau mendapat ancaman di tempat kerja?

Terdapat beberapa jalan keluar untuk bertahan dalam lingkungan kerja yang menekan dan tidak kondusif. Namun, sebuah solusi tepat atau tidaknya akan tergantung pada situasi yang sedang kita hadapi. Berikut adalah salah satu contohnya.

Di tempat kerja, kamu memiliki teman bernama Paula yang memiliki watak passive-agresive. Artinya, dia bersikap menjengkelkan dalam kepasifannya. Misalnya saja ketika kiriman dokumen penting untuk kita sudah sampai dan dia tidak memberitahukannya kepada kita sehingga kita mengikuti meeting dengan kondisi yang tidak siap. Sikapnya sneaky, tidak terdeteksi dan selalu berusaha untuk menjatuhkan kita di depan atasan atau orang yang berkesan untuk kita. Sebelum mengambil tindakan yang tepat, kita perlu mengetahui penyebab seseorang bersikap seperti itu. Seseorang memiliki watak passive – aggressive bisa disebabkan karena dia menahan perasaan marah di dalam hati. Bisa juga karena ia memiliki orang tua yang controlling, yang menanamkan pemahaman bahwa marah-marah bukanlah sikap seorang perempuan yang terpuji. Ia menggunakan kita sebagai pelampiasan karena dia memiliki power untuk itu atau pengalaman yang lebih banyak tentang pekerjaan kita.

Untuk menghadapi orang seperti itu, menghindar bukanlah pilihan utama. Justru kita harus memberanikan diri untuk berkonfrontasi langsung. Kita sampaikan secara terus terang dan sopan bahwa kita sudah mengetahui taktiknya untuk merusak reputasi kita. Mungkin ia akan berkilah, oleh karena itu, penting bagi kita untuk mencatat atau mengingat baik-baik perlakuan kurang menyenangkan yang pernah ia lakukan terhadap kita. Ungkapkan pula bahwa kita lebih suka jika ia memperingatkan kesalahan kita secara langsung, bukan justru menyabotase di depan publik. Selanjutnya, tawarkan solusi bagi dirinya. Sampaikan kepadanya apabila ia memiliki masalah atau perasaan yang membuat dia tertekan, ia bisa bercerita kepada kita. Dan perlu diingat bahwa dalam mengungkapkan hal-hal di atas, kita harus menggunakan bahasa yang halus, sopan dan tidak sedang emosi.

Jika solusi tersebut masih belum juga dapat mengubah keadaan, ada beberapa langkah yang dapat kita ambil seperti dilansir dari management-issues.com,

1. Mintalah untuk dipindah ke departemen lain atau ganti atasan,

2. Kita bisa minta bantuan pengacara untuk menulis surat komplain atas perlakuan tidak menyenangkan di tempat kerja kepada Departemen HR atau legal department. Menyatakan bahwa apabila masalah tersebut tidak segera ditangani, kita akan membawanya ke ranah hukum. Biasanya perusahaan tidak senang ketika harus berurusan dengan pengadilan sehingga akan segera menanggapi.

3. Jika cara tersebut tidak juga berhasil, kita dapat membawa masalah ini ke pengadilan tertinggi atau Mahkamah Agung untuk diproses sesuai hukum bisnis yang berlaku.

4. Terakhir, jika memang hal tersebut gagal, kita bisa menghubungi media lokal untuk meliput kejadian tersebut. Tentunya kita pun harus siap dengan risiko yang mungkin terjadi dari solusi-solusi tersebut apalagi jika sudah masuk ke pemberitaan nasional.

Tags: , ,