Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Peluang Bisnis

 
Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Bila Seni Bersinergi dengan Bisnis

Edisi 59 Februari 2009

Dua pasangan suami-istri pecinta seni lukis ini mampu menangkap peluang bermodalkan rasa cinta dan imajinasi. Bagaimana hasilnya?

“Kemarin Papa ke Bandung pakai sepatu lukis. Wah, banyak yang tanya beli di mana?,” tutur Obby antusias kepada anaknya. Di lain tempat, seorang ibu muda yang sedang menonton televisi terkagum-kagum dengan sebuah tas bermotif seekor kucing yang ditayangkan di acara berita siang itu. Rupanya ibu tadi adalah seorang penggemar kucing. “Aduh lucunya tas itu dilukis gambar kucing, mau banget,” komentarnya membelai-belai layar kaca. Semua produk tadi adalah produk yang mendapat sentuhan lukisan orisinal dari sang empunya produk.

Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan bahwa tahun 2009 adalah tahun kreatif. Apakah pernyataan SBY mampu mendorong tahun ini menjadi trend setter usaha di bidang kreatif? Bagi sebagian orang mungkin saja ini memberi angin perubahan bahwa usaha kreatif pun punya kesempatan setara dengan non-kreatif, misalnya manufaktur. Buat dua pasangan suami istri yang sangat kompak ini, kreatif adalah bagian dari hidup mereka jauh sebelum SBY menyatakan itu.

Sebuah galeri mungil bernama Kenino berdiri di dalam area Inns Restaurant, melengkapi suasana resto yang berlokasi di jalan Cilandak KKO, Jakarta Selatan, itu. Sejak pukul 7 pagi, Rosita dan Kemas Abdulrachman Yahya, pasangan suami istri pemilik galeri Kenino, sudah datang untuk membersihkan galerinya yang berukuran kurang lebih 4X4 meter itu. Tas lukis, kerudung lukis, mukena lukis, dan beberapa produk fashion lain yang motifnya serba dilukis terpajang rapi dan tersusun apik.

Salah satunya adalah tas lukis bermotif kucing yang pernah tampil di acara berita siang yang ditonton oleh seorang ibu penggemar kucing. “Semua barang yang dipajang sudah ada yang punya, mbak,” kata Oshi panggilan akrab Rosita kepada HC yang bertandang ke galeri Kenino pada suatu Rabu siang.

Perempatan Fatmawati tampak lengang di siang yang mendung hari itu. HC berjanji bertemu dengan pasangan suami istri Sri Rejeki Widiastuty dan P. Ario Damar, pemilik Bubu Shoes. “Istri saya baru melahirkan. Jadi sementara kami di sini dulu,” kata Damar yang ditemui di kediaman orang tua Sri atau biasa disapa Eki di jalan kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan.

“Ayo mbak, saya lagi melukis sepatu kalau mau lihat,” ajak Eki ramah menuju ruang kerja dadakannya di bawah tangga salah satu sudut rumah orang tuanya. Tampak beberapa pasang sepatu lukis hasil goresan tangan Eki berderet rapi sedang diangin-anginkan agar kering. Raut wajah bahagia tercermin di pasangan yang baru dikaruniai putera pertama bernama Ishkra Al Azra, 3 Januari 2009 lalu.

“Saya bikin Bubu Shoes ini awalnya iseng,” kata Eki sambil melukis sebuah sepatu kanvas putih polos pesanan kliennya. Eki mengisahkan, suatu hari di televisi Eki menonton tayangan mengenai sepatu lukis. Eki ingat betul ketika masih duduk di bangku SMP sekitar tahun 1980-an, dia membuat sepatu lukis semacam itu namun memakai cat timbul seperti karet. “Saya pakai ke sekolah dan banyak teman yang mau. Akhirnya saya bikin dengan bahan cat timbul itu,” kenang Eki.

Dia mengaku tidak berniat untuk menekuninya saat itu. Duduk di bangku SMA, Eki yang mengaku pembosan ini mulai merasa malas dan akhirnya berhenti melukis sepatu. Pertengahan 2008, Damar menyarankan istrinya untuk kembali melukis sepatu walaupun awalnya Eki ragu karena khawatir dicap meniru. Alumni seni rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini akhirnya menjalankan saran sang suami, namun dengan catatan sebagai kegiatan yang disebutnya ‘iseng’.

Tahun 1998 saat Indonesia dihantam krisis moneter, bukan akhir bagi Oshi. Pecinta seni lukis yang datang dari keluarga pehobi lukis ini memulai usahanya dari rumah. “Waktu itu saya membuat souvenir pernikahan. Pensil yang dilukis dengan modal kerja Rp 300 ribu untuk menghasilkan 300 pieces bisa dijual Rp 1.000 per pensil,” katanya. Bagi Oshi hal tersebut merupakan sarana latihan untuk menajamkan keahliannya melukis secara dimensional. Ketika karyanya sudah mulai dikenal dan pesanan souvenir mulai merangkak naik, Oshi membuat souvenir yang harganya sedikit lebih mahal. “Dari Rp 1.000 naik jadi Rp 5 ribu,” katanya mencontohkan.

Setelah setahun menggeluti usaha ini, tahun 1999 ia mulai melukis di atas garmen. Karena ingin fokus di satu media lukis, akhirnya Oshi memutuskan fokus melukis di media garmen sejak 2003. “Saya latihan melukis di kayu dan tembok. Itu memudahkan saya melukis di atas garmen,” aku ibu dari Kemas Muhammad Ramadhan yang dalam sebulan bisa melukis 180 produk fashion ini.

Baik Eki maupun Oshi sama-sama melukis desain motif berdasarkan keinginan klien. “Klien tinggal bilang mau motif seperti apa, biar saya yang menerjemahkan keinginan mereka,” kata Eki diamini oleh Oshi. Proyek idealisme, begitulah representasi dari Bubu Shoes dan galeri Kenino. Bagi Oshi dan Kemas maupun Eki dan Damar, rasa cinta pada seni lukis membawa mereka mengerjakan pesanan dari klien dengan sepenuh hati.

“Dalam lingkup bisnis, saya ini ada satu idealisme, yang penting hari ini saya sudah melukis. Kalaupun akhirnya ada feed back seperti ada yang mengapresiasi atau membeli produk saya, itu membuat satu kekuatan modal yang kemudian bermuara ke konsep bisnis,” jelas Oshi yang mengaku malu jika harus hitung-hitungan kuantitas cat yang dipakainya untuk melukis. “Yang penting klien saya puas dan saya tidak merasa rugi walaupun orang bilang saya rugi. Idealisme itu yang menguatkan bisnis ini dan membuat saya tidak stres,” kata pengguna cat lukis tekstil merek Lefranc&Bourgeois yang terbiasa bekerja sekitar 10-14 jam sehari ini.

Walaupun belum genap satu tahun, Bubu Shoes menurut pengakuan Damar dan Eki sudah mengundang pembeli dari luar negeri. “Rasanya senang ketika saya tahu karya saya dibeli dan dibawa oleh orang Malaysia dan Korea walaupun baru beberapa pasang,” kata Eki semringah. Bagi Eki tidak ada yang rahasia dalam Bubu Shoes kecuali teknik pencampuran warna catnya. “Rahasia saya hanya di teknik pencampuran warna yang hanya saya saja yang tahu,” ujar kelahiran Jakarta, 13 September 1972 ini.


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 75 Juni 2010
Revolusi Media Sosial di Mata Praktisi HR