Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Fokus

 
Halaman [ 1 2 3 Selanjutnya »| ] dari 3

Meraih Kebahagiaan dengan Work-Life Balance

Edisi 68 November 2009

Keberlimpahan materi tidak membuat hidup seseorang menjadi lebih bahagia. Banyak orang stres dan kehilangan arah kendati memiliki jabatan tinggi dan gaji besar. Ternyata, masalahnya terletak pada keseimbangan hidup. Saat ini, makin banyak orang tak dapat menyeimbangkan waktu untuk pekerjaan, keluarga, sosial, dan pribadi.

Apakah Anda merasakan bahwa makin hari Anda makin tak bisa membagi waktu dan pekerjaan Anda seperti tidak ada habis-habisnya? Percayalah, Anda tidak sendirian. Dunia kerja kini semakin tegang. Kita diminta untuk bekerja lebih cepat dan lebih baik, melakukan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit, terus-menerus berubah, dan menemukan cara-cara baru untuk bekerja.

Disadari atau tidak, semakin banyak dari kita yang bekerja di ”Tempat Kerja yang Hiperaktif” – demikian istilah yang saya temukan di buku ”Success Intelligence” yang ditulis oleh Robert Holden, Ph.D. ”Kerja modern sering didominasi oleh budaya lembur, kesibukan permanen, kecanduan pada daftar pekerjaan yang menanti, sasaran tanpa akhir, sikapsikap tak manusiawi, dan tanpa waktu jeda,” tulisnya.

Lebih lanjut Holden menulis, ”Dalam dunia kerja yang hiperaktif, kita terus-menerus bekerja. Kita sebenarnya telah melakukan lebih banyak daripada sebelumnya dan masih belum cukup banyak yang dapat kita selesaikan. Kita menjadi semakin aktif secara berlebihan (hyper) untuk menanggapi perampingan perusahaan, pasar global, dan teknologi 24 jam. Kita bekerja sepanjang hari, bekerja dalam waktu luang kita, dan bekerja sampai umur kita habis. Bahkan, kita bekerja sampai kelelahan.”

Apakah Anda merasakan kondisi seperti yang dipaparkan Holden? Sekali lagi, Anda tidak sendirian. Dewasa ini makin banyak orang yang mengakui bahwa hidupnya tidak lagi seimbang. Sebuah survei mengenai ”Kualitas Kehidupan Kerja” yang dilakukan pada sejumlah manajer di Inggris memperlihatkan hasil bahwa jam kerja karyawan yang panjang berdampak buruk terhadap produktivitas (68%), kesehatan (71%), hubungan karyawan dengan pasangannya atau teman (79%), dan hubungan dengan anakanak mereka (86%). Yang paling mengkhawatirkan, hampir setengah dari manajer yang disurvei mengatakan, mereka tidak punya pilihan kecuali bekerja dengan jam kerja yang panjang.

Hukum Keseimbangan

Keseimbangan adalah hukum alam yang terpenting, demikian menurut Arvan Pradiansyah, Managing Director Institute for Leadership & Life Management (ILM). Dikatakannya, Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan seimbang. Manusia yang tidak seimbang berarti melanggar hukum alam (hukum keseimbangan kosmos). ”Ketika kita melanggar hukum alam, hidup kita menjadi tidak selaras. Orang yang hidupnya tidak selaras akan sulit mencapai kebahagiaan. Hanya manusia yang seimbang yang mencapai kebahagiaan lahir dan batin,” tuturnya bijak.

Di samping itu, orang yang hidupnya tidak seimbang akan merasa resah, susah dan gelisah dalam hidupnya. ”Orang-orang seperti itu tidak dapat merasakan ketenangan, kedamaian dan hidup yang indah,” tutur penulis buku ”You Are A Leader!”, ”Life is Beautiful”, ”Cherish Every Moment”, dan ”The 7 Laws of Happiness” ini.

Menurut Rivalino Shaffar, Fasilitator Dunamis Organization Services, banyak dari kita yang bekerja untuk menafkahi keluarga dan agar anak-anak mendapat pendidikan yang baik. Namun, tak jarang yang akhirnya berujung pada perpecahan keluarga dan kehancuran akhlak anak-anaknya. ”Atau, Anda keburu sakit karena tidak menjaga diri. Hal ini disebabkan karena kehidupan yang tidak seimbang,” kata Rivalino yang akrab disapa Rino. “Pada saat kita terbaring sakit, apa yang benar-benar penting dalam hidup kita? Keluarga? Aktualisasi diri? Atau, kekayaan yang berlimpah?,” ujarnya bertanya.

Rino memaparkan, gejala ketidakseimbangan dapat dideteksi dengan mengacu pada hal-hal berikut: Anda tidak mempercayai diri sendiri, Anda merasa hubungan Anda dengan orang-orang yang Anda sayangi hambar bahkan seperti berinteraksi dengan orang asing, tidak ada ketenangan di hati ketika melihat pasangan hidup dan anak Anda, atau kehilangan semangat dalam menjalankan pekerjaan yang dulu sangat Anda cintai.

Sejatinya, keseimbangan hidup dan kebahagiaan tidak tergantung pada banyaknya uang yang diperoleh dan kesuksesan kerja. Ada hal lain yang memiliki pengaruh lebih besar dalam kesejahteraan kita, yakni menjalani hidup yang seimbang. Tentu, hidup seimbang tidak lepas dari pengalokasian waktu yang baik, sehingga seseorang merasa memiliki kualitas hidup yang baik. “Anda akan tahu bahwa Anda seimbang ketika Anda memiliki rasa percaya diri yang datang dari pemahaman diri yang kuat,” kata Rino menambahkan.

Mengutip Stephen R. Covey, penulis buku The 7 Habits of Highly Effective People, yang menggunakan analogi kompas dan jam. Kita mengetahui bahwa kompas adalah alat penunjuk arah, sedangkan jam sebagai penunjuk waktu. Saat bekerja, kompas dapat memberi arah, sementara jam menunjukkan efisiensi waktu. Rino menjelaskan, proses ini tidak bisa berdiri sendiri tetapi harus kedua-duanya. “Kalau Anda hanya menentukan kompasnya tetapi tidak mengatur jamnya, berarti Anda hanya pemimpi yang baik. Jika Anda langsung bicara cepat dan efisien, Anda adalah pemimpin yang buruk karena hidup tanpa arah,” tuturnya menandaskan.

Sekarang, coba kita lihat orang-orang di sekeliling kita. Berapa banyak orang yang hidupnya seperti berada di dua tempat? ”Sewaktu dengan anak kita memikirkan pekerjaan, pada saat bekerja kita memikirkan anak,” ujar Rino. Oleh karena itu, kita perlu memaksimalkan kualitas hidup kita dengan cara menentukan arah yang benar, sehingga kita bisa fokus pada setiap aktivitas yang dijalani.

Sementara itu, Managing Director KM Plus Learning-Lead, Alvin Soleh, menuturkan, keseimbangan hidup seseorang dapat dilihat dari beberapa parameter. Pertama, memiliki hidup yang damai (inner peace). Ia menegaskan bahwa hidup damai tidak sama dengan hidup santai. ”Yang paling sulit adalah berdamai dengan diri sendiri. Hal ini dapat dicapai melalui hidup yang seimbang (life balance),” ujarnya. Kedua, memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. Dan ketiga, puas dengan apa yang sudah dicapai oleh diri sendiri. Dalam pengertian yang positif, berarti melakukan apa yang benar-benar diinginkan.


Halaman [ 1 2 3 Selanjutnya »| ] dari 3

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 75 Juni 2010
Revolusi Media Sosial di Mata Praktisi HR