Kontrak Kerja SPG Bir yang Keluar-Masuk

Pertanyaan :

Perusahaan saya adalah perusahaan distributor tunggal minuman beralkohol alias bir yang diimpor langsung dari Singapore. Untuk mengenalkan dan meningkatkan penjualan kami meng-hire SPG bir yang ditempatkan di pujasera-pujasera. Yang saya ingin tanyakan, bagaimana cara membuat kontrak kerja bagi seorang SPG yang setiap bulan ada keluar-masuk. Apakah dengan adanya keadaan SPG yang sering gonta ganti (keluar-masuk) dapat diikutsertakan dalam program JAMSOSTEK ?? Karna bagi perusahaan tidak efektif dan efisien. Mohon bimbingan nya...  


Jawaban :

Dear Ibu Margareth,

Pada umumnya di dalam praktek untuk kontrak kerja SPG terbagi atas dua jenis, hal ini berdasarkan dari jangka waktu yang dibutuhkan dari SPG tersebut, yakni:

1. SPG Proyek/Event yang menggunakan Kontrak Harian dikarenakan jangka waktu yang terbatas hanya untuk sebuah kegiatan/acara/event tertentu yang paling lama diselenggarakan dalam waktu sebulan.

2. SPG Internal Perusahaan yang menggunakan Perjanjian Kerja (baik PKWT maupun PKWTT), yang menjadi bagian dari Perusahaan yang beraktivitas rutin untuk memasarkan suatu Produk dari Perusahaan itu sendiri.

Berdasarkan informasi yang Ibu Margareth berikan, kami berpendapat bahwa SPG yang Ibu gunakan adalah SPG Internal Perusahaan, dan untuk SPG Internal Perusahaan pada umumnya menggunakan jenis Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, yang secara lebih lengkap dapat Ibu lihat di link berikut.

Dengan kondisi yang Ibu Margareth gambarkan, sebenarnya cara pandang perusahaan yang menyebutkan bahwa mengikut sertakan SPG dalam program JAMSOSTEK kurang efektif dan efisien adalah kurang tepat. Disamping program JAMSOSTEK merupakan keharusan yang tidak bisa dinegosiasikan lagi untuk perusahaan yang memiliki karyawan di atas 10 (sepuluh) orang, Ibu Margareth juga bisa menggunakan program JAMSOSTEK sebagai daya tarik perusahaan untuk mempertahankan SPG, sehingga SPG di tempat Ibu tidak sering keluar-masuk. Apabila diperlukan, Ibu boleh menambahkan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) dari Jamsostek untuk SPG. Dan dengan mendaftarkan SPG tersebut ke dalam asuransi kesehatan dari JAMSOSTEK semoga dapat membuat mereka lebih bertahan untuk tetap bekerja di perusahaan Ibu. Atau Ibu Margareth juga dapat menerapkan hal ini secara bertahap, misalnya sejak awal mereka sudah diikut sertakan ke dalam program wajib JAMSOSTEK (Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian). Kemudian setelah 3 (tiga) atau 6 (enam) bulan mereka akan mendapatkan tambahan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) mungkin dengan pendekatan seperti ini dapat mengurangi SPG yang keluar-masuk seperti kondisi saat ini.

Demikian pendapat kami semoga dapat membantu Ibu Margareth. Selamat berkarya.
David Tampubolon

 

Tags: