Tetap Tenang di Masa Krisis

Diprediksikan, krisis keuangan akan dirasakan sektor di luar keuangan pada 2009 mendatang, walaupun pada kenyataannya beberapa industri non-keuangan sudah mulai merasakan saat ini. Ketatnya likuiditas dan masih tingginya BI rate membuat sektor keuangan di Indonesia memperlambat laju pemberian kredit mereka ke masyarakat. Dengan demikian secara sederhana akan turut mempengaruhi pemasukan kas yang pada akhirnya berpotensi untuk menurunkan profit perusahaan jasa keuangan. Dalam arus kas yang positif (yang memberikan profit), pemasukan harus lebih besar daripada pengeluaran. Nah, pada saat pemasukan kurang sedangkan profit diharapkan tidak terlalu turun, maka salah satu cara yang umum dan populer digunakan adalah dengan mengurangi pengeluaran. Inilah salah satu strategi bertahan hidup yang bisa jadi diterapkan di sektor keuangan saat ini, yang juga diikuti sektor lain yang sudah mulai kena dampak krisis ini.
Semua pengeluaran kalau tidak perlu harus distop. Perjalanan dinas, rapat-rapat di luar kantor atau bahkan luar kota,maupun training perlu selektif atau bila perlu ditiadakan sama sekali untuk sementara ini. Demikian juga kegiatan yang lain seperti perekrutan karyawan, juga dihentikan. Akibatnya bisa jadi planning yang sudah dibuat awal tahun harus segera disesuaikan dengan kondisi saat ini. Hal ini tentunya tidak semudah yang dikatakan. Pada awalnya mengharapkan adanya staf baru demi mendukung pekerjaan yang sudah mulai banyak, namun dengan adanya perintah ini akhirnya perekrutan dihentikan. Sehingga tantangannya semakin berat dimana harus tetap mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang lebih banyak namun dengan sumber daya yang lebih sedikit.
Yang berikutnya adalah penghematan, yang sebenarnya dalam kondisi normal bisa juga dilakukan, seperti membatasi atau mengurangi lembur, pembatasan listrik dan AC setelah office hour, mematikan lampu-lampu, komputer, atau alat elektronik lainnya sesudah digunakan, mencetak dengan menggunakan kertas bekas dll, juga wajib dilakukan.
<B>Dampak pada Karyawan</B>
Turunnya motivasi dan gairah kerja karyawan besar kemungkinan akan terjadi. Segala macam ketidakpastian dan tekanan yang dirasakan baik dalam posisi mereka sebagai pegawai di perusahaan maupun sebagai anggota keluarga di rumah masing-masing akan memperburuk suasana. Karenanya tetap menjaga kinerja yang baik di tengah situasi sulit ini menjadi PR besar bagi mereka yang ada di unit SDM terutama di bagian Employee / Industrial Relations bekerja sama dengan pucuk pimpinan perusahaan dan para senior manager, untuk segera memupus atau paling tidak memberikan keterangan atas ketidakjelasan yang mereka rasakan
Beberapa langkah sederhana berikut merupakan alternatif untuk memulai kegiatan-kegiatan dalam rangka membuat para karyawan untuk tetap objektif dalam menyikapi situasi krisis ini:
1. Komunikasikan apa yang terjadi secara terbuka
Dari pucuk pimpinan baik secara langsung atau pun melewati para senior manager dan SDM menjelaskan kondisi saat ini dan hal-hal yang menyebabkannya. Kemudian menghubungkan pengaruhnya terhadap perusahaan sehingga perusahaan akan melakukan tindakan-tindakan A, B, C dst. Dengan demikian diharapkan para karyawan dapat memperoleh informasi yang gamblang dari sumber-sumber terpercaya di perusahaan yang berguna untuk secara obyektif menyikapi kondisi ini dan kemudian bersama-sama ikut memikirkan solusi-solusi yang mungkin dilakukan guna memperingan kondisi yang ada.
2. Menetapkan kembali prioritas dalam masa sulit
Dengan kondisi yang serba terbatas maka pencapaian target yang sudah di set dengan asunsi-asumsi sebelum krisis kemungkinan besar akan menjadi relatif sulit dicapai. Untuk itu ada baiknya target-target tsb ditinjau ulang dan membuat prioritas-prioritas dalam pencapaiannya. Setelah itu jangan lupa untuk disosialisasikan ke seluruh unit kerja yang bersangkutan untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari seluruh anggota unit kerja tersebut.
3. Kreativitas lebih digenjot
Dalam mencapai target di tengah terbatasnya resources, maka kreativitas dalam menggali ide untuk mencari beragam solusi menjadi sangat wajib hukumnya. Para karyawan harus didorong untuk terus mencari cara-cara dan terobosan-terobosan baru dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan beretika. Walaupun budget training dipangkas, namun para manager harus berusaha keras berpikir bagaimana mereka tetap bisa mengembangkan timnya. Meminta rekan-rekan kerja – baik dari sesama unit atau lintas unit – yang mempunyai keahlian dalam bidang-bidang tertentu untuk sharing pengalaman mereka misalnya dalam berjualan, memotivasi, memberikan coaching, bernegosiasi dsb merupakan alternatif yang sangat bermanfaat. Selain relatif tidak membutuhkan biaya, kegiatan sharing ini akan memberikan ilmu-ilmu nyata yang sudah terbukti di lapangan dan disampaikan langsung dari ahlinya tanpa teori-teori yang rumit. Manfaat yang lain adalah semakin mempererat hubungan tim yang pada akhirnya memperkuat kerja sama antar anggota tim, baik sesama unit ataupun antar unit. Kondisi ini justru harus dipakai sebagai tantangan bagaimana dalam keadaan sulit namun secara bersama-sama masih bisa berprestasi.
4. Sebagai individu, ambil sikap disiplin dalam pengaturan keuangan
Kondisi krisis ini tentunya akan langsung berdampak buruk ke karyawan terutama dari segi kesehatan finansial. Dari kondisi internal perusahaan mereka dampaknya dapat berupa menurunnya atau bahkan hilangnya potensi insentif/bonus, sedang dari faktor eksternal seperti berlanjutnya kenaikan barang, naiknya bunga pinjaman, portfolio keuangan mereka yang mungkin terkoreksi cukup signifikan, merosotnya nilai dana pensiun mereka terutama yang ditempatkan di instrumen-instrumen yang berhubungan dengan saham, dll. Maka akan halnya yang dilakukan perusahaan, maka sebagai individu, kita juga dituntuk untuk survive dengan cara antara lain:
— Jalin terus komunikasikan dengan pihak pasangan dan keluarga tentang kondisi ini. Dengan harapan mereka mengerti dan ikut prihatin, seperti halnya perusahaan mengkomunikasikan ke karyawan.
— Seperti halnya yang dilakukan perusahaan, maka kita juga harus melihat kembali prioritas berbagai macam tujuan keuangan keluarga yang sudah ditetapkan sebelumnya. Adakah perubahan atau penyesuaian yang perlu dilakukan dalam kondisi sulit ini. Tentunya kebutuhan harus diutamakan daripada keinginan. Kebutuhan primer lebih penting dari sekunder bahkan tersier. Program penghematan terus dilakukan dan hindari jebakan konsumerisme, korban iklan ataupun iming-iming kartu kredit dan kredit tanpa agunan yang saat ini sangat marak. Pilih tempat belanja berdasarkan terutama harganya yang relatif lebih murah. Apabila harus belanja di mall, jangan lupa untuk mendaftar barang-barang yang dibeli, membatasi waktu belanja dan jangan lupa makan dulu di rumah bila perlu. Membatasi membawa uang tunai juga ide yang tidak buruk untuk mencegah keinginan belanja yang mungkin tidak perlu.
— Intinya, pengeluaran harus selektif dan selalu mengacu pada pencapaian tujuan keuangan keluarga yang sudah ditetapkan, misalnya menabung untuk biaya pendidikan anak, pembelian rumah, dsb.
(<I>Penulis adalah praktisi SDM dan perencana keuangan, anggota IARFC – International Association of Registered Financial Consultant</I>)