Menghadapi Bos yang Perfeksionis

Pertanyaan :

Bagaimana menghadapi pemimpin yang cenderung perfeksionis dan tak mau mendengar "suara" bawahan?


Jawaban :

Salam sejahtera Sdr. Ragil,

Atasan yang perfeksionis biasanya menginginkan pekerjaan para bawahan diselesaikan sesuai standar yang mereka tetapkan. Dalam hal ini yang perlu Anda ketahui sebagai seorang bawahan adalah bagaimana memenuhi harapan mereka tanpa harus Anda merasakan cemas atau takut, sehingga energi Anda benar-benar dapat didedikasikan pada penyelesaian tugas, disamping Anda pun tetap merasakan manfaat dan senang hati. Artinya, selalu dapat ditemukan titik temu antara harapan atasan dan "deliverables" yang harus Anda berikan tanpa satu sama lain menjadi terlibat dalam konflik personal atau menaruh prasangka.

Pertama, pahami tipe kepribadian atasan Anda dan kenali motif dibalik perilku perfeksionisnya. Jika yang dia sukai adalah kerja cepat dan tuntas, maka lakukanlah. Keinginan seorang perfeksionis adalah "zero error" dan berkeinginan bahwa semua kejadian dapat diramalkan, maka dari itu mereka bertindak over hati-hati, logis dan rasional. Jika Anda sebagai bawahan dapat bekerja perfect tentunya hal ini tidak hanya memuaskan atasan, Anda pun akan menarik manfaat baru yakni kompetensi dan keterampilan yang akan Anda bawa kemana pun Anda pergi, meskipun di kemudian hari Anda tidak lagi menjadi bawahannya.

Kedua, berdamailah dengan gaya pribadi yang memang perfeksionis. Mereka biasanya menginginkan setiap tahapan proses kerja dilakukan dengan benar sesuai standar, tertib dan akurat. Berdamai di sini dimaksukan bahwa Anda harus dapat mengambil titik positif dari supervisi perfeksionis yang dilakukan atasan. Jika atasan terkesan tidak mau mendengar suara bawahan, boleh jadi hal itu karena merasa yakin bahwa standar yang mereka tetapkan sudah teruji keandalannya untuk kelangsungan pekerjaan di organisasi. Coba Anda temukan titik terbaik dari standar yang mereka tetapkan. Siapa tahu Anda belum memiliki perspektif itu.

Ketiga, coba cari teknik modifikasi perilaku yang membuat Anda dapat mendekati atasan perfeksionis itu sesuai dengan comfort zone mereka. Jika seseorang didekati dalam area comfort zone-nya, biasanya akan lebih terbuka dan akhirnya komitmen hubungan yang bersifat timbal balik jadi lebih besar peluangnya. Bermigrasilah ke area yang membuat mereka nyaman. Perlu diingat, atasan juga manusia biasa, mereka juga senang dipenuhi kebutuhan atau motif-motifnya. Atasan sepeti ini senang "speaks by data". Jika Anda ingin berargumen mengenai cara kerja yang berbeda, atau jika Anda sebagai bawahan memiliki gagasan baru maka Anda harus bisa mengungkapkan alasan logis dan rasional beserta data fakta yang lengkap, dokumentasi yang lengkap yang mendukung gagasan Anda yang baru tersebut.

Mereka biasanya lebih senang didekati dengan persoalan tugas daripada persoalan yang menyangkut perasaan. Biasanya mereka sendiri kurang nyaman masuk ke ranah pribadi dan bertemu dengan konflik. Jadi Anda sendiri pun harus bisa membangun kepercayaan mereka melalui bukti kerja nyata. Ajak teman-teman Anda untuk memahami gaya kerja atasan seperti itu. Perlu dimengerti jika gaya pendekatan mereka pun seolah-olah tidak mau mendengar suara bawahan, tapi belum tentu demikian tujuan mereka. Melainkan, mereka ingin para bawahan bisa lebih memberikan bukti cara kerja yang lebih baik jika memang ada dan bisa diterima alasan logis rasionalnya.

Selamat mencoba dan salam hangat.