Menghadapi Karyawan yang Sering Sakit

Pertanyaan :

Saat ini saya sedang menangani karyawan yang sering sakit. Dalam seminggu ybs sering 4 hari tidak masuk namun keterangan dokternya hanya 2 hari (2 hari sakit tanpa ket dokter dan 2 hari dengan ket dokter). Rata-rata hari kerja ybs per minggu adalah 2 hari. Ketika sakit, ybs tidak pernah memberikan informasi ke kantor sehingga baru ketahuan sakit ketika hari pertama masuk bekerja. pernah ybs 3 hari tidak masuk tanpa keterangan sehingga pada akhirnya saya mengeluarkan SP 3 (saat menerima SP 3, ybs masih dalam periode menjalani SP 1 atas pelanggaran kedisiplinan/absensi). Setelah SP 3, ybs masih sering tidak masuk tetapi maksimal alpa hanya 2 hari. pada pertengahan Mei saya memanggil ybs dan terjadi kesepakatan bhw ybs tidak akan pernah alpa lagi. Namun ternyata di akhir Mei ybs kembali tidak masuk bekerja selama 5 hari berturut-turut. Saya kemudian mengirimkan surat panggilan pertama kepada ybs. Ternyata keesokan harinya, ybs masuk bekerja dengan membawa keterangan dokter yang menyatakan ybs perlu istirahat 2 hari (sehingga dari 5 hari berturut-turut tadi alpa = 3 hari, sakit = 2 hari). Pertanyaan saya: 1. kira-kira apa langkah atau solusi terbaik untuk case seperti ini? 2. apakah bisa dilakukan PHK kepada ybs dan apakah ybs masih berhak atas pesangon? Mohon pencerahannya Terima kasih atas bantuannya. Regards, Yospina


Jawaban :

Dear Ibu Yospina,

Terima kasih untuk sharing pengalaman yang sedang terjadi di tempat Ibu. Dan semoga dalam aktifitasnya setiap hari kita tidak lebih banyak menghabiskan waktu kerja kita untuk mengurus karyawan yang bermasalah dibandingkan waktu kerja yang kita berikan untuk melakukan pengembangan bagi karyawan yang tidak bermasalah.

1. Mengenai pertanyaan langkah-2 apa yang bisa kita lakukan untuk hal tersebut sangatlah beragam, seperti hal-2 berikut ini:

a. Lakukan analisa yang mendalam terhadap sakit karyawan tersebut, apakah dari surat sakit yang dokter berikan dikarenakan sakit yang sama dari bulan ke bulan. Kalau benar, cobalah untuk menyarankan melakukan rujukan supaya berobat ke tingkat yang lebih tinggi (ke dokter spesialis) dan apabila diperlukan silakan lakukan analisa melalui laboratorium Rumah Sakit.

b. Lihat hasil Medical Check Up (MCU) karyawan tersebut, adakah hasil dari MCU tersebut yang mengindikasikan untuk mengalami sakit sesuai dengan surat keterangan dokter yang Ibu terima. Kalau berbeda dan Ibu merasa untuk perlu memeriksa kebenaran surat dokter tersebut, telephone dokter sesuai dengan no telephone di surat keterangan dokter tersebut, sampaikan bahwa Ibu dari perusahaan yang menerima surat sakit dari karyawan yang bekerja di tempat Ibu.

c. Interview kembali karyawan tersebut dengan menanyakan permasalahan yang dihadapi dari dua sisi, yaitu sisi internal dan sisi eksternal.

i. Sisi internalnya adalah bisa berasal dari dirinya sendiri (apakah karyawan tersebut bekerja berdasarkan perasaan yang ia alami, misalnya saat senang baru dia bekerja saat tidak senang maka ia tidak bekerja), ataukah berasal dari keluarganya, saudaranya sampai lingkungan tempat tinggalnya.

ii. Sisi eksternalnya merupakan sisi kantor Ibu sendiri, jadi bisa saja ternyata sumber permasalahannya berasal dari teman sekerjanya, atasannya ataukah bawahannya yang menjadi sumber permasalahan sampai lingkungan tempat ia bekerja.

d. Surat Peringatan merupakan langkah terakhir yang kita lakukan dan hampir dalam banyak kasus surat peringatan tidak memiliki dampak signifikan untuk merubah karyawan. Sama seperti yang Ibu alami setelah dia mendapat SP 1 kemudian mendapat SP 3 maka tidak ada perubahan yang signifikan terhadap absensinya. Hal ini merupakan sifat alami yang manusia lakukan, dalam keadaan tertekan maka manusia akan melawan secara alami. Salah satu bukti perlawanannya adalah tidak masuk kerja selama 5 (lima) hari. Dan saya yakin Ibu akan berputar-putar terus dikondisi ini. Padahal seharusnya Surat Peringatan adalah salah satu bukti perhatian kita (HRD) terhadap karyawan dan tujuan dikeluarkan Surat Peringatan bukanlah PHK melainkan perubahan bagi karyawan tersebut dengan tidak melakukan kesalahannya lagi. Kalau karyawan berubah menjadi baik barulah Surat Peringatan yang kita (HRD) keluarkan dinyatakan berhasil.

2. Mengenai PHK yang akan Ibu lakukan, mungkin saja hal ini merupakan tujuan akhir yang Ibu inginkan. Dan juga bisa saja hal ini juga merupakan tujuan akhir perlawanan karyawan bermasalah tersebut. Berarti baik Ibu maupun karyawan yang bermasalah memiliki tujuan yang sama yaitu PHK. Dengan melakukan PHK maka Ibu akan “terbebas” dari karyawan yang bermasalah sedangkan bagi karyawan yang bermasalah dengan di PHK maka ia akan mendapatkan “uang pesangon”. Semua pihak berhasil mencapai tujuan yang ternyata “sama” bukan? Kita (HRD) mungkin saja mengalami hal ini terus karena sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan sebelum memberikan Surat Peringatan sebagaimana yang saya jelaskan sedikit pada jawaban no 1.

Demikian pendapat kami semoga dapat membantu Ibu Yospina. Selamat berkarya.

David Tampubolon

 

Tags: , ,