Majalah Human Capital » Edisi Terbaru » Peluang Bisnis
Event Organizer, Bisnis Kreatif yang Menggiurkan
Edisi 53 Agustus 2008
Seiring menggeliatnya industri kreatif, bisnis event organizer pun menjadi primadona. Sebesar apa peluangnya?
Indonesia tidak pernah sepi dari perhelatan akbar, seperti festival, pameran, seminar, workshop, dan konser musik. Segala yang berbau peristiwa (event) menjadi lahan basah bagi yang jeli melihat peluang ini. Di balik sebuah konser Ungu yang melenakan penonton, misalnya, ada tim yang merancang habis-habisan agar band papan atas Indonesia itu bisa tampil maksimal dan memuaskan penonton maupun sponsornya.
Orang Indonesia haus hiburan, bisa jadi ini benar. Coba tengok acara televisi nasional kita, mana ada hari tanpa kontes menyanyi? Di daerah pun tidak kalah ramai, konser-konser off air marak digelar guna mengobati dahaga akan hiburan rakyat. Di balik pro dan kontra acara semacam itu, sebenarnya terbuka peluang usaha.
Bandung adalah salah satu kota yang sering menjadi sasaran event organizer (EO) dalam menyelenggarakn perhelatan. Di salah satu sudut kota Bandung, tepatnya di jalan R.E. Martadinata, salah satu EO yang sudah cukup dikenal, PT Indipendent Satu Indonesia (ISI), bermarkas. Berpengalaman selama sembilan tahun di kancah bisnis EO, siapa nyana ISI yang sekarang memiliki tiga kaki usaha itu hanya berawal dari tekad kuat pendirinya, Reza Pamungkas, didukung timnya yang solid. “Saya percaya dengan bahasa pembuktian. Yang penting niatnya dan fokus ketika pertama kali memulai usaha ini tahun 1999,” kata Reza yang saat diwawancarai HC dibalut pakaian serba hitam.
Di lain tempat, Agung S. Dirdjosubroto yang ditemui di ruang kerjanya di wisma Benhil, Jakarta, berbagi rahasia mengenai peluang di bisnis EO. Pemilik PT E Major Maha Kreasi ini menceritakan, awalnya adalah sebuah langkah kecil dan saat ini perusahaan yang didirikannya tahun 2004 itu melaju dengan optimistis. “E Major dimiliki oleh empat orang: saya, Yuspriadi, Reynold, dan Adji. Kontribusi masing-masing sebesar 25%,” ungkap Agung mengungkapkan pemilik E Major selain dirinya.
Bisa dikatakan, Reza dan Agung hanya sedikit contoh entrepreneur yang memulai bisnis dengan cara head to head. Pendekatan kepada klien dilakukan melalui networking dan, tentu saja, mereka adalah orang-orang yang sudah nyemplung di industri ini sejak dini. “Sejak umur 19 tahun saya sudah bekerja sebagai EO,” ujar Agung. “Saya mulai dari bawah dengan belajar membuat program kecil-kecilan di kampus,” tambah kelahiran 9 Juli 1979 ini. Pekerjaan Agung yang akrab dengan dunia selebritas dimanfaatkannya untuk menjalin network yang lebih luas. “Tahun 2004-2005 saya bekerja di Cek & Ricek dan Tabloid Bintang Indonesia,” tuturnya. Keinginan untuk mandiri membuat Agung memutuskan berdiri sendiri dan memulai bisnis EO-nya. Proyek pertamanya adalah acara Tahun Baru 2004 di Ocean Cafe.
Reza pun setali tiga uang dengan Agung. Ia pernah menjadi anak buah alm. Harry Roesli di Bandung. Pengalamannya itu dijadikan pijakan pertama untuk mempelajari dan terjun di bisnis ini lebih serius. “Niat awalnya karena saya ingin punya usaha sendiri,” ujar ayah dari Makya Zatara Bumi ini jujur. “Tahun 1999 saya mulai menjalani Indipendent sendiri, tapi masih tetap bantu kang Harry dan beliau tahu apa yang saya kerjakan,” ujar Reza. “Alhamdulillah, beliau mendukung,” kata alumni arsitektur Itenas Bandung ini mengenang.
Ketika HC bertanya apa modalnya, dengan tegas Reza menjawab: “Niat dan fokus”. Dia masih ingat, tahun 1999 ia harus bolak-balik Bandung-Jakarta yang ditempuhnya melalui jalur Padalarang. “Sangat melelahkan. Sekarang dua jam sudah sampai Jakarta,” ujarnya menukas. Agung pun mengatakan hal senada. “Harus fokus, jangan berhenti, dan sabar.”
Baik Agung maupun Reza sepakat bahwa eksplorasi ide tidak akan sukses bila tidak bisa diterjemahkan ke dalam bentuk teknis. “Dalam bisnis ini kita harus bisa membahasakan ide kreatif ke dalam bentuk teknisnya. Kalau tidak bisa sama saja bohong,” cetus Reza.
Reza berpandangan semua orang bisa menjalankan bisnis EO asalkan mau dan fokus. Menurutnya, rata-rata EO memiliki karakter membumi alias rendah hati dan tingkat konsentrasi yang tinggi. Agung melengkapi bahwa karakter pemain sangat berpengaruh di bisnis ini. “Harus berkomunikasi dengan baik dan fleksibel,” Agung menambahkan.
Bagaimana memulainya? Agung berpendapat jangan memulai dengan modal nekat. “Minimal harus punya pengalaman kerja di industri ini. Dunia EO tidak ada sekolahnya. Kita harus belajar dari ahlinya. Maka, sebaiknya mulailah dengan menjadi kru atau asisten lebih dulu,” ujarnya memberi saran. Reza menambahkan, proses networking juga penting dan tidak boleh disepelekan. “Bangunlah networking dan bicaralah lebih fokus. Bergaul harus dengan siapapun. Jangan gengsian karena di bidang ini gengsi diharamkan,” katanya sambil bercanda.
Mengenai peluangnya, baik Agung maupun Reza sepakat, bisnis EO bak jamur di musim hujan. Agung melihat, pemain di kota kecil justru bisa meraup keuntungan lebih besar baik materi maupun nonmateri. “Di kota kecil biasanya pemain EO lebih gampang dikenal orang, apalagi kalau berpengalaman. Jadi, tidak benar bila dikatakan di kota kecil tidak ada peluang untuk bisnis EO,” ujarnya menimpali.
Bicara bisnis tentu saja bicara omzet. Sayangnya bagi Reza bicara omzet adalah hal yang sensitif. “Bagaimana ya, hahaha,” pentolan Indipendent yang baru merampungkan konser Ungu di enam kota besar di Indonesia ini mengungkapkan keberatannya. “Ini yang harus diwaspadai oleh pemain. Kadang kita berbenturan dengan kondisi. Misalnya, tahun depan pemilu, itu PR besar. Omzet mungkin akan drop,” kata kelahiran 11 September 1974 ini. Selain itu, Reza mengaku sulit bicara tentang omzet karena sangat bergantung pada brand-nya,” ujar
Berbeda dengan Reza, Agung bersedia memberi gambaran omzet E Major. “Kami punya target tiap bulan Rp 100 juta. Dan, Alhamdulillah tidak terlalu mengecewakan walaupun tidak selalu mencapai target,” kata Agung yang selama wawancara ditemani oleh rekannya, Yuspriadi.
Artikel sebelumnya

.gif&contenttype=gif)
