Sistem Pengelolaan Perusahaan dan Keuangan yang Ideal

Pertanyaan :

Perusahaan saya sudah berdiri sejak tahun 2004 yang bergerak di bidang kontraktor baja dan jasa tenaga kerja kalau dilihat dari usia sudah beranjak kepada usia kemapanan baik di segi Keuangan, pendapatan dan menajemen akan tetapi saya sebagai pimpinan menilai pengelolaan perusahaan yang dimaksudkan belum tercapai. Yang ingin saya tanyakan adalah: 1. Pengelolaan perusahaan yang baik menggunakan system apa? 2. Keuangan perusahaan yang bagaimana dikatakan keuangan yang sehat? 3. Apa Langkah yang terbaik dilakukan pimpinan untuk membenahi perusahaan yang sedang pemulihan keuangan? Mohon diberikan sulusi yang terbaik untuk pembenahan perusahaan yang sedang saya pimpin. terima kasih Muslimin


Jawaban :

Dear Pak Muslimin,

Pertanyaan Bapak merupakan pertanyaan terberat dan paling menantang yang pernah saya dapatkan sampai dengan saat ini.

Sepanjang pengalaman saya dalam manajemen perusahaan pertanyaan yang Pak Muslimin ajukan juga merupakan pertanyaan klasik yang sudah lama ada namun belum ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut.

Oleh karena itu, di tengah keterbatasan yang saya miliki, saya akan mencoba membahas pertanyaan yang Pak Muslimin ajukan. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

1. Pengelolaan perusahaan tergantung dari skala dan kapasitas perusahaan tersebut. Karena ada perusahaan dengan skala lokal, nasional sampai internasional memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Serta untuk perusahaan dengan kapasitas kecil, menengah ataupun besar juga memiliki pendekatan yang berbeda-beda. Oleh karena itu saya akan mencoba menjawab secara universal mengenai sistem pengelolaan perusahaan yang baik menurut pendapat dari para panutan berikut ini.

a. Salah satu perusahaan Ciputra Group lebih menekankan pada pengelolaan risiko yang baik supaya dengan risiko yang kecil dapat memperoleh hasil yang maksimal. Lebih lengkap mengenai hal ini Pak Muslimin bisa baca di sini. Salah satu alasan saya memberikan contoh dari salah satu perusahaan Dr. Ir. Ciputra adalah karena dia dikenal sebagai entrepreneur yang berhasil dari Indonesia serta dia melibatkan dirinya secara aktif untuk membangun Budaya Entrepreneur di Republik Indonesia. Dan dia percaya untuk membuat Indonesia menjadi Negara berkembang membutuhkan sedikitnya 4 juta Entrepreneur seperti Pak Muslimin dan para pengusaha-pengusaha lainnya.

b. Menurut Rhenald Kasali (Rhenald dinobatkan menjadi guru besar Ilmu Manajemen di Universitas Indonesia sejak 4 juli 2009), berpendapat bahwa titik awal berpikirnya bukanlah dari produk melainkan mengutamakan pasar. Jadi apapun sistem pengelolaan yang akan dilakukan oleh perusahaan haruslah berorientasi pasar. Lebih jauh mengenai hal ini dapat Pak Muslimin baca di sini. Jika sistem pengelolaan yang kita bangun tidak sejalan dengan keinginan pasar, sebagus apapun sistem pengelolaan tersebut hanya bermanfaat untuk internal. Kalau tidak ada manfaatnya untuk external/pasar, lambat laun mereka akan keberatan dengan sistem yang kita lakukan sehingga mulai meninggalkan kita. Contoh kongkritnya bisa kita lihat pada produk handphone yang silih berganti popularitasnya sepanjang 10 tahun terakhir ini tergantung dari keinginan pasar yang berubah-ubah.

c. Gaya Manajemen dari Bill Gates adalah seorang yang agressif dan sangat kompetitif. Dia ingin dominan dan menguasai pangsa pasar di manapun dia berada. Lebih lengkap mengenai hal ini dapat Pak Muslimin lihat di sini. Namun setelah tanggal 15 Juni 2006 Gates mulai bertransisi dari perusahaannya Microsoft ke yayasan Bill & Melinda Gates Foundation. Sekarang Bill Gates dikenal sebagai seorang donatur internasional yang paling banyak memberikan donasinya untuk kemanusiaan dan tetap agressif serta dominan ketika menjadi donatur.

d. Sistem pengelolaan perusahaan yang baik menuntut dibangun dan dijalankan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan (GCG) dalam proses manajerial perusahaan. Dengan mengenal prinsip-prinsip yang berlaku secara universal ini diharapkan perusahaan dapat hidup secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi para stakeholder-nya. Lebih lengkap mengenai prinsip-prinsip GCG dapat Pak Muslimin lihat di sini. Menurut saya ini sudah lebih dari cukup kalau Pak Muslimin ingin terapkan di perusahaan Bapak saat ini.

e. Terakhir yang ingin saya kutip adalah dari Paulus Bambang WS yang ingin perusahaan melangkah lebih jauh lagi sebagai saluran rahmat bagi pemegang saham dan semua pemangku kepentingan. Dia menyarankan sebuah sistem perusahaan yang berguna dan bermanfaat bagi karyawan, pemegang saham, lingkungan dan bangsa. Lebih lengkap mengenai hal ini dapat Pak Muslimin baca dari buku Built to Bless. Intinya adalah ketika mengelola perusahaan haruslah berasal dari hati kita sendiri, serta melakukan pekerjaan yang kita senangi, ini lebih ke arah pribadi kita masing-masing dalam mengelola suatu perusahaan supaya menjadi perusahaan yang menjadi rahmat bagi siapapun.

2.  Mengenai keuangan perusahaan yang bagaimana yang dinyatakan sehat juga tergantung dari skala dan kapasitas perusahaan itu. Tapi sebenarnya untuk melihat secara keseluruhan keuangan perusahaan yang sehat, setidaknya dilihat dari seluruh sudut pandang berikut ini:

a. Dari segi Rasio Aktivitas keuangannya ada 3 (tiga) yaitu aktivitas penggunaan dana, aktivitas perolehan dana dan aktivitas pengelolaan aktiva. Misalnya penagihan periode rata-rata atau Average Collection Periode (ACP) dan Rasio perputaran total aktiva (Total Asset Turn Over).

b. Dari segi Rasio Likuiditasnya; Likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban-kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi melalui posisi keuangan jangka pendek perusahaan. Misalnya Rasio Lancar (Current Ratio), Rasio Cepat (Quick Ratio), Rasio Kas (Cash Ratio), Rasio Aktiva Lancar dan Total Aktiva.

c. Dari segi Rasio Solvabilitas. Solvabilitas dimaksudkan sebagai kemampuan suatu perusahaan untuk membayar hutang-hutangnya, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Misalnya Rasio Modal dengan Total Aktiva (Owners Equity to Assets Ratio), Rasio Modal Sendiri dengan Aktiva Tetap (Owner Equity to Fixed Assets Ratio) dan Rasio Aktiva tetap dengan hutang jangka panjang.

d. Dari segi Rasio Profitabilitas. Rasio profitabilitas adalah hasil bersih dari berbagai kebijaksanaan dan keputusan, rasio ini memberikan jawaban akhir tentang seberapa efektif perusahaan dikelola. Misalnya Laba bersih terhadap penjualan (Profit margin on sales), Rasio hasil pengembalian atas investasi atau return on investment (ROI) dan Rasio hasil pengembalian atas ekuitas atau return on equity (ROE).

Mengenai pembahasan rumus perhitungan dan penjelasan tiap butir-butir di atas beserta contohnya, maka Pak Muslimin bisa membacanya lebih lanjut di sini.

3. Mengenai langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh Pak Muslimin untuk memulihkan keuangan perusahaan bisa kita ambil dari beberapa contoh berikut:

a. Dari tulisan Andi Mattuju dilakukan langkah-langkah Hentikan Pendarahan, Bangun kepercayaan melalui keyakinan dan komunikasi dan Menyusun kekuatan. Tulisan dari blog tersebut telah dipublikasikan oleh majalah inspirasi usaha pada edisi November 2013.

b. Sedangkan Pak Tung Desem Waringin memberikan tips 7 cara membuat perusahaan Anda menjadi besar. Silahkan Pak Muslimin baca tips-tipsnya dalam link berikut.

Semoga pembahasan kami di atas dapat memberikan solusi terbaik bagi Pak Muslimin untuk pembenahan perusahaan yang Bapak pimpin. Untuk mendapatkan gambaran pembahasan yang lengkap sebaiknya Pak Muslimin melihat ke dalam link-link pembahasan dengan mengklik huruf yang berwarna biru. Semakin banyak informasi yang Pak Muslimin terima, kami berharap semakin memantapkan langkah-langkah yang akan Pak Muslimin ambil ke depannya.

Demikian pendapat kami semoga dapat membantu Pak Muslimin. Selamat berkarya.

David Tampubolon

Tags: ,