Majalah Human Capital » Edisi Terbaru » Fokus

 
Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

The First Indonesian Human Capital Study: Ajang Belajar dan Benchmarking Bagi Perusahaan

Edisi 70 Januari 2010

Dibalik keikutsertaan peserta pada ajang 2009 Indonesian Human Capital Study (IHCS), tersimpan manfaat jangka panjang. Selain sebagai wahana belajar dan benchmarking bagi perusahaan-perusahaan di industri yang sama, peserta diharapkan menemukan inovasi baru dalam meningkatkan intangible assets-nya.

Kalau ada perusahaan yang mau benchmark program atau sistem human capital, silakan ke Telkom. Kami siap membantu rekan-rekan human capital dari industri mana saja. Jadi, jangan segan-segan datang ke Telkom. Kami siap membantu perusahaan Anda,” demikian disampaikan Direktur Human Capital PT Telekomunikasi Indonesia (TELKOM), Faisal Syam, di acara 2009 Indonesian Human Capital Study (IHCS), Selasa, 22 Desember lalu di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta. Faisal tentu tak asal bicara. Ia berani mengajak perusahaan lain melakukan benchmark ke TELKOM karena menyadari manfaat yang didapat dari berbagi pengetahuan.

Faisal berpendapat, saat ini perusahaan tidak perlu lagi membuat program atau sistem sendiri, karena hal itu bisa memakan waktu lama. Dalam pandangannya, daripada membangun sendiri dengan biaya yang sangat tinggi dan memakan waktu lama, lebih baik perusahaan mencontoh dari perusahaan lain yang sudah menerapkannya terlebih dahulu. ”Misalnya, perusahaan Anda mau membuat sistem absensi atau cuti online? Silakan Anda datang ke Telkom, nanti kami bantu proses pengembangannya. Yang penting, perusahaan Anda menyediakan dana untuk mengembangkan program atau sistem tersebut,” katanya bersemangat.

Apa yang disampaikan Faisal di hadapan sekitar 130 orang yang hadir dalam event IHCS, sejatinya sesuai dengan makna yang tersimpan di balik penyelenggaraan studi ini. Esensi dari penggunaan kata study dalam IHCS, menurut Partner Dunamis Organization Services, Agi Rachmat, ditujukan untuk mendapatkan praktik pembelajaran human capital (HC) di berbagai organisasi atau perusahaan.

Sehubungan dengan itu, Agi melanjutkan, sejak awal IHCS menekankan pada pentingnya pembelajaran mengenai pengelolaan sumber daya manusia (SDM) di organisasi. “Pada dasarnya human capital adalah sebuah fase yang bertumbuh, dan hingga hari ini kita menemukan insight bahwa manusia memang real asset. Artinya, manusia bukan sekadar alat produksi,” ujarnya menegaskan.

Agi mengakui, sejauh ini yang namanya study belum terlalu dihargai di Indonesia. “Kita sebagai pekerja seolaholah ‘pemain alam’ yang bekerja tanpa kodifikasi. Kadang-kadang kita bekerja hanya berdasarkan pengalaman orang lain. Tidak ada proses pembelajaran yang benar-benar didorong dari perusahaan agar pekerjaan kita hari ini lebih baik dari kemarin,” paparnya.

Peserta IHCS

Fakta ini menunjukkan, masih ada organisasi yang belum memandang penting study. Namun, tidak menutup kemungkinan, ada sebagian organisasi yang sudah menghargai dan mengapresiasi karyawannya melalui proses study. Makanya, IHCS dilaksanakan guna mencari rumusan pembelajaran yang telah sukses dijalankan di banyak organisasi.

“Memang tidak gampang mengajak perusahaan untuk mengikuti IHCS. Meskipun kami bangga, karena minimum requirement peserta IHCS terpenuhi,” ungkapnya. Harus diakui, jumlah peserta yang mengikuti IHCS yang diadakan pertama kali ini belum terlalu banyak. Tercatat ada 25 perusahaan yang menyatakan kesediaannya sebagai peserta dan mengirimkan data-data yang dipersyaratkan.

Dari ke-25 perusahaan tersebut, ada 13 perusahaan yang dinyatakan lolos sebagai finalis, yaitu PT Adira Dinamika Multifinance, PT Allianz Life Indonesia, PT Allianz Utama Indonesia, PT Danone Diary, PT Excelcomindo Pratama, PT Indosat Tbk, PT Pamapersada Nusantara, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Pertamina (Persero), PT Pfizer, SOHO Group, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, dan PT Wartsila Indonesia

Dilihat dari jenis industrinya, IHCS 2009 memang belum bisa dikatakan mewakili seluruh industri yang ada. Peserta yang mendaftar hanya bisa dikelompokkan ke dalam tiga bidang industri, yaitu telekomunikasi, jasa keuangan, dan barang konsumsi. Selebihnya, peserta yang mendaftar belum bisa mewakili industrinya masing-masing karena jumlahnya kurang dari lima perusahaan per industri.

Misalnya, untuk industri penerbangan, perusahaan yang mendaftar hanya satu, yaitu Garuda Indonesia. Demikian pula industri minyak dan gas bumi, hanya Pertamina yang mendaftar. Karena itu perusahaan-perusahaan ini disatukan menjadi industri lain-lain (Lihat Grafik). Meski demikian, seperti yang disampaikan Agi, jumlah peserta yang ikut IHCS 2009 sudah memenuhi persyaratan untuk bisa diukur secara komprehensif.

Agi menambahkan, salah satu pembelajaran penting dalam pelaksanaan IHCS kali ini adalah, adanya organisasi atau sekelompok industri yang belum siap atau berani untuk berbagi pengetahuan. Alasannya pun beragam. “Secara implisit masih ada organisasi yang ketakutan kalau datanya ketahuan pesaing. Padahal di era pengetahuan takut pada pesaing sudah nggak relevan,” ujarnya.

Agi mencontohkan, seorang manajer atau CEO bisa berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain hanya dalam hitungan bulan. Ini memperlihatkan, tidak ada lagi yang perlu ditakuti oleh manajemen, karena beberapa organisasi saat ini sudah sangat terbuka terhadap informasi yang dimiliki. “Sebenarya, makin banyak pengetahuan yang di-share akan membuat organisasi lebih powerful. Nah, mindset ini yang belum banyak dipahami organisasi,” katanya menandaskan. Dikatakannya, organisasi masih sulit berbagi informasi yang berkaitan dengan pemberian kompensasi dan benefit. “Bisa jadi karena angkanya yang terlalu kecil atau angkanya sudah besar, tetapi hasilnya nggak terlalu bagus,” ujarnya memberi alasan.

Lebih dari itu, lanjutnya, IHCS diupayakan untuk mencari kompetensikompetensi yang telah dikembangkan dengan baik oleh organisasi yang berbasis human capital. Kompetensi itu meliputi skill, knowledge, dan attitude. “Skill apa yang sudah membuat mereka menjadi lebih hebat dibandingkan yang lain? Kemudian, knowledge apa lagi yang diperlukan? Dan, bagaimana attitude yang baik di dalam organisasi?,” paparnya. Jadi, orang yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan organisasi, tentunya akan dihargai.

Manfaat IHCS


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 71 Februari 2010
Selamatkan Bumi Kita Let's Go Green