Siapa yang Membayar “Buffer” dalam Outsourcing?

Pertanyaan :

Kami punya kontrak kerja dengan salah satu hotel di Bali dan diberi kepercayaan untuk merekrut karyawan (reception dll). Kendalanya, hotel tersebut meminta kami menyiapkan "buffer", yaitu pengganti sewaktu-waktu untuk pekerja yang sakit atau cuti. Buffer tersebut tidak dibayar oleh pihak hotel, melainkan kami sebagai penyedia outsource yang membayar mereka. Buffer tersebut harus stanby di kantor kami. Apakah ini adil? Kami bingung, mesti dipekerjakan sebagai apa para buffer itu di kantor kami? Apakah ada undang-undang yang menyebutkan tentang "pegawai pengganti"?


Jawaban :

Perjanjian kerjasama outsourcing ada dua macam:

1. Labour Supply. Di sini perusahaan outsourcing menyediakan tenaga kerja sesuai dengan yang diminta, misalnya 2 orang receptionist. Jika salah satu dari mereka sakit, maka sesuai UU dijamin sakitnya dengan tetap digaji. Perusahaan tidak menyediakan penggantinya, karena management fee yang dibayarkan hanya untuk menyediakan dua orang itu saja.

2. Full Outsourcing. Perusahaan outsourcing menjamin bahwa misalnya setiap hari akan ada 10 orang SPG di suatu tempat, maka perusahaan pengguna atau user membayar bukan 10 SPG tapi juga termasuk buffer-nya atau penggantinya, misalnya 11 orang. Jadi setiap hari si buffer atau cadangan tetap masuk untuk mengantisipasi jika ada yang tidak masuk pada hari itu dan dia bertugas menggantikan.

Jadi kalau Anda tidak dibayar untuk menyediakan buffer, maka tidak bisa diminta menyediakan buffer. Sebab akan merugikan perusahaan Anda.