6 Langkah Membuat Pegawai Menjadi Fans dari Bisnis Anda

Setiap CEO pastinya menginginkan orang-orang yang mampu memberikan upaya terbaik bagi perusahaannya. Namun idealnya, Anda tidak hanya membutuhkan orang-orang yang bisa mengerjakan sesuatu dengan baik, tetapi seorang fans sejati bagi bisnis Anda.

Selayaknya fans yang menggemari salah satu tim sepak bola, mereka bukan hanya menyukai tim tersebut, tetapi juga menjadikan tim tersebut identitas. Jika seseorang menjadi fans dari perusahaan atau organisasi Anda, maka mereka juga akan melakukan hal yang sama. Sehingga bukan tidak mungkin jika pada akhirnya, akan ada fanbase untuk perusahaan yang Anda bangun. Pertanyaan selanjutnya, dapatkah kita menjadikan karyawan kita sebagai fans dari bisnis kita? Kash Razzagi, CEO dari Franced, sebuah social network bertema olahraga dengan pekembangan sangat pesat secara global, berbagi tips untuk mengubah karyawan menjadi fans melalui situs entrepreneur.com, berikut ini:

1. Yakin pada misi dari organisasi kita

Jika Anda tidak pernah memperlihatkan dan secara konstan meneguhkan misi tersebut, tidak mungkin Anda bisa berpura-pura memahami misi tersebut di depan stakeholder. Sebagaimana diungkapkan oleh Razzaghi, “Anda harus terlibat dalam misi tersebut dan menunjukkan komitmen Anda kepada semua orang di perusahaan. Passion yang Anda tunjukkan akan menurun ke anak buah sehingga mereka terinspirasi untuk bekerja bukan hanya semata-mata karena gaji, tetapi meraih tujuan yang diinginkan perusahaan.”

Baca juga: Berterimakasihlah pada Karyawan Dengan 4 Cara Berikut

2. Bersikaplah transparan

Transparansi menjadi salah satu strategi yang penting dalam mengelola perusahaan. Setiap bagian dari perusahaan seharusnya mengerti apa yang tengah dihadapi perusahaan dan tahu hal-hal seperti apa yang dapat mereka lakukan untuk membantu meningkatkan performa perusahaan. Ketika seseorang memahami apa dampak positif dari kontribusinya kepada perusahaan, maka komitmennya pun akan semakin menguat.

3. Buat setiap karyawan merasa memiliki organisasi tersebut

Razzaghi mengatakan, “tujuan utama strategi saya adalah membuat karyawan merasa bahwa Fancred adalah perusahaannya sendiri dan mengerti bahwa saya sangat mengandalkan mereka.” Ia menambahkan bahwa adanya ownership membuat karyawan tidak merasa ketakutan untuk melakukan kesalahan katena mereka tahu bahwa mereka didukung oleh atasan.

4. Berikan masa percobaan

Alih-alih merekrut talent dengan berbagi rangkaian interview, Fancred justru memulainya dengan menawarkan kontrak kepada calon karyawan. Mereka diberi kesempatan untuk bekerja selama tiga bulan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa mereka memang orang cocok bagi perusahaan. Namun, dengan sistem kontrak tersebut, bukan tidak mungkin masalah akan timbul karena kebanyakan orang belum tentu mau meninggalkan pekerjaan sebelumnya hanya untuk sebuah kontrak tiga bulan. Namun Razzaghi berkilah, “Sejauh ini tidak ada masalah. Orang-orang yang kita rekrut biasanya memang menunjukkan keterampilan yang mengesankan dan menambah nilai tambah bagi tim di perusahaan kami.”

5. Fokus pada satu hal hebat

Ketika melakukan rekrutmen, Fancred tidak menitikberatkan pada banyaknya keterampilan yang dimiliki oleh talent. Sebaliknya, perusahaan justru mencari seseorang yang datang dengan satu buah keterampilan yang sangat ia kuasai atau bisa dikatakan ahli.

6. Hilangkan hambatan Kerja

Karena sangat fokus pada satu keahlian menjadi prioritas, maka Razzaghi mencoba untuk semaksimal mungkin menghilangkan penghambat-penghambat yang melambatkan kinerja anak buahnya. Salah satu langkah yang ia lakukan adalah menghilangkan mikro manajemen. Ia menginginkan ketika anak buahnya memiliki ide dan hendak mengeksekusi ide tersebut, ia tidak perlu meminta persetujuan dari banyak pihak.

Baca juga: Engagement Karyawan Bergantung pada Sikap Pimpinan 

Tags: