Kerja 21 Bulan, Perhitungan Cuti 9 Bulan Terakhir

Pertanyaan :

Dear Konsultan HRPertanyaan saya adalah Jika Karyawan Bekarja 21 Bulan dan mengajukan pengunduran diri secara baik-baik sudah menggunakan hak cuti 12 untuk 12 bulan bekerja berturut-turut. Lalu untuk 9 Bulan ditahun kedua yang sudah dilalui bagaimana perhitungan Cutinya? Mohon Penjelasannya. Terima kasih  


Jawaban :

Dear Mbak Irmawanty Banurea,

Dalam UU No 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan, terutama pada Pasal 79 ayat kedua butir (c)  dan Pasal 79 ayat ketiga menyatakan sebagai berikut:

c. cuti (istirahat) tahunan, sekurang kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus;

(3) Pelaksanaan waktu istirahat tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf c diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

Berdasarkan informasi yang Mbak Irmawanty berikan, untuk cuti tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja karena sudah bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus sudah diambil dan berjalan dengan baik, hal ini juga sesuai dengan Pasal 79 ayat kedua butir (c). Kemudian mengenai pengaturan cuti tahunan untuk tahun kedua setelah bekerja selama 9 (sembilan) bulan sesuai dengan Pasal 79 ayat ketiga di atas, maka Mbak Irmawanty wajib melihatnya dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama di dalam perusahaan sesuai dengan tempat karyawan tersebut bekerja. Hal ini yang paling benar dan dapat digunakan.

Kalau melihat pengaturan perusahaan pada umumnya mengenai teknis pelaksanaan cuti (istirahat) tahunan yang terdapat di dalam Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama pada beberapa perusahaan, maka teknis pengaturannya juga beragam antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, di bawah ini adalah sebagian contoh teknis pengaturan mengenai cuti (istirahat) tahunan, sebagai berikut:

1.      Berdasarkan tanggal masuk karyawan dan diberikan hanya setiap kelipatan masa kerja tahunan karyawan tersebut. Yaitu perhitungan cuti tahunan diberikan langsung 12 (dua belas) hari setiap kelipatan tahun masa kerjanya. Cara yang pertama ini sangat sering digunakan dalam peraturan perusahaan dan perjanjian kerja bersama. Misalnya karyawan mulai bekerja 1 Maret 2012, maka pada tanggal 1 Maret 2013, ia berhak atas cuti tahunan selama 12 (dua belas) hari, kemudian jika masih bekerja terhadap perusahaan yang sama pada tanggal 1 Maret 2014, maka karyawan tersebut berhak atas cuti tahunan kembali selama 12 (dua belas) hari. Namun jikalau ia bekerja hanya sampai 1 Februari 2013 atau 1 (satu) tahun 11 (Sebelas) bulan, tidak ada penambahan cuti (istirahat) tahunan kepada karyawan tersebut.

2.      Berdasarkan tanggal masuk karyawan, namun setelah tahun pertama bekerja diberikan cuti (istirahat) tahunan secara prorata. Melanjutkan contoh dalam no 1 di atas, maka apabila karyawan tersebut masuk pada tanggal 1 Maret 2012 dan berhenti bekerja pada tanggal 1 Februari 2014, berarti total masa kerjanya adalah 1 (satu) tahun 11 (sebelas) bulan, dan setelah mendapat 12 (dua belas) hari setelah bekerja selama 12 (dua belas) bulan, karyawan di dalam contoh ini masih mendapatkan perhitungan prorata 1 (satu) bulan kerja yang akan mendapatkan 1 (satu) bulan cuti tahunan. Sehingga bila kemudian masih bekerja selama 11 (sebelas) bulan lagi, karyawan ini mendapatkan 11 (sebelas) hari cuti (istirahat) tahunan secara prorata.

3.      Membuat perhitungan (cut off) cuti tahunan setiap tanggal 1 Januari di awal tahun, dan diberikan setelah karyawan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus. Misalnya sesuai dengan contoh diatas, apabila karyawan masuk bekerja pada tanggal 1 Maret 2012 kemudian mengundurkan diri pada 1 Februari 2014. Maka untuk periode yang 11 (sebelas) bulan sudah dapat diambil semenjak 1 Januari 2014 sebanyak 10 (sepuluh) hari. Dan perhitungan cuti (istirahat) tahunan pada tahun sebelumnya tidak hilang atau hangus melainkan kalau belum habis, maka sisanya akan ditambahkan 10 (sepuluh) hari kerja lagi.

4.      Ada juga perusahaan yang memberikan di awal karyawan mulai bekerja. Misalnya langsung sebanyak 12 (dua belas) hari kerja untuk cuti tahunan pada setiap kelipatan masa kerjanya setelah 12 (dua belas) bulan ke depan. Sepanjang ada pengaturan yang lebih baik dalam peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama, maka pengaturannya akan diambil berdasarkan ketentuan yang lebih baik dari pada UU no 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

5.      Dan masih banyak lagi teknis pengaturan yang berbeda-beda. Bahkan ada juga perusahaan yang memberikan cuti tahunan lebih dari 12 (dua belas) hari kerja, misalnya 14 (empat belas) hari kerja ataupun 28 (dua puluh delapan) hari kerja sebagai cuti (istirahat) tahunan. Hal ini sangat tergantung pengaturannya dalam peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama di dalam perusahaan sesuai dengan tempat karyawan tersebut bekerja.

Demikian pendapat kami semoga dapat membantu Mbak Irmawanty Banurea. Selamat berkarya.

David Tampubolon

 

 

Tags: