Bolehkah Perusahaan Menghanguskan Cuti yang Tidak Diambil?

Pertanyaan :

Kebanyakan karyawan (80%) tidak ingin mengambil hak cuti yang telah diberikan oleh perusahaan, dengan alasan ' belum perlu' dan lebih memilih untuk meminta bayaran dari perusahaan: 1. Jikalau hak cuti tersebut telah diterbitkan, dan karyawan menolak untuk mengambilnya, apakah perusahaan berhak menghanguskan hak cuti tersebut?2. Bagaimanakan perhitungan pembayaran hari cuti yang tidak diambil (yang bersangkutan tidak mau mengambil) oleh karyawan tersebut?


Jawaban :

Detail pelaksanaan cuti memang tidak diatur secara rinci di UU Ketenagakerjaan dan merupakan kebijakan perusahaan. Disarankan agar detail pelaksanaan cuti dicantumkan dalam peraturan perusahaan sehingga jelas dan berlaku sama bagi semua karyawan.

Berikut contoh peraturan cuti tahunan yang pada umumnya berlaku di perusahaan :

1. Karyawan berhak cuti selama 12 hari kerja setelah bekerja minimum 12 bulan berturut-turut dengan mendapat gaji penuh.

2. Hak cuti tahunan karyawan diberikan dalam batas waktu 1 tahun setelah hari jatuhnya cuti.

3. Hak cuti yang tidak diambil setelah 1 tahun dari hari jatuhnya cuti dianggap hapus (gugur).

4. Perusahaan dapat menunda permohonan cuti tahunan paling lama 6 bulan terhitung sejak hari jatuhnya cuti tahunan. Bila penundaan lebih dari 6 bulan maka cuti dapat diganti dengan uang.

5. Karyawan yang tidak hadir kerja pada hari kerjanya lebih dari 2(dua) hari karena sakit diharuskan membawa Surat Keterangan Dokter. Jika tidak dapat menunjukkan surat keterangan dokter akan mengurangi jatah cuti

6. Karyawan yang tidak hadir pada hari kerjanya tanpa ijin atau tanpa memberitahukan atasannya, dianggap tidak hadir tanpa ijin/mangkir dan dapat diberi surat peringatan. Jumlah hari ketidakhadiran karena mangkir
akan mengurangi jatah cuti.

7. Dalam hal-hal penting, karyawan dapat diberi ijin untuk tidak hadir pada hari kerjanya tanpa dipotong cuti, dengan mendapat upah penuh yaitu untuk keperluan-keperluan sebagai berikut:

— Kematian suami/isteri, orang tua/mertua atau anak/menantu: 2 (dua) hari kerja
— Kematian anggota keluarga dalam satu rumah: 1 (satu) hari kerja
— Pernikahan karyawan: 3 (tiga) hari kerja
— Pernikahan anak karyawan: 2 (dua) hari kerja
— Khitanan anak: 2 (dua) hari kerja
— Pembaptisan anak: 2 (dua) hari kerja
— Isteri melahirkan atau keguguran kandungan: 2 (dua) hari kerja

8. Bila keperluan-keperluan seperti tersebut di atas berlangsung di luar kota, maka ijin tidak hadir dapat ditambah dengan waktu perjalanan tercepat.

9. Karyawan dapat diberi ijin tidak hadir diluar keperluan tersebut pada nomor 7, dengan ketentuan jumlah ijin tersebut mengurangi jatah cuti tahunan

10. Cuti bersama sesuai ketentuan pemerintah akan mengurangi jatah cuti.

Menjawab pertanyaan Anda:

1. Ya, cuti gugur jika tidak diambil hingga masa berlaku cuti habis, yaitu setelah 1 tahun dari hari jatuhnya cuti.

2. Cuti yang dapat dibayar adalah jika karyawan mengajukan cuti namun perusahaan tidak dapat mengabulkan karena tuntutan pekerjaan. Itu pun ditunggu dulu hingga 6 bulan setelah pengajuan cuti. Jika 6 bulan kemudian tetap tidak bisa cuti, barulah perusahaan mengganti dengan uang, dengan penghitungan proporsional sbb:

— Untuk perusahaan yang hari kerjanya 6 hari dalam 1 minggu, per 25 (misal ganti cuti 5 hari = 5/25 X Gaji 1 bulan)
— Untuk perusahaan yang hari kerjanya 5 hari dalam 1 minggu, per 21 (misal ganti cuti 5 hari = 5/21 X Gaji 1 bulan)