Udin

udin

Nama sederhana yang dimiliki banyak orang Indonesia, “Udin”.  Di Jawa saya menemukannya. Orang Sunda banyak memakainya, kaum Betawi akrab dengan nama ini. Begitu juga dengan suku-suku lain di Sumatera dan Kalimantan. “Udin” menjadi nama kebanyakan, dipakai berbagai kalangan, untuk julukan atau panggilan singkat, dari sebuah nama panjang, yang berbeda-beda. Ada Zaenudin, Syamsudin, Syafrudin, Kamaludin, dan masih banyak nama lainnya. Semuanya menggunakan nick name “Udin”.

Terasa akrab dan tanpa jarak, panggilan Udin bahkan menjadi nama kesayangan di banyak keluarga dan komunitas. Lucunya, bila semula seseorang dipanggil “Udin”, kemudian berhasil menjadi orang terpelajar, kaya, terkenal atau pegang posisi, nama itu ditinggalkan. Kemudian, dipanggil dengan sebutan yang lebih keren. Nama lengkapnya muncul, dengan maksud tidak terkesan norak.

Akhirnya “Udin” tetap menjadi nama sederhana, bagi orang “kampungan”, yang biasanya dikonotasikan bodoh, miskin dan tanpa posisi.  “Udin” tetap sebutan bagi orang biasa-biasa saja, yang lugu, kadang naif dan gampang dijadikan “korban” oleh “Udin-Udin” yang sudah berganti nama yang lebih panjang.

Pengalaman saya dengan 3 “Udin” akan saya kisahkan, masing-masing dengan keistimewaannya. Mereka masuk dalam kehidupan sehari-hari saya, dengan kesan yang mendalam, bahwa Udin sederhana mempunyai sikap yang tulus, apa adanya tanpa meninggalkan nilai-nilai professional dalam bekerja.

Udin pertama adalah Zaenudin. Udin ini menjadi sopir pribadi di keluarga kami.  Mengaku tak lulus SMP, meski saya curiga dia tak tamat SD. Kepandaiannya sulit dipercaya kalau dia pernah duduk di bangku sekolah yang diakuinya. Udin bisa baca-tulis, dengan predikat pas-pasan. Tulisan tangannya sulit dibaca, kalimatnya terputus-putus, tanpa sistematika. Lebih banyak salah menulis kata, dibanding yang benar. Tapi, kami sekeluarga sayang kepadanya.

Udin bekerja sungguh-sungguh. Cara dia mengendarai mobil, tidak istimewa, tetapi cukup memenuhi faktor safety  yang menjadi syarat minimum kami. Satu jam sebelum pergi, dia standby di rumah. Menyiapkan mobil dengan saksama, bahkan juga untuk mobil lain yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Dicuci bersih dan dilap dengan apik.  Memeriksa hal-hal teknis, meski saya ragu akan kebenaran caranya.

Untuk urusan keuangan, Udin sangat hati-hati. Semuanya dicatat dan dipertanggung-jawabkan dengan benar. Udin mempunyai accountability yang tak kalah rapi dengan akuntan publik dari kantor auditor yang asli. Hal-hal non teknis juga tak luput dari perhatiannya. Seperti mengingatkan beberapa hal yang saya sering lupa melakukannya.  “HP-nya tak lupa pak?”, atau “Tiket sudah dibawa?”, saat saya mau ke bandara untuk bepergian ke luar kota.

Singkatnya, Udin menjadi sopir profesional, akuntabel dan rendah hati. Udin tak meninggalkan kesederhanaannya, meski satu-satunya anaknya hampir lulus dari Fakultas Ekonomi sebuah PTS di bilangan Jakarta Selatan.

udin

Udin kedua adalah tukang ojeg. Dia biasa mangkal di ujung gang rumah kami.  Nama panjangnya Syamsudin. Badannya agak gempal, meski tetap gesit mengendarai motornya. Tidak seperti tukang ojeg lainnya, Udin ini mempunyai sense Marketing yang spesial.

Dibuatnya kertas-kertas  secarik, dengan judul “Udin Ojeg”, dan nomer HP-nya.  Dibagikan kertas itu ke banyak tetangga di sekitar tempat dia mangkal. Udin  sedang menjual jasa, mungkin meniru iklan di TV atau media sosial lainnya. Saya kebagian secarik.

Sejak itu, Udin Ojeg laris-manis. Dia kewalahan melayani pelanggan. SMS datang silih berganti, dan dia kerja keras, bahkan harus sampai larut malam. Udin menjadi tukang ojeg primadona yang dikenal dan pelayanannya dinikmati banyak orang.

Tapi itu belum cukup. Sejak dia me-launch  bisnisnya, Udin memakai uniform baru.  Terlihat bersih dan halus bekas setrika. Setetes-dua cipratan parfum dioleskan, entah merek apa, di sekitar tubuhnya. Pelanggan nyaman duduk di belakang boncengannya.

Ironisnya, begitu Udin Ojeg meledak, teman-teman iri. Udin dimusuhi, karena punya banyak  penumpang, dus banyak duit. Dia jarang mangkal di pos ojeg lagi. Di samping sibuk melayani pelanggan, juga karena “tak enak” di-bully kawan-kawannya, yang sering tak punya pelanggan.

Udin jemput bola. Dia mendekat ke pelanggan, dengan caranya yang sederhana. Bisnis ojeg telah berubah dengan datangnya teknologi informasi, dan Udin jitu memanfaatkannya. Udin masih ramah meski pelanggannya meningkat pesat. Dia melayani pelanggan dengan sungguh-sungguh. Tarifnya tak dibandrol semaunya, melainkan menggunakan batas bawah. Udin Ojeg adalah contoh bagaimana seseorang pelaku bisnis bersikap professional, memanfaatkan teknologi, mempunyai strategi pemasaran dan tetap memegang customer satisfaction.

Udin ketiga minggu lalu datang ke rumah kami. Saya tidak tahu nama panjangnya.  Nampaknya dia tak bisa baca-tulis. Profesinya  sebagai “Petugas Pembersih Kamar Mandi”. Dia tahu persis apa yang harus dikerjakannya, dan bahan pembersih apa yang harus disiapkan sang tuan rumah. Udin Kloset, begitu kami memanggilnya, bekerja dengan tekun mulai pukul 08.00 dan baru selesai usai menunaikan sholat magrib di kamar belakang. Sepanjang itu, Udin terus menggosok dan melap seluruh detil kamar-kamar mandi kami. Bagian-bagian kecil disentuhnya dan hasilnya luar biasa. Kamar mandi disulap seperti baru kembali. Tak ada titik noda yang tertinggal di dinding, keran, shower, wastafel atau kloset. Semuanya bersih dan mengkilap.

Udin Kloset pulang setelah senja menjelang. Raut mukanya berseri, sambil sekali-kali membanggakan hasil karyanya. Satu-dua kalimat promosi keluar darinya, meski tetap dengan kesederhanaannya, sebagai “Udin”.  Manusia sederhana, “bodoh”, tapi serius, passion, kerja keras dan professional dalam bekerja.

Ketiga Udin tadi mewakili banyak “Udin” lain yang membuktikan bahwa profesionalisme seseorang tidak ditentukan dari tingginya pangkat, pandainya otak, piawainya bersilat lidah atau banyaknya kompensasi yang diperoleh. Seorang sopir, tukang ojeg dan tukang pembersih kamar mandi, menjadi alat peraga bagaimana seharusnya saya, anda dan kita, bisa menjadi makhluk professional yang berintegritas dan passion  kepada profesi.

Tak harus muluk-muluk menjadi Direktur atau Manager, Jenderal atau Pengusaha besar untuk membuktikan bahwa makna sebuah pekerjaan tidak terletak di jabatan yang disandangnya, melainkan pada spirit yang ada di dalam sana. Ia sering disebut “gairah” atau passion, dan  “Udin” membuktikan hal itu tanpa diminta, tanpa disuruh, tanpa diimingi-imingi pangkat dan upah besar.  Ya, “Udin” hanya mempunyai passion.

“Passion is oxygen of the soul” (Bill Butler – Cinematographer terkenal, yang menekuni profesinya hingga sekarang, dengan umur 94 tahun)

*) P.M. Susbandono, Senior Advisor Human Resources Star Energy

Tags: ,