Resign 10 Hari Sebelum Lebaran, Berhak Dapat THR?

Pertanyaan :

Saya ingin menanyakan mengenai hak karyawan yang telah bekerja lebih dari 1 tahun dan mengundurkan diri 10 hari sebelum hari raya. Apakah karyawan tersebut berhak memperoleh THR dan berapa besarannya. Apakah 1 bulan gaji penuh atau prorata? Terima kasih.


Jawaban :

Dear Mbak Ida,

Pertanyaan dari Mbak Ida akan menjadi topik paling hangat selama bulan puasa, dikarenakan mayoritas pekerja akan mendapatkan hak Tunjangan Hari Raya (THR) dalam bulan puasa. Saya sudah pernah membahas sedikit mengenai THR dalam tulisan saya di “Hak Karyawan PHK karena Perusahaan Rugi” namun dalam tulisan tersebut penekanan pembahasan saya seputar PHK dan hanya sedikit tentang THR di bagian akhir pembahasan.

Pertama kita akan melihat mengenai ketentuan THR, yang ternyata tidak terdapat secara tertulis dalam UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Anda boleh lihat semua pasal-pasal dalam undang-undang ketenagakerjaan tersebut namun tidak ada satu pasal pun yang membahas mengenai THR. Dan dikarenakan UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan sesungguhnya adalah “payung hukum” bagi seluruh aturan pelaksana di bawahnya, oleh karena itu kita hanya dapat menggunakan Pasal 191 UU No 13 tahun 2003 yang menyatakan: Semua peraturan pelaksanaan yang mengatur ketenagakerjaan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan Undang undang ini.

Sehingga sampailah kita pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER-04/MEN/1994 Tahun 1994 tentang TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN BAGI PEKERJA DI PERUSAHAAN

Di sini kita akan melihat beberapa pasal yang berkaitan dengan pertanyaan Mbak Ida di atas, yaitu Pasal 2 ayat 1 menyatakan: Pengusaha wajib memberikan THR kepada pekerja yang telah mempunyai masa kerja 3 bulan secara terus menerus atau lebih. Kemudian dalam Pasal 3 ayat 1 berbunyi: Besarnya THR sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 ditetapkan sebagai berikut:

a.         pekerja yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih sebesar 1(satu) bulan upah.

b.         Pekerja yang mempunyai masa kerja 3 bulan secara terus-menerus tetapi kurang dari 12 bulan diberikan secara proporsional dengan masa kerja yakni dengan perhitungan masa kerja/12 x 1(satu) bulan upah.

Lalu Pasal 3 ayat 2 menyatakan: Upah satu bulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah upah pokok ditambah tunjangan-tunjangan tetap.

Kemudian kita juga melihat dalam Pasal 6 ayat 1 yang menyatakan: Pekerja yang putus hubungan kerjanya terhitung sejak waktu 30 (tiga puluh) hari sebelum jatuh tempo Hari Raya Keagamaan berhak atas THR. Serta yang terakhir dalam Pasal 6 ayat 2 yang berbunyi: Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi pekerja dalam hubungan kerja untuk waktu tertentu yang hubungan kerjanya berakhir sebelum jatuh tempo Hari Raya Keagamaan.

Sehingga berdasarkan informasi yang Mbak Ida berikan, maka karyawan tersebut berhak menerima THR sesuai dengan Pasal 6 ayat 1, dikarenakan dia mengundurkan diri 10 (sepuluh) hari sebelum Hari Raya Keagamaan. Lain halnya apabila karyawan tersebut adalah karyawan kontrak yang hubungan kerjanya berakhir sebelum Hari Raya Keagamaan, karena berdasarkan Pasal 6 ayat 2, karyawan kontrak tersebut tidak berhak atas THR apabila sebelum Hari Raya Keagamaan telah berakhir hubungan kerjanya.

Mengenai besaran yang diperoleh, sesuai dengan informasi yang Mbak Ida berikan, maka karyawan yang telah bekerja selama lebih dari 1 tahun berhak atas 1 (satu) bulan upah, upah di sini adalah upah pokok ditambah tunjangan-tunjangan tetap (lihat dalam Pasal 2 ayat 1, Pasal 3 ayat 1 dan Pasal 3 ayat 2 di atas).

Demikian pendapat kami semoga dapat membantu Mbak Ida. Selamat berkarya.

David Tampubolon

 

Tags: , ,