Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Peluang Bisnis

 

Untung Legit di Sepotong Kue Lezat

Edisi 56 November 2008

Menikmati sepotong kue lezat merupakan hal yang menyenangkan. Siapa sangka di balik sepotong kue yang lezat tersimpan peluang untuk menangguk untung besar. Inilah kisah dua pengusaha kue tentang bisnis yang mereka tekuni.

Ada dua persamaan dari kisah pengusaha kue berikut ini, Clara Lim dan Helen. Mereka memulai usaha kuenya sejak usia muda, tepatnya di usia kepala dua. “Usia saya sekarang 56 tahun, dulu memulai bikin kue ketika usia 23-an,” ujar Clara Lim, pemilik toko kue Clara’s Cake yang ditemui di kantor pusatnya di jalan H.O.S Cokroaminoto No. 54, Jakarta Pusat. Sedangkan Helen tahun ini genap berusia 23 tahun. Di usia yang masih muda, Helen yang ditemui di toko kuenya Helen’s Fine Foods & Patisserie di jalan Wolter Monginsidi No. 63 B Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, memberanikan diri membuka toko kue yang diklaimnya adalah hasil karyanya sendiri. “Semua resep di toko ini adalah resep saya sendiri,” kata Helen.

Persamaan lain? Keduanya menyasar kalangan menengah-atas. Clara yang masih segar di usia paruh bayanya itu mengatakan, pada dasarnya tidak ada maksud khusus untuk menyasar kelas menengah-atas. Kebetulan saja bahan baku yang dipakainya berpengaruh kepada harga kue yang berkisar antara Rp 15 ribu/slice sampai jutaan rupiah itu. “Membuat kue sendiri bahannya pasti terpilih dan bagus. Otomatis harganya mahal. Dengan begitu tidak disengaja masuk ke golongan menengah-atas,” jelas ibu tiga putera yang mengawali kegemaran membuat kue untuk konsumsi anak-anaknya ini.

Keinginan menyajikan kue ulang tahun untuk anak-anaknya membawa Clara belajar membuat kue ke berbagai tempat. “Saat itu kalau beli kue hiasannya bagus, tapi kalau dimakan kok rasanya kurang pas di selera saya. Karena saya ibu rumah tangga yang punya banyak waktu luang, akhirnya saya kursus membuat kue,” tuturnya mengenang. Awalnya Clara kursus di Nila Chandra. Resep yang ia dapatkan kemudian disesuaikan dengan seleranya.

Selain itu, Clara mengaku banyak dibantu dari buku-buku. Ia juga berkesempatan kursus singkat ke Hongkong, Singapura, Taiwan, dan Paris. “Mungkin karena ada dasar membuat kue, lumayan juga hasilnya. Tapi tidak seperti orang yang lulus sekolah kuliner ya,” katanya low profile. Dalam perjalanannya, ia kerap mendapat undangan belajar membuat kue ke luar negeri dari para suplier.

Bagaimana dengan Helen? Berawal dari kegemarannya memasak dan mencicipi makanan dan latar belakangnya yang pernah mengenyam pendidikan khusus memasak selama satu tahun di New York, Helen memberanikan diri membuka toko pertamanya di Jakarta pada tahun 2007. Jenis kue yang ditawarkan antara lain, New York cheese cake, Blueberry cheese cake, Green tea, dan yang paling banyak diminati adalah Tiramissu. Helen punya resep tersendiri untuk pembuatan Tiramissu, yaitu menambahkan wyne pilihan ke dalam adonan krimnya. Ketika kembali ke Indonesia, Helen mengungkapkan keterkejutannya karena dia tidak menemukan orang Indonesia yang bisa membuat kue ini dengan benar. “Kebanyakan orang Indonesia membuat Tiramissu dari tepung dan susu secara instan,” komentarnya. Sedangkan Helen mendapat resep membuat Tiramissu dari seorang guru di New York. “Jadi rasanya tradisional sekali,” ungkap Helen.

Selain Tiramissu, kue andalannya adalah Strawberry short cake yang resepnya Helen ciptakan sendiri. “Menurut informasi dari Chef, Strawberry short cake adalah kue yang kurang diminati di Indonesia,” ujar mantan ketua PERMIAS (Persatuan Mahasiswna Indonesia di Amerika Serikat) yang pernah memasak untuk korban Tsunami Aceh ini. Namun, Helen tidak begitu saja menerimanya, “No..no..no..kamu boleh coba Strawberry short cake yang saya buat. Ini berbeda dan saya yakin orang lain akan menyukainya,” katanya membantah animo itu. Walhasil, Strawberry short cake menjadi salah satu kue best seller di toko kuenya.

Kreativitas Helen juga tidak diragukan. Buktinya, kue-kue berbahan sederhana seperti sponge cake dan black forest dapat dibuat menjadi kue-kue yang lebih variatif di tangan anak ke dua dari tiga bersaudara ini.

Clara yang lebih dulu terjun di bisnis kue punya cerita unik. Ternyata, gemar membuat kue bukan berarti ia menyukai kue yang rasanya manis. “Ketika kue black forest lagi heboh, banyak teman yang memesannya. Karena bukan penggemar kue yang manis-manis, saya bikin lalu mengirimnya ke teman-teman. Lama-lama banyak yang memesan,” kata Clara seraya mengungkapkan bahwa itu terjadi sekitar 1980-an. “Ketika itu anak-anak saya masih kecil,” tambahnya.

Rasa, kebutuhan, gengsi, dan higienitas kue menjadi beberapa faktor yang disepakati Clara maupun Helen mengapa konsumen memilih kue buatan mereka. “Kita lihat juga di televisi, banyak makanan yang dibuat secara tidak bertanggung jawab. Bagi orang-orang yang mampu, mereka sangat mempertimbangkan faktor keamanan makanan,” tutur pemilik toko yang memiliki moto: “memberikan solusi untuk konsumen” ini.

Clara dan Helen sepakat bahwa di sinilah letak peluang untuk memasuki bisnis kue berbahan baku terpilih. Kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang higienis semakin tinggi, itulah alasan utamanya. Karena itu, tak mengherankan bila harga yang ditawarkan toko kue milik Helen berkisar antara Rp 90-200 ribuan. “You get what you favor,” ujarnya menandaskan. “Jadi, harga bukanlah halangan untuk mendapatkan apa yang kita sukai,” tambahnya.

Di benak Clara, tidak pernah terpikirkan bahwa usaha yang dimulainya dari rumah bisa mencapai titik seperti sekarang. “Tidak pernah terpikir Clara’s Cake bisa sebesar ini,” katanya sambil tersenyum. Menurut Clara ini semua tidak lepas dari anugerah Tuhan yang menggerakkan hati partnernya. “Seperti yang saya bilang, tidak terlepas dari anugerah Tuhan yang menggerakkan hati alm. Ken Sudarto pemilik Matari Advertising dan istrinya, ibu Silvi, untuk membantu bisnis saya secara finansial,” katanya.

Diakui Clara, di awal membangun usaha ini ia tidak punya modal. “Saat itu lagi krismon (1998-an) lalu saya bicara dengan alm. pak Ken. Saya katakan, tolong dukung usaha kue saya ini. Saya bilang yang namanya makanan mau krismon atau tidak, orang pasti butuh. Beliau mendukungnya dan akhirnya saya berpartner dengan ibu Silvi,” tutur Clara bercerita. Dukungan tersebut diperoleh Clara selama dua tahun (1998-2000). “Pak Ken bilang, bisnis ini menjanjikan. Jadi beliau terjun untuk mempromosikan seperti membuat brosur karena latar belakang beliau periklanan,” ungkap pemilik resep andalan cheese cake dan coffee Brazil cake ini.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 76 Juli - Agustus 2010
Masa Depan SDM Sekretaris, Tetap Eksis di Segala Situasi dan Kondisi