49% Ibu Hamil Terdiskriminasi di Kantor

Peluang untuk kenaikan jabatan ditunda, tugas-tugas penting dialihkan ke orang lain, manager akan menyuruh Anda untuk datang bekerja dan “membawa ember” untuk mengatasi morning sickness  Anda. Ini hanya sebagian kecil hal yang dihadapi oleh para ibu hamil di tempat kerja. Bukan hal yang mengejutkan jika sebagian dari wanita hamil di Australia mengalami diksriminasi di tempat kerja.

Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 2.000 wanita oleh Australian Human Rights Comission, ditemukan bahwa 49% responden mengalami diskriminasi di tempat kerja pada saat kehamilan, cuti hamil atau ketika kembali bekerja.

Elizabeth Broderick, komisioner diksriminasi gender, mengemukakan bahwa banyak wanita yang membagi kisah pribadi mereka yang mengalami diskriminasi di tempat kerja. Banyak wanita yang melaporkan bahwa mereka tidak memiliki pilihan kecuali mengubah karir mereka.

Baca juga: Karier Perempuan Berakhir Setelah Punya Anak?

Bahkan beberapa ibu mengalami diskriminasi sebelum mereka melahirkan. Seperti halnya kasus Sam Vujic, yang bekerja sebagai seorang resepsionis dan harus menghadapi morning sickness setiap paginya. “Saya mengalami morning sickness yang buruk sepanjang lima bulan, dan boss saya seorang wanita yang tidak pernah mengalami morning sickness ataupun sejenisnya, menyuruh saya untuk datang bekerja dan ‘membawa ember,’” ungkap Vujic.

Sementara Justine (bukan nama sebenarnya) tidak jadi mendapatkan kenaikan jabatan meskipun ia siap dan memenuhi syarat, hanya karena ia hamil. Ibu dari tiga anak ini bekerja di bagian pelayanan masyarakat dan keliru mengira bahwa ia akan “dilindungi terhadap hal-hal semacam ini.”

“Saya mengalami hal-hal yang tidak pantas ketika saya sedang hamil dan ketika saya kembali setelah cuti. Namun yang paling buruk adalah ketika ia membantu bossnya dalam mengembangkan bidang baru. Ketika ada posisi baru untuk dilakukan secara full-time, bossnya mendorong setiap orang untuk apply namun tidak kepada saya,” ungkapnya.

“Saya kemudian mengetahui bahwa boss saya memberi tahu pemimpin tim saya bahwa saya bukanlah orang yang tepat karena saya sedang hamil, meskipun ia tahu bahwa saya kompeten di bidang itu,” tambahnya.

“Saya akan kembali bekerja akhir tahun ini dan saya sudah mulai cemas, karena saya akan bekerja untuk boss yang sama.”

Praktisi HR di Melbourne, Natalie (bukan nama sebenarnya), mengungkapkan bahwa ketika ia sedang hamil anak keduanya, managernya mengurangi tugasnya seiring kehamilannya berkembang. Padahal ia masih kompeten dan akan menyelesaikannya dengan senang hati.

“Saya tidak pernah komplain mengenai beban kerja dan stress kerja, namun ketika tugas saya berkurang sampai pada akhirnya saya berpikir, untuk apa saya di sini? Saya kemudian bilang bahwa saya masih bisa mengerjakan tugas dengan baik, namun ia hanya mengatakan bahwa ia ingin membuat tugas saya lebih mudah, dan hanya itu,” ungkapnya.

“Saat ini saya sedang cuti hamil, saya sudah mengontak manager saya, yang menyatakan bahwa ia menunggu saya kembali bekerja. Kecuali saya mendapatkan pekerjaan lama saya.”

Baca juga: Infografik: Kebijakan Cuti Melahirkan di Beberapa Negara

Tags: , , , ,