Spiritualitas di Organisasi

Kondisi dunia akhir-akhir ini semakin membuat galau. Baru-baru ini kita dikejutkan oleh penembakan yang dilakukan seorang mahasiswa PhD. Ia menembak membabi buta di gedung sinema Denver Colorado, menewaskan 12 orang dan melukai puluhan korban tak berdosa. Siapa yang akan mengira akan ditembaki dengan senjata otomatis di sebuah gedung Cinema? Kenyataannya, dunia saat ini semakin kompleks dan banyak hal yang tidak terduga, mulai dari bencana alam hingga tragedi-tragedi kemanusian besar seperti nine eleven 2001. Karena banyak hal yang secara logika dan analisa nalar manusia sangat kecil kemungkinannya terjadi, siapa yang mampu menjamin tidak akan terjadi lagi hal-hal mengerikan tersebut?

Di seputar kehidupan berorganisasi kita juga dikejutkan dengan berita bahwa organisasi sekelas HSBC baru-baru ini melakukan praktek pencucian uang untuk organisasi teroris dan juga drug dealers, sesuatu yang pasti tidak pernah kita bayangkan. Demikian pula halnya dengan kejadian organisasi terkemuka seperti Enron yang berkolaborasi dengan konsultan terkemuka seperti Arthur Andersen Consulting dapat terlibat rekayasa laporan keuangan dan memberikan efek yang sangat hebat dalam sejarah keuangan Amerika?

Banyak lagi kejadian mengejutkan dan terkadang sangat menyedihkan yang menyadarkan manusia bahwa ada hal yang tidak mampu dihadapi oleh manusia, yaitu kebesaran dan kekuasaan Tuhan.

Spiritualitas dalam organisasi tumbuh subur ketika manusia mengalami hal-hal sulit. Ilmu manajemen dunia selama ini mengenal bahwa sejauh organisasi bekerja keras dan disiplin dalam menerapkan berbagai teori dan aplikasi manajemen terbaik maka organisasi akan tumbuh pesat menjadi organisasi terkemuka di dunia. Namun seringkali kita melupakan ada faktor yang Maha Kuasa yang dapat menggagalkan hal-hal yang sudah direncanakan manusia.

Organisasi dan dunia secara nyata mengalami banyak perubahan, generasi baby boomers yang banyak duduk di pucuk pimpinan di organisasi mulai mempertanyakan eksistensi keberadaannya. Generasi baby boomers kini memasuki usia pertengahan hidupnya, dan kelak generasi X juga akan menuju ke fase yang sama. Orang-orang yang mencapai usia pertengahan dan melihat isu-isu dunia kemudian mulai timbul pertanyaan dalam dirinya seperti:

“Apakah warisan yang saya sumbangkan selama saya hidup di dunia?”

“Apakah nilai-nilai yang ingin saya tinggalkan dalam jangka panjang?”

“Dalam hal apa di bidang kehidupan lain yang ingin saya investasikan sekarang setelah mencapai puncak karir?“

“Apa yang benar-benar penting bagi saya karena saya mulai melihat orang tua saya, paman, bibi bahkan saudara yang seusia saya mulai meninggal karena berbagai hal dan sebab?”

Jenis-jenis pikiran yang mungkin biasa untuk orang-orang di usia pertengahan. Yang membuatnya tidak biasa adalah bagaimana pun generasi baby boomer berjumlah besar dan memiliki pengaruh yang sangat besar. Ketika ia mulai berpikir tentang masalah ini, maka masyarakat juga akan terpengaruh oleh pemikiran dan perenungan spiritualitas tersebut dan pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh masyarakat.

Spiritualitas di organisasi tidak semata-mata berhubungan dengan keagamaan tetapi lebih diarahkan kepada semangat manusia untuk mencari benang merah antara dirinya, organisasi tempat ia bekerja dan nilai-nilai kebenaran Tuhan. Banyak sekali penulis yang mencoba menjabarkan mengenai spiritualitas di antaranya Deepak Chopra (Seven Spiritual Laws of Success) dan Karen Armstrong (Twelve Steps to a Compassionate Life). Setidaknya dari berbagai penulis tersebut dapat dijabarkan ada tujuh hal pokok mengenai spiritualitas di organisasi:

Pertama, menumbuhkan kepercayaan dan mendorong satu sama lain pada semua tingkat hirarki organisasi, akan meningkatkan keinginan pekerja untuk datang ke tempat kerja mereka sehari-hari.

Kedua, meminimalkan “politik tempat kerja”, politik kerja banyak membunuh semangat seseorang untuk bekerja dengan dedikasi dan kesungguhan karena banyak hal-hal kotor dan manipulatif yang akan tumbuh subur di organisasi.

Ketiga, saling menghormati agama dan perbedaan keyakinan dalam hal lainnya.

Keempat, menghargai keberagaman, yang tidak hanya secara moral hal terbaik untuk dilakukan, tetapi juga menguntungkan perusahaan dalam banyak hal seperti memungkinkan organisasi untuk memandang berbagai hal dalam perspektif secara lebih luas.

Kelima, mengaktifkan seluruh karyawan yang terbaik dan kompeten di suatu hal tertentu sesuai dengan keterampilan, kreativitas, dan kepentingan perusahaan, untuk melakukan pekerjaan organisasi dan pelayanan pelanggan secara total.

Keenam, mendorong pekerja untuk mengeksplorasi kemampuan, kompetensi dan kreativitas mereka dalam berbagai hal, dan memfasilitasi pelatihan yang diperlukan, sehingga semua bakat tersembunyi mereka dapat muncul, yang memungkinkan karyawan untuk akhirnya membawa semangat dalam mengembangkan dan membawa hal-hal yang lebih besar dari diri mereka sendiri di tempat kerja. Hal ini tidak hanya menjadi keuntungan bagi karyawan, tetapi juga untuk tempat mereka bekerja. Dan itu akan dilihat oleh para pekerja sebagai usaha penuh perhatian dari tempat kerja mereka untuk selalu memajukan mereka.

Ketujuh, mengakui dan menghargai orang-orang ketika mereka layak dan dengan cara khusus menghargai kepribadian, memberi pengakuan dan penghargaan terbaik.

Spiritualitas di tempat kerja memang tema yang akan selalu dapat di-multi tafsirkan, tetapi tetap menjadi suatu hal yang menarik untuk dibahas. Kita sangat percaya niat dan motif di balik setiap keputusan yang dibuat atas nama bisnis, kepemimpinan, dan karyawan bermanifestasi menjadi konsekuensi positif atau negatif berdasarkan kemurnian niat dan motivasi asli dengan mana keputusan tersebut dibuat. Singkatnya, niat buruk biasanya mengakibatkan konsekuensi negatif, sebaliknya niat yang baik menghasilkan konsekuensi positif atau keberhasilan.

Semangat kerja karyawan memiliki pengaruh langsung pada produktivitas, karena itulah organisasi sangat banyak berinvestasi untuk membuat lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan.

Ketika ketulusan dan motif yang sangat murni digabungkan dengan kepemimpinan bisnis yang sangat maju dan pengambilan keputusan serta keterampilan yang konsisten, hasilnya tentunya lebih besar kemungkinannya untuk menghasilkan dan menumbuhkan organisasi yang kuat dan bermotivasi tinggi.

Saat ini, banyak sekali studi yang mengungkapkan fakta yang membuktikan bahwa adanya hubungan yang kuat antara pikiran dan tubuh. Studi-studi menunjukkan berapa banyak orang yang memiliki penyakit, seperti penyakit jantung atau kanker, juga menderita depresi sebagai bagian dari hal yang memberatkan pasien. Penyakit fisik menciptakan depresi emosional, yang pada gilirannya menghasilkan stres yang memperburuk kondisi fisik yang mendasarinya. Banyak studi mengungkapkan bahwa sikap positif dapat meningkatkan kesehatan yang pada gilirannya dapat meningkatkan umur panjang.Organisasi harus ditumbuhkan sebagai tempat berkumpulnya sikap dan pikiran yang positif secara kolektif.

Sebagai organisasi yang ingin sukses, organisasi harus secara sadar menghubungkan diri kepada yang Maha Tinggi mulai dari memikirkan visi, misi dan tujuan-tujuan bisnisnya. Organisasi yang berlatih psikologi positif dan berinvestasi dalam program motivasi karyawan memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk menuai imbalan dalam bentuk kinerja karyawan yang meningkat dan diwujudkan dalam bentuk kepuasan karyawan.

Maka sudah selayaknya kita belajar dari organisasi-organisasi besar yang jatuh karena berseberangan dengan prinsip dan nilai-nilai kebenaran Tuhan.Pembentukan budaya perusahaan harus benar-benar disadari untuk selalu menumbuhkembangkan nilai-nilai kebenaran. Di dalam mengembangkan organisasi sangat perlu untuk dikembangkan sikap saling mengingatkan, dan menumbuhkan konsep spiritual leadership. Akhirnya, di awal puasa Ramadhan ini merupakan kesempatan yang baik untuk merenungkan tujuan-tujuan organisasi dan menumbuhkan sikap-sikap spiritual yang baik di organisasi. Selamat menjalankan ibadah Ramadhan bagi yang menjalankan, mohon maaf lahir dan bathin.

*Penulis, N. Krisbiyanto adalah Senior Partner pada People Consulting

Tags: , ,