The Gretzky Principle

Yurizal Firdaus

DI CALGARY, ada waktu-waktu tertentu dimana pusat kota terasa begitu sunyi selepas jam kerja. Pertama adalah saat ketika suhu dingin ekstrim minus 30 derajat Celcius menyelimuti seluruh sudut kota. Dan yang kedua adalah, saat digelarnya pertandingan hoki es di Saddledome Arena.

Setelah beberapa kali menonton pertandingan hoki es di kota ini, saya mencoba memahami philosophi dari permainan ini. Paling tidak ada beberapa hal yang saya amati agak unik dan tidak biasa dibandingkan dengan permainan pada cabang olahraga lain pada umumnya.

Pertama, kita akan menemukan bahwa perkelahian (fighting) adalah bagian dari permainan. Ketika ada 2 orang pemain terlibat adu fisik dan berlanjut kepada perkelahian, maka wasit akan menghentikan permainan dan membiarkan perkelahian itu berlangsung selama beberapa saat di dalam lapangan, hingga salah satu pemain terjatuh untuk kemudian dipisahkan.

Tentunya, hukuman telah menanti bagi kedua pemain yang terlibat perkelahian, di mana mereka harus keluar dari arena dan dilarang memperkuat timnya dengan menunggu di ‘penalty box’ selama 2-5 menit. Ini berarti, sebuah kerugian bagi tim karena mereka hanya akan diperkuat oleh 4 orang pemain dari maksimal 5 pemain yang diperbolehkan.

Kedua, kontak fisik merupakan hal biasa dalam pertandingan. Meluncur di atas es dengan kecepatan tinggi, beradu sprint dengan lawan, tak jarang berujung pada kontak fisik di salah satu sudut lapangan. Untuk hal kedua ini, pemain harus sangat berhati-hati karena wasit akan melindungi pemain yang sedang membawa bola (puck) dari gangguan pemain lawan. Jika, pemain terlihat secara sengaja mendorong ataupun mengganggu pemain lain yang sedang membawa bola dan bisa mengakibatkan cedera, maka ‘penalty box’ menjadi ganjarannya.

Konon, ada seorang legenda dalam permainan hoki es ini.

Saking melegendanya pemain ini, sampai-sampai namanya sering sekali disebut dan dijadikan salah satu contoh case study di ruangan-ruangan seminar dan pelatihan yang membahas topik manajemen dan pengembangan SDM. Dia adalah, Wyane Gretzky. Dijuluki sebagai ‘The Great One”, Gretzky juga dinobatkan sebagai ‘the greatest hockey player ever’.

Apa yang membuatnya begitu istimewa sehingga para trainer dan facilitator pun ‘berguru’ dan mengambil pelajaran darinya? Ternyata ada beberapa hal.

Pertama, ditengah pakem tradisional yang dipercayai sebagai ‘the winning formula’ di olahraga hoki es, seperti postur fisik yang tinggi besar, tahan benturan ataupun mampu meluncur dengan kecepatan tinggi di atas es, maka Greztky adalah antitesis dari semua hal tersebut. Gretzky akan sangat mudah dikenali di atas lapangan karena postur fisiknya yang kecil, dan seakan dikerumuni oleh para pemain dengan postur raksasa lainnya.

Kedua, ketika orientasi permainan hoki es pada umumnya yang juga dapat dengan mudah dilihat secara kasat mata dari bangku penonton adalah kerumunan para pemain yang mencoba merebut bola satu sama lain, maka Gretzky dapat dipastikan tidak akan ada dikerumunan tersebut.

Gretzky ‘The Einstein of Hockey’ (julukan lain yang ditujukan kepada dirinya) sangat menyadari kekurangan fisik yang dimilikinya. Dia mampu memenuhi standar fisik minimum yang wajib dimiliki oleh pemain hoki es sebagai syarat seleksi pemain yang berlaku umum, tapi dia tidaklah istimewa.

Gretzky kalah bersaing dengan rata-rata pemain lainnya dalam hal postur fisik ini. Namun di sisi lain Gretzky memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh pemain hoki es pada umumnya, yaitu kemampuan observasi di atas lapangan yang terus menerus diasah dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Dia mampu membaca kemana arah bola akan bergerak dari kerumunan para pemain.

Dia mempertajam skill observasinya sehingga mampu membaca pergerakan penjaga gawang dan pola permainan tim lawan secara keseluruhan. Dengan skill yang dimilikinya, penonton dan pemain lawan dibuat terkagum-kagum karena Gretzky tidak pernah sekalipun mengejar bola, namun bola selalu bergerak ke area kosong dimana Gretzky mengambil posisi.

Ketika berhadapan dengan penjaga gawang, melalui kemampuan observasinya Gretzky selalu berusaha membuka celah dengan membuat pergerakan memutar ke belakang gawang untuk membuat kiper mati langkah sebelum mencetak gol. Dia memperagakan skill tersebut secara konsisten selama 20 tahun (musim pertandingan) dari 1979 – 1999 dan mencatatkan rekor skor yang hingga saat ini belum dapat dipecahkan oleh pemain manapun.

Gretzky mengajarkan prinsip penting kepada setiap orang bahwa, mendedikasikan waktu dan usaha yang berfokus kepada memperbaiki sebuah kelemahan (weakness) memiliki resiko kepada hasil perbaikan yang akhirnya hanya dapat diraih pada level rata-rata (mediocre). Karena itulah, dia tidak menghabiskan waktu latihannya untuk meningkatkan kemampuan atletik dan kecepatannya. Namun, keputusannya untuk terus mengasah keunggulan (strength) yang secara alami sudah dimilikinya, terbukti membawa seseorang ke level dimana dia akan menjadi seorang yang paling unggul dalam skill dan keahlian tersebut.

Sebagai praktisi HR, tersisa sebuah pertanyaan. Sudahkah kita mencoba mengaplikasikan paradigma ini secara berimbang ketika menganalisa hasil employee opinion survey di dalam organisasi ataupun merumuskan program pelatihan tertentu berdasarkan skill gap assessment dari seorang individu? Apakah kita saat ini, lebih mendedikasikan usaha dan waktu kita selama setahun kedepan untuk mencoba memperbaiki ‘gap’ yang ada, atau memberikan perhatian lebih kepada ‘strength’ organisasi dan individu untuk tumbuh jauh lebih tinggi hingga ke level yang (mungkin) akan mengejutkan kita. (*)

*Yurizal Firdaus. Praktisi HR, saat ini tinggal dan bekerja di Canada pada sebuah perusahaan minyak dan gas internasional. Selama 10 tahun belajar dan mendapatkan pengalaman praktis di dunia SDM dengan bekerja pada beberapa perusahaan di Indonesia antara lain Nestle, Nielsen dan Freeport.

Keterangan foto-foto: wikipedia.org, dok.pribadi.

Tags: ,