Penjelasan “hari berturut-turut” dalam Perundangan

Pertanyaan :

Saya ingin penjelasan tentang "hari berturut-turut" dalam defini perundangan, misalkan, A bekerja dalam waktu 5-1 (5 hari kerja 1 hari libur), pada hari ke-3, ke-4, ke-5 tidak masuk, hari ke-6 libur, dan hari berikutnya (hari ke-1) tidak masuk, apakah 4 hari tersebut masuk dalam kategori "berturut-turut" ??? mohon penjelasannya, terima kasih


Jawaban :

Selamat Pagi Pak Dwi,

Kami akan mencoba membantu menjelaskan pertanyaan yang Bapak ajukan terlebih dahulu, mengenai penjelasan tentang “hari berturut-turut” tersebut diambil dari UU No 13 thn 2003 tentang Ketenaga Kerjaan, salah satunya pada PASAL 168 yang menyatakan:

(1) Pekerja/buruh yang mangkir selama 5 (lima) hari kerja atau lebih berturut-turut tanpa keterangan secara tertulis yang dilengkapi dengan bukti yang sah dan telah dipanggil oleh pengusaha 2 (dua) kali secara patut dan tertulis dapat diputus hubungan kerjanya karena dikualifikasikan mengundurkan diri.

Dan PENJELASAN PASAL 168 yang menyatakan:

Ayat (1) Yang dimaksud dengan dipanggil secara patut dalam ayat ini adalah pekerja/buruh telah dipanggil secara tertulis yang ditujukan pada alamat pekerja/buruh sebagaimana tercatat di perusahaan berdasarkan laporan pekerja/buruh. Tenggang waktu antara pemanggilan pertama dan kedua paling sedikit 3 (tiga) hari kerja.

Sehingga berdasarkan Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 168 ayat (1) menyimpulkan bahwa pekerja/buruh yang mangkir selama 5 (lima) hari kerja atau lebih berturut-turut dapat diputus hubungan kerjanya karena dianggap sebagai mengundurkan diri.

Namun pengusaha baru dapat memutuskannya setelah pekerja/buruh yang bersangkutan dipanggil 2 (dua) kali secara patut dan tertulis sesuai penjelasan pasal 168 ayat (1) Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Kita kembali kepada pertanyaan yang Pak Dwi ajukan, mengenai contoh yang Bapak gunakan yaitu pola kerja 5:1 sebenarnya kurang tepat, karena Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menganut pola kerja 5:2 atau 6:1 bukan 5:1 seperti contoh yang Bapak berikan, untuk penjelasan mengenai hal ini dapat Pak Dwi baca di sini.

Sedangkan pertanyaan mengenai adanya hari off/libur diantara hari kerja, maka hari off/libur tersebut dapat dikecualikan atau tidak perlu diperhatikan, karena fokus pada Pasal 168 ayat (1) adalah hari kerja. Sehingga apabila menggunakan contoh yang Pak Dwi berikan, yaitu diantara hari kerja ada hari off/libur maka setelah kembali kepada hari kerja setelah hari off/libur namun karyawan tersebut tetap tidak ada maka hari kerja setelah hari off/libur masih dikategorikan sebagai “hari berturut-turut” sesuai Pasal 168 ayat (1).

Demikian pendapat kami semoga dapat membantu Pak Dwi. Selamat berkarya.
David Tampubolon

Tags: , ,