Curhat OB yang Merasa Terkekang

Pertanyaan :

Maaf, Bu saya mau curhat. Saya sudah bekerja kurang lebih 2,5 tahun sebagai OB. Selama bekerja, saya mendapat peraturan yang bertentangan dengan UU tenaga kerja, antara lain: 1) Jam kerja dari jam 06.00 - selesai (24 jam) tanpa adanya uang lembur. 2) Libur satu bulan sekali (Minggu/hari besar tetap kerja). 3) Tidak boleh Salat Jumat satu bulan sekali, untuk melaksanakan tugas dari perusahaan. 4) Harus selalu stand by di kantor walaupun jam kantor sudah selesai dengan alasan saya tinggalnya di kantor. 5) Mengekang hak untuk berkembang dan untuk maju. O ya, saya juga pernah ikut kursus setelah jam kantor, tiba-tiba esok harinya saya dikasih SP dengan alasan melanggar peraturan perusahaan. Saya juga pernah dianggap melanggar peraturan karena meniggalkan kantor hari Minggu malam (padahal itu kan bukan jam kantor). Apakah tindakan perusahaan itu benar? Seandainya saya di-PHK, dapatkah saya menuntut kelebihan jam kerja selama 2,5 tahun?


Jawaban :

Perlakuan yang Anda terima selama ini bukanlah perlakuan kepada karyawan sebuah perusahaan namun -maaf- lebih mendekati pembantu rumah tangga yang diberi tugas menjaga kantor.

Pada prinsipnya perusahaan yang melanggar ketentuan perundangan yang berlaku dapat digugat melalui jalur hukum, sepanjang Anda memiliki bukti bahwa Anda adalah karyawan perusahaan tersebut berupa perjanjian kerja atau pun SK karyawan kontrak atau karyawan tetap. Jalur hukum yang dapat ditempuh adalah melapor kepada Depnaker setempat.

Menurut hemat saya, ada dua pilihan yang bisa Anda pertimbangkan:
1.Menempuh jalur hukum untuk menggugat perusahaan. Ini akan banyak menyita waktu, pikiran dan perasaan.
2. Mencari pekerjaan lain yang lebih baik.

Saya urut prihatin atas kondisi yang Anda hadapi, semoga Anda segera dapat lepas dari situasi sekarang.