Perhitungan Lembur

Pertanyaan :

Saya ingin menanyakan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Kep. 102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur, di Pasal 11 (3) disebutkan: "(3)   Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi untuk waktu kerja 5 (lima) hari kerja dan 40 (empat puluh) jam seminggu, maka perhitungan upah kerja lembur untuk 8 (delapan) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam, jam kesembilan dibayar 3(tiga) kali upah sejam dan jam kesepuluh dan kesebelas 4 (empat) kali upah sejam." Apakah ini berarti lembur untuk hari libur maksimal 11 jam sehari? Jika lebih dari itu, apakah diperbolehkan? Terima kasih atas jawaban dan penjelasannya.


Jawaban :

Dear Mbak Pratiwi,

Berdasarkan Kepmenakertrans No. 102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur, di Pasal 11 (3) yang Mbak Pratiwi sebutkan di atas. Untuk lembur di hari libur bagi karyawan dengan waktu kerja 5 (lima) hari kerja dan 40 (empat puluh) jam seminggu maksimal adalah 11 (sebelas) jam kerja lembur. Jika lebih dari itu tidak diperbolehkan, karena berdasarkan pasal ini hanya diberikan perhitungan lembur sampai jam ke sebelas dengan 4 (empat) kali upah sejam pada jam ke sebelas tersebut. Di atas jam ke sebelas tidak berikan perhitungan untuk upah lemburnya.

Disamping penjelasan di atas kami mencoba memberikan tambahan jawaban yakni:

1.       Berdasarkan Penjelasan Undang-Undang No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Pasal 78 Ayat (1) yang menyatakan: “Mempekerjakan lebih dari waktu kerja sedapat mungkin harus dihindarkan karena pekerja/buruh harus mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat dan memulihkan kebugarannya. Namun, dalam hal-hal tertentu terdapat kebutuhan yang mendesak yang harus diselesaikan segera dan tidak dapat dihindari sehingga pekerja/buruh harus bekerja melebihi waktu kerja”.

Kata “namun” di dalam pasal ini yang memberikan ijin untuk karyawan bekerja lembur di luar waktu kerjanya. Dan waktu kerja lembur tersebut juga tidak bisa seenaknya melainkan sesuai aturan yang membatasi waktu kerja lembur. Ini merupakan pendapat yang bijaksana dari pembuat Undang-Undang no 13 tahun 2003 dari segi kemanusiaan.

2.       Jika kita simulasikan ke dalam keseharian sebenarnya, maka setelah karyawan tersebut bekerja selama 5 (lima) hari kerja selama 8 (delapan) jam di tiap hari kerja sehingga totalnya adalah 40 (empat puluh) jam seminggu, kemudian pada hari libur dia bekerja lembur selama 11 (sebelas) jam, apakah hal ini efektif dan produktif bagi karyawan maupun perusahaan?

Misalnya, di hari libur karyawan tersebut bekerja lembur selama 11 (sebelas) jam: Dimulai dari masuk kerja jam 8 pagi sampai jam 12 siang (selama 4 jam) kemudian karyawan tersebut beristirahat selama 1 (satu) jam, bekerja kembali dari jam 1 siang sampai jam 5 sore (selama 4 jam) kemudian karyawan tersebut beristirahat 1 (satu) jam, mulai bekerja kembali sesuai dengan sisa maksimal jam kerja lembur yaitu selama 3 jam, jadi total semuanya adalah 11 (sebelas) jam lembur, maka karyawan tersebut mulai bekerja kembali dari jam 6 sore dan selesai sampai jam 9 malam.  Menurut pendapat kami hal ini akan menyebabkan contra produktif bagi karyawan karena di minggu kerja berikutnya dikhawatirkan tidak dalam kondisi segar dikarenakan kurang cukup beristirahat akibat bekerja di hari istirahat juga contra produktif bagi perusahaan karena harus membayar upah lembur karyawan tersebut yang perhitungannya akan sangat lumayan besar yang ditanggung oleh perusahaan.

3.       Berdasarkan Pasal 15 Kepmenakertrans No. 102/MEN/VI/2004 yang menyatakan “Dengan ditetapkannya Keputusan ini, maka Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor:KEP- 72/MEN/1984 tentang Dasar Perhitungan Upah Lembur, Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP-608/MEN/1989 tentang Pemberian Izin Penyimpangan Waktu Kerja dan Waktu Istirahat Bagi Perusahaan-perusahaan Yang Mempekerjakan Pekerja 9 (sembilan) Jam Sehari dan 54 (lima puluh empat) Jam Seminggu dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor: PER-06/MEN/1993 tentang waktu kerja 5 (lima) Hari Seminggu dan 8 (delapan) Jam Sehari, dinyatakan tidak berlaku lagi”.

 

Demikian pendapat kami semoga dapat membantu Mbak Pratiwi. Selamat berkarya.

David Tampubolon

Tags: ,