Memilih Saham atau Bonus?

Pertanyaan :

Bapak Irwan yang saya hormati



Begini pak, saya adalah karyawan sebuah perusahaan kecil-menengah. Di perusahaan kami sudah sejak beberapa tahun tidak diberikan bonus. Sebagai gantinya, para karyawan diberikan saham secara kolektif sebesar 10%. Hitung2an kami dengan saham sebesar 10% jika dikonversi dalam bentuk uang jumlahnya terlalu sedikit, kira2 secara umum hanya 1/8 dari total gaji karyawan sebulan (Saat bonus dibagikan biasanya hitungannya karyawan dapat 1 kali gaji). Tentu ini merugikan kami. Lain misalnya jika perusahaan kami adalah perusahaan besar yang sahamnya besar.



Yang saya tanyakan adalah menurut bapak lebih bagus mana menerima kompensasi saham 10% sebagai pengganti bonus atau kami tetap menuntut bonus. Kedua, apakah bonus ada dalam UU tenaga kerja? Demikian pertanyan , atas jawaban bapak saya sampaikan terima kasih banyak.




Jawaban :

Halo Pak Akbar,





Terima-kasih atas pertanyaannya, dan mohon maaf karena kesibukan yang ada
selama ini, pertanyaan Bapak baru dapat saya balas sekarang.





Pertanyaan 1: Memilih bonus atau saham?





Memberikan saham kepada karyawan umumnya dilakukan perusahaan dengan
beberapa tujuan, antara lain:
1. Perusahaan ingin membangun rasa kepemilikan (ownership) karyawan terhadap
perusahaan.
2. Perusahaan tidak memiliki modal kerja yang cukup untuk membiayai gaji
karyawan atau perusahaan ingin menekan biaya kepegawaian.
3. Perusahaan ingin mempertahankan karyawan-karyawan pilihan.





Pertama, dengan memiliki saham perusahaan, karyawan diharapkan dapat
berpikir dan bersikap layaknya pemilik perusahaan. Ada perubahan mind-set
dari “pegawai” menjadi “pemilik” yang ingin dibentuk. Seorang pemilik
perusahaan tentu ingin perusahaannya maju dan berkembang, sehingga mereka
akan bekerja sebaik mungkin untuk mencapai tujuan tersebut, termasuk ketika
kondisi perusahaan menurun sekalipun. Dengan menjadi pemilik perusahaan,
karyawan diharapkan dapat menikmati hasil kerja keras mereka, yaitu dengan
meningkatnya nilai saham (dan dividen) yang mereka miliki ketika perusahaan
maju. Namun, di sisi lain, karyawan juga diharapkan tetap turut berusaha
sebaik-mungkin memajukan perusahaan ketika perusahaan sedang menghadapi
kesulitan.





Kedua, perusahaan memberikan saham kepada karyawan sebagai pengganti atau
sebagai bagian dari kompensasi (tunai). Para enterpreneur yang tidak
memiliki cukup modal kerja menggunakan saham (atau stock option) sebagai
cara untuk menarik dan mengkompensasi karyawan. Ini, misalnya, terjadi pada
demikian banyak perusahaan “dot.com”. Bila perusahaan berkembang, walau gaji
(tunai) mungkin kecil, nilai saham yang dimiliki dapat berlipat-ganda.
Kenyataannya, banyak karyawan-karyawan “biasa” di Yahoo, Google, maupun
Microsoft, yang menjadi miliuner karena saham-saham yang mereka terima
ketika perusahaan-perusahaan tersebut baru dilahirkan sekarang nilainya
berlipat-ganda seiring dengan pesatnya perkembangan perusahaan. Namun, juga
banyak karyawan di berbagai perusahaan yang tidak mendapatkan apa-apa karena
perusahaan tidak bertumbuh atau bahkan mati, sehingga nilai saham yang
diterima menjadi tidak berarti.





Ketiga, perusahaan memberikan saham kepada karyawan untuk mempertahankan
mereka selama periode waktu tertentu, misalnya 3 tahun ke depan. Karena
setiap orang (khususnya pemilik perusahaan) ingin perusahaan menjadi maju,
maka nilai saham diharapkan dapat terus meningkat dengan berkembangnya
perusahaan. Memberikan saham kepada karyawan diharapkan membuat karyawan
tidak meninggalkan perusahaan, karena bila itu terjadi karyawan dapat
kehilangan kesempatan untuk menikmati pertambahan nilai dari saham tersebut.





Lepas dari apapun tujuan perusahaan dalam memberikan saham kepada karyawan,
dari kacamata karyawan, yang umumnya dilihat pada akhirnya adalah besarnya
“nilai” kompensasi yang akan diterima, diukur pada saat ini dan di masa
depan, serta kepastian (resiko) untuk menerimanya. Pilih bonus 1x gaji atau
saham dengan nilai 1/8x gaji? Jawabannya bisa tidak sama untuk setiap
karyawan, karena profil resiko setiap orang bisa berbeda, seperti contoh
orang-orang yang memilih bekerja atau tidak bekerja bagi perusahaan dot.com
di atas. Ada karyawan yang akan dengan senang-hati menerima saham dengan
nilai saat ini yang relatif lebih kecil dibandingkan bonus, karena mereka
berharap dan percaya bahwa perusahaan akan maju dan berkembang sehingga
nilai saham yang mereka miliki bisa berlipat-ganda dan jauh melebihi nilai
bonus yang umumnya diterima. Namun, ada juga yang tidak ingin mengambil
resiko mendapatkan nilai saham yang tidak meningkat di kemudian hari karena
perusahaan tidak berkembang, dan lalu memutuskan mendapatkan bonus 1x gaji
yang lebih pasti diterima pada saat ini.





Untuk mengambil keputusan dengan lebih baik, coba Bapak diskusikan dan
dapatkan informasi lebih banyak dari manajemen mengenai arah perkembangan
bisnis perusahaan dalam periode waktu yang disepakati bersama. Layaknya
calon investor dan pemilik perusahaan, pelajari seluruh resiko bisnis dan
non-bisnis yang ada dan bagaimana ini akan mempengaruhi nilai saham
perusahaan (dan saham yang dimiliki karyawan) terhadap waktu. Dengan
data-data yang lebih banyak, karyawan dapat menimbang-nimbang dengan lebih
baik, mana yang lebih menguntungkan dari segi nilai terhadap waktu (dan
resiko); mendapatkan bonus yang relatif lebih pasti saat ini atau mengambil
saham kepemilikan yang ditawarkan.





Selain mempelajari nilai finansial masing-masing pilihan (bonus atau saham)
terhadap waktu, juga akan membantu mempelajari bagaimana perusahaan mengatur
proses administrasi dan hukum dari pemberian saham ini kepada karyawan
maupun penjualannya. Apa yang terjadi dengan saham yang diberikan bila
karyawan meninggalkan perusahaan, pada saat atau sebelum waktu yang
disepakati bersama misalnya? Apakah karyawan dapat menjual saham yang
diterima ke pihak luar perusahaan? Bila tidak bisa, bagaimana menentukan
nilai saham pada saat penjualan? Siapakah yang akan menanggung biaya
administrasi valuasi nilai saham serta penjualannya? Berapa lama waktu yang
diperlukan untuk melakukan penjualan dan menerima pembayaran? dstnya.
Informasi mengenai hal-hal ini akan membantu Bapak untuk mengambil keputusan
dengan lebih baik.






Pertanyaan 2: Apakah bonus ada dalam UU Tenaga Kerja?
UU No.13 tahun 2003 tentang Tenaga Kerja hanya membicarakan masalah besar
dan komposisi upah dan tidak secara spesifik membahas masalah bonus.





Demikian masukan dari saya. Semoga membantu. Salam.