7 Mitos Wanita di Tempat Kerja

Sebuah riset terbaru memaparkan bahwa beberapa konvensi tentang etos kerja perempuan sebagai seorang pimpinan bisnis adalah mitos belaka.

Perempuan sering dicap tidak cakap untuk menjadi pimpinan sebuah perusahaan, salah satunya karena masalah anak. Namun jika Anda pernah berkenalan dengan CEO dari Newton Investment Management, Helena Morrissey, dia adalah ibu dari 9 anak yang berhasil memimpin perusahaan yang mengelola dana sebesar 88 miliar USD saat ini.

Sembilan memang angka di atas rata-rata untuk menyatakan jumlah anak yang dimiliki seorang perempuan dewasa ini. Namun, Morrissey menegaskan bahwa anggapan masyarakat tentang perempuan di dalam bisnis, tidak berkorelasi dengan realita yang dialami perempuan di tempat kerja. Ya meskipun Morrissey memiliki babysitter dan suaminya tinggal di rumah, tetapi ia tetap yakin bahwa merawat anak bukanlah sebuah hambatan untuk mendapatkan posisi puncak di perusahaan. Keyakinan tersebut terjawab oleh sebuah riset yag baru-baru ini diadakan Morrissey’s 30% Club, sebuah organisasi yang berkomitmen untuk memajukan manajer perempuan di UK. Studi yang dilakukan di US di sebuah acara di kantor Bloomberg New York tersebut membuahkan beberapa hasil yang menunjukkan bahwa beberapa anggapan tentang posisi perempuan di tempat bisnis tidak benar adanya. Berikut adalah hasil dari penelitian yang dilakukan pada 10,000 responden dan wawancara mendalam dengan 100 top executive tersebut:

Baca juga: Anda Wanita Sendiri dalam Tim? Don’t Worry!

1. Mitos: Merawat anak dapat menghentikan langkah perempuan untuk mencapai posisi puncak

Realita: Kesibukan merawat anak memang berdampak bagi karir, tetapi dampaknya jauh lebih ringan dari apa yang kita bayangkan selama ini. Perempuan masih tetap mendapatkan promosi meskipun peluangnya lebih kecil dibandingkan laki-laki. Riset menunjukkan bahwa 38% dari responden pria mendapatkan promosi lebih dari 5 kali dari perusahaan, sedangkan hanya 29% perempuan mendapatkan kesempatan itu.

2. Mitos: Perempuan jarang sampai pada posisi puncak karena kurang percaya diri

Realita: Perempuan cenderung memperhitungkan tentang risiko yang akan didapat dari langkah yang mereka ambil. Oleh karena itulah mereka lebih percaya pada realitas atau realistis. Hal ini mengesankan bahwa mereka tidak percaya diri. Padahal menurut riset, tidak ada perbedaan dalam hal jumlah loncatan dan kemajuan karir antara pria dan wanita.

3. Mitos: Perempuan tidak memiliki ambisi untuk mengambil peran pada senior leadership

Realita: Meskipun pada kenyataannya di UK, pria memiliki kecenderungan 4,5 kali lipat untuk mencapai posisi eksekutif dibanding perempuan, tetapi aspirasi yang dimiliki perempuan tidaklah berbeda dengan laki-laki. Mereka juga memiliki keinginan yang sama untuk memiliki karir yang tinggi. Bahkan, baik pria maupun wanita memiliki dua top criteria yang sama dalam meraih kesuksesannya, yakni melakukan hal yang memang menarik dan memiliki hubungan kerja yang positif terhadap sesama.

4. Mitos: Perempuan tidak gigih dalam mencapai keinginannya meraih posisi puncak

Realita: Riset sama sekali tidak menemukan bukti bahwa perempuan memiliki kecenderungan lebih besar untuk menyerah dalam karir. Hanya saja, perempuan di posisi satu atau dua level di bawah eksekutif memiliki peluang promosi internal dua kali lipat lebih kecil dibandaingkan perempuan di posisi eksekutif.

5. Mitos: Perempuan kurang memiliki kualitas untuk menjadi seorang top leader

Realita: Dari hasil survei yang mengungkap mengenai perilaku kepemimpinan, terlihat bahwa laki-laki maupun perempuan memimpin dengan cara yang sama. Di sisi lain, survei tersebut juga mengatakan bahwa kekuatan dari gaya kepemimpinan laki-laki (pemikiran analitis dan ketajaman komersial) dihargai dalam proporsi yang berlebih oleh perusahaan.

6. Mitos: Pimpinan perempuan yang sudah senior enggan membantu perempuan lain di level bawahnya

Realita: Dari semua pemimpin perempuan, mayoritas menginginkan adanya keberagaman gender pada kandidat-kandidat potensial mereka. Ketika sebagian memang tidak merasa cocok untuk mengajari/membimbing perempuan lain, mayoritas pemimpin bisnis perempuan mengaku senang melakukan mentoring terhadap staff/pegawai perempuan di level yang lebih rendah.

7. Mitos: Adanya fleksibilitas dalam kerja formal memudahkan kaum perempuan menggapai posisi puncak

Realita: Tidak selalu demikian. Adanya fleksibilitas kerja seperti work at home, telecommuting tidak berkorelasi secara signifikan dengan kesuksesan karir wanita di tempat kerja. Justru kesepakatan-kesepakatan informal dengan manajer yang berlandaskan pada mutual trust lebih membantu perempuan mencapai level top di perusahaan.

Baca juga: Separuh Wanita Alami Pelecehan di Tempat Kerja

Tags: , , ,