Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Peluang Bisnis
Mimpi dan Ambisi Hello;Motion
Edisi 70 Januari 2010
Wahyu Aditya membangun Hello;Motion untuk mewujudkan mimpi dan ambisinya mengembangkan animasi di Indonesia. Kini karyakaryanya telah mendapat pengakuan dari banyak pihak, dan namanya tercatat sebagai anak muda yang menggeluti industri kreatif.
Hello;Motion lahir dari sebuah mimpi kera ngalam (arek Malang, dalam ejaan terbalik) bernama Wahyu Aditya. Sejak lama Adit, begitu ia biasa dipanggil, ingin memiliki sebuah institusi yang kredibel yang bisa memberikan inspirasi ke banyak orang, menyatukannya dan bersama-sama membuat sebuah karya. Dengan komunitas yang kuat, ia percaya industri animasi Indonesia suatu hari bisa go international.
Di kantornya di Jl. Tebet Raya No. 45, Jakarta Selatan, Adit bercerita bagaimana sepak terjangnya membidani dan membesarkan Hello;Motion. “Hello;Motion dipilih menjadi brand karena orang lebih gampang melafalkannya. Saya memang ingin menghadirkan image institusi yang tidak terlalu formal dengan fokus lebih kepada pembelajaran animasi dan desain,” cerita Adit kepada Human Capital (HC).
Sejatinya, passion Adit telah terbangun sejak kecil. “Mulai sekolah dasar saya sudah senang dengan sketsa, terinspirasi film-film kartun di TVRI waktu itu, termasuk acaranya Pak Tino Sidin. Akhirnya saya memberanikan diri untuk membuat karakter. Di SD saya membuat sebuah majalah manual dan ternyata ada apresiasi dari teman-teman. Dari situ saya merasa eksistensi saya di bidang seni dihargai, dan akhirnya saya seriusi sampai sekarang,” kata pria kelahiran Malang, 4 Maret 1980 ini.
Putra pasangan dari Sanarto Santoso dan Tri Astuti ini mengaku mendapat suasana yang kondusif dari keluarganya dalam menyalurkan bakat. “Ayah saya suka melukis. Dari situ saya mendapat inspirasi. Saya juga sering ikut lomba-lomba,” imbuhnya. Tidak hanya ikut lomba, Adit ternyata belajar bagaimana caranya untuk menang. Ia tergerak untuk terus mengolah skill. Keterbatasan informasi di kota kelahirannya, tak membuat ia surut. “Pak Tino Sidin menjadi salah satu alat belajar saya dan saya koleksi bukubukunya. Semi otodidaklah, saya juga belajar dari masukan teman-teman. Saya agak serius ketika SMA. Ketika yang lain ikut bimbingan belajar karena stres menghadapi ujian nasional, saya malah mengambil kursus desain. Saya makin semangat ketika kuliah di jurusan multimedia di Rafless Institute of Technology, Sidney Australia, 1998- 2000,” papar Adit menjelaskan.
Dukungan orang tua diakui Adit sangat penting. “Sejak kecil saya dibebaskan untuk memilih profesi yang saya senangi. Orang tua saya dokter dan biasanya kalau orang tuanya dokter anaknya akan diarahkan menjadi dokter juga. Kuliah pun saya dibiayai oleh orang tua. Saya anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak saya laki-laki dan saat ini meneruskan usaha ibu saya di Malang di bidang jasa pengiriman tenaga kerja ke luar negeri,” katanya.
Adit sempat bimbang sepulang dari Australia. “Sama seperti mahasiswa lain yang baru lulus, saya pun bingung dengan masa depan saya. Sebelum lulus, saya dihubungi dua stasiun televisi, SCTV dan TransTV. Akhirnya saya pilih TransTV dengan niat untuk belajar karena waktu itu TransTV belum ada apa-apanya, belum punya kantor. Menurut saya ini kesempatan langka untuk bisa mengamati bagaimana industri TV bergerak dari titik nol,” ujarnya.
Nyali anak muda ini benar-benar diuji. Sebagai generasi awal di TransTV – Adit ternyata karyawan ke-30 – ia ditantang sebagai creative designer di sebuah stasiun TV baru yang memosisikan diri sebagai TV paling inovatif dan dituntut tampil beda. “Saya ini bukan siapasiapa dan tidak punya pengalaman kerja, tapi langsung ditantang untuk membuat animasi dengan kualitas nasional, ditonton oleh masyarakat Indonesia dengan deadline yang cepat,” katanya antusias.
Rupanya Adit tipe karyawan yang tidak betah dengan rutinitas. Setelah 2 tahun belajar di TransTV, ia memutuskan keluar. “Saya merasa tantangannya sudah biasa saja karena saya sudah tahu ritmenya. Juga, ambisi saya untuk membuat institusi pendidikan harus saya lakukan,” jelas suami dari Arie Octaviani ini.
Namun, ia merasa pengalaman dan networking-nya belum banyak. Karena itu, Adit masih melakoni pekerjaan sebagai freelancer selama dua tahun. Hingga akhirnya, bersama 7 rekannya ia membuat usaha bersama. Adit mengenang, awal pertumbuhan bisnisnya cepat sekali. Akan tetapi, setelah uang banyak masuk justru timbul masalah. “Sejak awal memang tidak ada hitam-putih yang jelas, saya akhirnya memutuskan keluar dan membuat usaha sendiri. Hikmahnya adalah, saya makin terdorong ke citacita awal untuk memiliki kendaraan bisnis sendiri,” tuturnya mengenang.
Sebelum benar-benar membuka usaha sendiri, Adit melakukan survei kecil ke calon murid dan customer-nya. “Jadi tidak nekad asal buka sekolah. Paling tidak, saya sudah tahu bahwa peminatnya ada. Dari survei yang saya lakukan lewat internet, saya mendapat komitmen dan ini yang menguatkan saya untuk buka sekolah sendiri,” katanya sambil menyambung, modal awal didapat dari pinjaman bank sebesar Rp 400 juta dengan jaminan rumah orangtuanya. “Mungkin saya harus diberi beban agar ada tantangan, karena dari beban itu a k h i r n y a muncul solusi,” j a w a b n y a soal pinjaman bank yang dilakukannya.
W a k t u H e l l o ;Mo t i o n dibuka, siswanya sekitar 40 orang. Namun begitu, p e r j a l a n a n s e k o l a h n y a tidak semulus y a n g dibayangkan. “ T a h u n pertama masih merugi, karena start-nya salah, perhitungannya juga asala s a l a n . Maklum, saya belum banyak tahu tentang bisnis. Saya belum paham b a g a i m a n a m e n g e l o l a cashflow. Mulai dari HRD, m e n g a t u r k a r y a w a n dan bikin p e ra turan, h i n g g a menjadi kurir pun saya lakoni,” katanya sambil tersenyum.
Artikel sebelumnya
