2 Pendekatan Manajemen Talent

Talentisme adalah kapitalisme baru, demikian pesan dari laporan riset Mercer dan World Economic Forum di Davos tahun ini.

Laporan itu menyebutkan bahwa talent adalah “bahan bakar yang mendorong mesin ekonomi global.”

Dan bila ditempatkan dalam konteks HR, selain kehilangan hal terpenting dalam bisnis yaitu pelanggan, tidak ada resiko yang lebih besar pada organisasi global selain kekurangan talent.

Karena itu, pengetahuan tentang talent management saat ini menjadi keunggulan kompetitif bagi setiap direktur HR. Riset telah menyimpulkan betapa fundamental peran talent terhadap bisnis. Untuk unggul dalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif, organisasi selalu membutuhkan inovasi dan kreativitas—kedua hal yang tidak mungkin tanpa talent yang tepat.

Karena departemen HR tidak mungkin memiliki pengetahuan mendetail tentang setiap posisi dalam perusahaan, kerjasama dengan line manager dalam manajemen talent ini sangat penting.

Talent Pools

Terdapat dua pendekatan dalam memandang sistem talent pool. Ada sebagian organisasi yang mengatakan setiap orang adalah talent dan hanya memfokuskan diri pada orang-orang tertentu saja tidak akan berhasil.

Sebagian yang lain mempunyai daftar yang jelas siapa talent mereka dan mempromosikan serta berinvestasi kepada mereka lebih dari karyawan lain.

Pendapat tentang Talent Pool hingga hari ini masih beragam. Dari sisi bisnis masuk akal bila direktur HR dan CEO dapat memfokuskan sumber daya pada mereka yang paling berpotensi, namun adanya sekelompok individu yang berlabel “talent” bisa juga memiliki efek memecah-belah di antara karyawan. Yang tidak mendapat cap talent bisa saja merosot kepercayaan diri profesional dan moral bekerjanya.

“Kami percaya setiap orang memiliki potensi dan karena itu setiap orang seharusnya masuk dalam talent pool,” kata Jane Sunley, CEO Learnpurple seperti dikutip dari HR Magazine.

“Tidak semua orang mempunyai aspirasi menjadi pemimpin, tetapi setiap orang ingin belajar dan berkembang. Organisasi seharusnya menghargai setiap orang sesuai dengan skill dan atribut mereka serta mengembangkan mereka sesuai dengan goal dan ambisi masing-masing, dengan disesuaikan pada kebutuhan organisasi,” tambahnya.

Biasanya karyawan dengan “star potential” akan dimasukkan ke dalam talent pool. Tetapi proses menentukan siapa yang “talent” itu sendiri rawan subyektivitas. Para manajer cenderung memilih orang-orang yang mengingatkan mereka pada mereka sendiri—faktor “like me.”

Proses identifikasi talent memang penting untuk dilakukan, tetapi para pakar juga memperingatkan agar organisasi berhati-hati untuk tidak menghabiskan semua budget hanya untuk mengembangkan beberapa talent pilihan. Para individu berkinerja tinggi ini juga menghadapi permintaan yang sangat tinggi di pasar karena itu sangat rawan untuk dibajak kompetitor, hal ini dapat menyebabkan sia-sia saja investasi yang telah dihabiskan.

Tags: , ,