Bekerja di Perusahaan yang Banyak Melakukan Pelanggaran

Pertanyaan :

Saya bergabung di perusahaan saya bekerja saat ini per awal desember 2013, perusahaan ini adalah perusahaan yang dikelola langsung oleh pemiliknya, dengan total karyawan lebih dari 70 orang, setelah beberapa hari saya bekerja disini, saya menyadari bahwa banyak pelanggaran dalam hal ketenagakerjaan yang telah dilakukan oleh perusahaan. Di antaranya adalah jam kerja yang 48 jam per minggu, tidak adanya kejelasan status karyawan (kontrak/tetap, tidak ada pkwt /sk), upah yang diberlakukan masih di bwh umk 2014, tidak adanya jamsostek/bpjs, upah lembur yang tidak sesuai (hari kerja Rp.10.000/jam, hari libur Rp. 25.000/hari) Saya sudah mengutarakan hal tersebut kepada GM (selaku pimpinan tertinggi di organisasi), dan mengajukan perubahan2 terhadap beberapa hal tsb sembari memberikan alasan dan penjelasan nya, tetapi semua tidak berhasil, tentu saja saya kecewa. Hingga akhirnya saya mengajukan pengunduran diri per awal maret 2014. Tetapi sebelum saya benar-benar berhenti dari perusahaan ini, saya ingin memanfaatkan sisa waktu saya dengan sebaik-baik nya untuk memperjuangkan hak teman-teman. Mohon arahan dan petunjuknya, bagaimana saya harus menyikapi dan bertindak dengan kondisi dan situasi seperti ini. Thanks & Regards,  


Jawaban :

Dear Ibu Indah Octa,

Saya turut prihatin terhadap situasi dan kondisi yang sedang maupun sudah dialami oleh Ibu beserta rekan-rekan Ibu yang bekerja ditempat ini. Dan dilemanya adalah sangat disayangkan kalau karyawan-karyawan yang baik seperti Ibu dan rekan-rekan Ibu harus berada di tempat yang kurang baik situasi dan kondisinya. Idealnya adalah karyawan-karyawan yang baik berada atau bekerja di tempat yang baik. Dan kalau Ibu Indah Octa maupun rekan-rekan perhatikan memang di perusahaan-perusahaan yang maju dan berkembang dengan baik terdapat banyak karyawan-karyawan yang baik pula. Saya berharap, kemanapun nantinya Ibu Indah Octa pindah akan mendapatkan perusahaan yang baik sesuai dengan keinginan dan harapan Ibu.

Mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan, kami sarankan sebagai berikut:

1. Bicarakan secara internal. Kami lihat bahwa Ibu sudah membicarakannya dengan GM (selaku pimpinan tertinggi di organisasi) dan apabila ownernya bukan merangkap GM. Mungkin apabila diperlukan untuk membicarakan situasi dan kondisi seperti ini terhadap owner sebagai pemilik perusahaan. Ada kemungkinan kebijakan yang diambil bukanlah atas kemauan owner melainkan strategi yang digunakan oleh GM tersebut untuk mencapai target yang ditetapkan oleh owner dengan menghalalkan segala cara.

2. Apabila langkah pertama diatas masih mengecewakan hasilnya, maka Ibu dapat melapor kepada Suku Dinas Tenaga Kerja (Sudin Naker) terdekat ditempat Ibu bekerja, dari sana Ibu bisa mendapatkan saran dan masukan juga. Apakah hanya perlu keputusan dari Sudin Naker setempat yang memberikan teguran tertulis untuk perusahaan tersebut atau sampai diperlukan keputusan dari Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) sebagai dasar keputusan hukum yang dapat memberikan sanksi yang memaksa kepada perusahaan tersebut.

3. Apabila langkah kedua ternyata juga tidak memberikan hasil yang memuaskan menurut Ibu Indah Octa, maka Ibu dapat melapor kepada Ombudsman Republik Indonesia, seperti yang diberitakan dalam situs Ombudsman semoga dapat di mediasi oleh Ombudsman Republik Indonesia juga untuk situasi dan kondisi yang Ibu Indah Octa alami beserta rekan-rekan Ibu tersebut.

4. Di atas semuanya itu kita bisa serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak akan selamanya situasi dan kondisi akan gelap terus, akan tiba waktunya kalau situasi dan kondisi akan terang benderang. Percayalah Ibu, selama apapun badai yang terjadi pasti akan berlalu juga. Hanya kita sebagai karyawan dapat berusaha untuk mengingatkan terus-menerus kepada orang-orang yang membuat kegelapan maupun badai ciptaan mereka bahwa tidak akan situasi dan kondisi seperti yang mereka buat akan ada selamanya. Dan suatu saat nanti, orang-orang seperti itu akan menerima akibat dari perbuatan mereka sendiri.

Demikian pendapat kami semoga dapat membantu Ibu Indah Octa. Selamat berkarya.

David Tampubolon

Tags: