Orang HR kok BIGOS

Pertanyaan :

Bagaimana menghadapi HRM yang bigos @portalhr? Pertanyaan dari Twitter: @hime_santi


Jawaban :

Orang HR bergosip…? Hm, itu biasa terjadi di organisasi, karena orang HR secara tidak sadar terkadang “sangat menikmati” berada di tengah lingkaran drama organisasi. Betapa tidak, semua masalah personal dan masalah nasib karyawan ada di seputaran pengetahuan mereka, dan kebanyakan orang HR terjebak untuk merasa menjadi orang yang penting dan dibutuhkam banyak pihak di organisasi.

Hal ini memang biasa terjadi karena seolah menjadi takdir bahwa orang HR adalah tempat curhat dan tempat bertanya untuk berbagai hal.

Bicara hal yang ideal, maka tentunya sebaiknya sebagai orang HR memang tidak bergosip apalagi menjadi sumber gosip karena syarat dasar menjadi orang HR yang baik di antaranya adalah memiliki kompetensi dan skill di bidang HR, mengenal bisnis organisasinya dengan baik, menjadi penyeimbang yang baik antara keinginan perusahaan dan aspirasi karyawan serta satu hal ini yang sangat penting adalah “personal credibility.”

Apa yang saya maksud dengan personal credibility adalah bahwa orang HR dituntut menjadi orang yang dapat dipercaya dan tentunya jauh dari sebutan biang gosip. Saya rasa sebagai sifat dasar manusia sangat sulit untuk menjadi orang yang menjaga rahasia dan low profile, oleh sebab itu divisi HR harus memiliki seorang yang dituakan dan dipanuti dan pantas sebagai role model di organisasinya, bukan tua dari  segi umurnya tetapi dituakan karena sifatnya yang bijak.

Saya sangat setuju bahwa khusus untuk praktisi HR di organisasi secara periodik dipantau oleh atasan maupun senior manajemen di organisasi. Divisi HR harus menyediakan kotak aduan dan saran maupun email terbuka agar semua “customer” atau “stake holder” dapat memberikan feed back secara langsung dan bertanggung jawab.

Khusus untuk orang HR yang biang gosip perlu mendapat peringatan dari atasannya dengan dasar-dasar masukan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Apabila orang tersebut mendapatkan kartu kuning berkali-kali maka sudah selayaknya dia segera dibebastugaskan sebagai orang HR.

Ada cerita yang menarik bagaimana seorang HR harus memiliki mental yang kuat dan mampu bersikap dewasa. Saya pernah memindahkan seorang karyawan keuangan untuk menjabat menjadi compensation and benefit manager karena kebetulan posisi tersebut kosong dengan  asumsi bahwa dari segi kompetensi keuangan paling tidak dia memadai.

Yang terjadi kemudian dia merasakan tidak kuat melihat data gaji karyawan dan tiba-tiba merasa menjadi orang yang paling malang sedunia karena melihat besaran gaji rekan kerja dan atasan-atasannya. Pada akhirnya karyawan tersebut tidak sanggup mengendalikan perasaannya dan mengundurkan diri karena merasa sangat kecewa terhadap besaran gajinya. Dalam pertimbangan saya rasanya itu lebih baik untuk dia daripada dia minta dipindahkan lagi keluar HR dan bergosip ria di luaran.

Sebagai  orang HR yang tahu mengenai rahasia teramat pribadi dari gaji orang di perusahaan setidaknya Anda harus sedikit mati rasa dan besar hati. Data gaji hanyalah angka yang pantas dibicarakan kepada pihak yang tepat yaitu atasan atau manajemen yang terkait dan sama sekali bukan untuk didiskusikan atau digosipkan.

Begitu juga semua hal mengenai karir, promosi atau masalah seseorang misalnya peringatan lisan maupun tertulis hingga masalah-masalah pribadi seseorang yang diadukan oleh istrinya yang sangat pencemburu.

Jadi siapa bilang jadi orang HR itu mudah ?…

Tags: ,