Transformation is a journey to challenge unfamiliar territory

p>Sebagian besar perseroan yang gagal dalam proses transformasi punya satu ciri yang sama. Mereka punya kebiasaan (organizational behavior): hanya ingin melangkah kalau semua etape sudah jelas, semua issue sudah di-handle, dan semua masalah sudah punya jawaban. Kalau sebuah organisasi menuntut hal demikian harus ada terlebih dahulu baru mereka merasa secured untuk melakukan perubahan transformasional, di sinilah sumber masalahnya.

Scott Peck, seorang ahli psikologis dan neuroscience mengatakan dengan tepat: “If we know exactly where we’re going, exactly how to get there, and exactly what we’ll see along the way, we won’t learn anything.”    Dengan kata lain, ketika kita hendak pergi ke suatu tempat, tidak ada hal yang bisa kita pelajari, kalau kita sudah tahu semua jalan, semua jawaban dan tahu apa yang kita temui dan bagaimana menghandelnya.

Transformasi memang menantang nyali. Ia menantang sendi keberanian kita untuk masuk ke dalam wilayah yang  kita belum tahu semua jawabannya. Secara naluriah memang, kita  akan lebih senang melakukan proses transformasi kalau semua jawaban sudah ada, atau kendala sudah bisa diprediksi dan diatasi. Namun dengan pakem seperti itu, kita tidak akan pernah melangkah.   Justru dengan keberanian melangkah dan masuk ke dalam kancah transformasi itu, perlahan tapi pasti kapasitas organisasi  akan meningkat. Hal-hal yang sebelumnya kita tidak tahu, mulai terbuka satu persatu. Jadi tidak mungkin berharap semua hal terbuka dulu dengan jelas semuanya, baru kita melangkah.

Tentu saja godaan pemikiran seperti itu lazim. Kita merasa akan amat nyaman dan aman melangkah kalau semua jawaban sudah kita ketahui, resources tersedia dengan cukup dan semua parameter sudah terpetakan dengan jelas.

Kalau ada pemikiran seperti itu, itu biasanya ada fear dalam pikiran. Sedangkan transformasi lebih sering berhubungan dengan ‘gut’ sesuatu yang tidak terletak dalam relung mind and thought, tetapi dalam relung instinct, khazanah consciousness. Ada semacam rasa keyakinan untuk maju saja, nanti persoalan teknis bisa dijawab sambil bergerak. Kemampuan itu berada di luar aspek rasio – koqnitif. Fear dan transformasi tidak bisa hidup bersamaan!

‘Itulah sebabnya keberhasilan transformasi selain ditentukan visionary leadership capability, juga amat ditentukan oleh mentalitas keberanian. Keduanya saling melengkapi. Satu tidak bisa terjadi kalau tidak ada yang lain.  Keberhasilan transformasi amat kental dengan entrepreneureal leadership.

Untuk membangun semangat ‘transformational readiness’ dalam perseroan, maka organisasi harus mulai menginstall ‘uncertainty’ sebagai bagian dari kehidupan korporat.  Maksudnya kita harus mulai membiasakan diri dengan uncertainty. Ia mau tidak mau harus diterima sebagai ‘nature of business’.  Ketika kita sudah bisa menerima uncertainty sebagai business way of life, maka daya adaptasi perseroan akan meningkat. Manajemen Perseroan akan lebih mudah memobilisasi dan menggerakkan resources deployment dari satu medan ke medan lain tanpa terlalu banyak menghadapi inertia dan resistensi. Dengan demikian organisasi akan lebih siap dan berada pada posisi ‘ ready for combat’.  Semakin nyaman suatu organisasi dengan uncertainty, semakin siap dan mudah ia diajak untuk mengalami proses transformasi.

Transformational Leadership memerlukan keberanian perilaku untuk menantang pola  business as usual. Melakukan hal-hal yang bukan merupakan extensifikasi jurus masa lampau. Kita mengarungi jalan, (kiat, model, strategi dan prosess bisnis) yang baru dan berbeda dengan jalur sebelumnya. Tanpa Miles stone yang jelas, spirit team tidak akan termobilisasi. Frustrasi paling besar muncul ketika orang merasa hopeless, tidak tahu ia on the right tract atau tidak, seperti orang kebingungan tersesat dalam terowongan gua.

Mendesign Miles stone memerlukan kemampuan visionary leadership yang hebat. Ini adalah domain strategic management. Merumuskan dengan jelas tahapan demi tahapan prediktif apa yang akan ditemui team oganisasi di kemudian hari dalam perjalanan transformasi tersebut. Dengan early warning prediktif tersebut, organisasi bisa men-design strategic anticipation. Dengan demikian organisasi menjadi amat efektif.

*) Penulis adalah CEO Defora Consulting

zp8497586rq