Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Teknologi

 
Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Cara SOSRO Menangani HOAX

Edisi 65 Agustus 2009

Tim khusus yang dibentuk oleh PT Sinar Sosro, malam itu, 6 Juni 2009, harus rela bekerja hingga dini hari. Mereka berembug, menganalisa dan menentukan strategi untuk menghadapi ‘serangan gerilya’ di dunia maya. Sosro diserang oleh HOAX!

Tak ada yang menyangka bahwa manajemen Sosro yang selama ini tampak adem-ayem, hari itu harus membuat keputusan besar, yakni mengibarkan bendera ‘perang’ untuk melawan dan menghentikan viral Hoax (berita bohong) yang menyebar cepat di internet. Mereka terkejut saat bagian customer service tak henti-hentinya menjawab pertanyaan dari agen maupun distributor yang menanyakan, “Ada apa gerangan dengan Sosro?”

Tidak berhenti sampai di situ. Pelanggan-pelanggan kelas kakap dan pemilik toko swalayan tiba-tiba membatalkan pesanan rutin. Mereka menunggu sampai ada penjelasan resmi dari perusahaan. Tentu, manajemen Sosro kaget bukan kepalang dan menyadari bahwa mereka sedang menghadapi bola panas yang kini bergerak liar sangat cepat.

Vice Marketing Director PT Sinar Sosro, Ronny Jatnika, mengaku, harus menggunakan kacamata bantu setelah seharian penuh memelototi berita-berita miring tentang perusahaan di depan komputernya. “Mata ini sampai berair kelamaan di depan monitor,” ungkapnya. Ronny dipaksa memutar otak lebih keras bagaimana caranya menghentikan virus yang menyebar bagai viral.

Selidik punya selidik, kekacauan itu ternyata bersumber dari sebuah email yang menyudutkan Sosro dengan memanfaatkan keampuhan teknologi internet. Kisah bermula pada 8 April 2009. Hariadhi, seorang netter, memulai diskusi di milis Creative Circle Indonesia (CCI). Di milis ini ia membuat tulisan berjudul “Waspada! Teh Botol Sosro Beracun!”

Dari judulnya yang bombastis, sontak banyak tanggapan atas postingan tersebut. Dan, rupanya, eksperimen Hoax naik lagi di milis yang sama pada 30 April dengan judul lebih gawat dari sebelumnya, “Teh Botol Sosro Racunnya Teh!”

Celaka dua belas. Informasi menyesatkan ini menyebar dengan cepat melalui forward email dan keluar dari konteks milis asalnya ke jaringan para anggota masing-masing. Puncaknya, pada 5 Mei 2009, isu Teh Botol Sosro mengandung racun menyebar dan singgah ke forum fashionedaily.com yang anggotanya mayoritas ibu-ibu dan tentu saja menjadi santapan empuk karena isu tersebut jelas sangat menyentuh kepentingan melindungi keluarga atau anak.

Isu miring ini terus menyebar, baik melalui forum-forum yang lebih besar, seperti indonesiaindonesia.com, melalui email berantai, muncul di blog dan di-copy paste ke blog-blog lain. Praktis, keyword ‘Teh Botol Sosro’ mendadak populer di search engine. Sampai-sampai Google yang menjadi rujukan para onliner di seluruh dunia harus turun tangan dan merekamnya melalui salah satu fi turnya, GoogleTrends.

Sekadar info, standard GoogleTrends ini sangat tinggi sehingga ia tidak akan mencatat sebuah keyword jika memang yang mencari di search engine kategorinya hanya biasa-biasa saja. GoogleTrends baru bergerak kalau memang terbukti ada lonjakan yang luar biasa. Itulah yang terjadi pada Sosro. Dari bulan bahkan tahun sebelumnya, tidak terekam sama sekali. Akan tetapi, pada periode Mei dan Juni, grafi k di GoogleTrends dengan kata kunci ‘Teh Botol Sosro’, tiba-tiba melejit membentuk sebuah grafi k yang bergerak naik.

Tercatat, kata ‘Teh Botol Sosro’ direkam di 57.500 search pages result pada 30 Juni 2009, yang artinya ada lonjakan hampir 50 kali dalam tempo dua bulan. Hampir sebulan berikutnya, pada 27 Juli 2009, hasil di atas meningkat dua kali menjadi 106.000 search pages result, atau bergerak naik 100 kali lipat hanya dalam tempo tiga bulan. Bisa dikatakan, data-data statistik yang difasilitasi oleh GoogleTrends berfungsi sebagai alarm dan bisa dijadikan alat untuk mendeteksi secara dini terjadinya sebuah krisis di internet.

Lantas, apa yang dilakukan oleh mana jemen Sosro? Manajemen Sosro langsung tanggap. Dibentuklah sebuah tim khusus yang tugas utamanya adalah meredam gejolak di internet. Ronny menuturkan bagaimana Sosro menangani krisis yang terjadi. Ia melakukannya dengan menyebutkan fakta-fakta di lapangan, seperti “Sosro sudah lebih dari 35 tahun beroperasi di Indonesia, memproduksi ratusan juta botol tiap tahun, sekaligus telah menjadi ikon produk kebanggaan nasional dengan prestasi sebagai pelopor produsen teh siap minum dalam kemasan pertama di dunia.”

“Bahan bakunya dipetik dari kebun teh milik sendiri dan diproduksi melalui 10 pabrik dan menyerap tenaga kerja sebanyak 8.500 orang. Kami juga melibatkan puluhan ribu agen maupun distributor, termasuk berbagai industri ikutan seperti gelas, logam, plastik, gula dan transportasi serta tentu saja ratusan juta konsumen,” papar Ronny.

Data-data inilah, yang menurut Ronny, menjadi alasan kuat bagi manajemen untuk terus bergerak dan tidak tinggal diam. Terlebih, isu yang berkembang jelas-jelas menyudutkan Sosro. Misalnya, isu negatif dari email yang beredar menyebutkan adanya ‘korban’ seorang anak dengan gejala kecanduan. Ibunya, bernama Martini, menemukan berita di internet mengenai kandungan berlebihan hidroxilic acid (atau nama resminya dalam format IUPAC adalah dihidrogen monoksida/H2O) di dalam Teh Botol Sosro.

Rupanya si ibu langsung ingat kalau anaknya tadi siang menghabiskan tiga botol teh yang dibungkus dalam berbagai kemasan dan merk. Ia menyebut, bahan baku utama Teh Botol Sosro bukan teh alami, tapi hidroxilic acid sehingga rasanya lebih enak daripada yang lain. Celakanya, zat ini disebut berbahaya kalau dikonsumsi berlebihan.

Email tersebut didramatisir dengan pernyataan Dr. Priyadi Handoko, ahli kesehatan dari IKDN, ”Sedetik saja gejala kelebihan ini terlambat ditangani, nyawa pasien melayang,” katanya. Saat dikonfi rmasi ke humas Sosro, tanpa menyebut nama, jawabannya standar bahwa Teh Botol Sosro sudah lulus uji POM, tapi ketika ditanya mengenai kandungannya, jawaban humas Sosro adalah membanting telpon. Dalam email tersebut dikatakan bahwa anak Martini masih tergolek di tempat tidur dan ibunya bingung mengobati kecanduan anaknya karena tidak punya biaya.

Ronny mengungkapkan, dari email inilah timnya melakukan lokalisir isu negatif karena dampaknya mulai terasa. Dari sisi internal, Ronny mengakui, isu tersebut membuat karyawan, komisaris dan share holder resah karena mendapat banyak pertanyaan secara tiba-tiba. Parahnya, mereka tidak tahu bagaimana cara menepis isu miring tersebut. Secara eksternal, para mitra bisnis seperti agen, modern trade, pelanggan korporasi dan retailer terus mempertanyakan kebenaran isu dan bahkan ada yang menangguhkan order. Setali tiga uang di kalangan media online, situs, blog, email dan milis makin cepat menyebar menembus lintas media, waktu, negara dan kalangan.


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 75 Juni 2010
Revolusi Media Sosial di Mata Praktisi HR