Spiritual Engagement itu bak SAMBAL!

M Syafiudin

Perihal pentingnya Engagement dalam mempengaruhi kinerja dan kegairahan kerja sudah banyak dibahas. Berbagai teknik dan strateginya pun telah banyak dikupas. Namun ada yang menarik ketika membicarakan pendekatan engagement dengan M Syafiudin. Manajer HRD Pelindo Tanjung Perak ini. Ia menceritakan bagaimana ia mengintroduksi Engagement dengan basis spiritual.

Lalu saya pun balik bertanya: Loh untuk menciptakan World Class Port seperti cita-cita agung mereka, bukankah engagement sejatinya dikaitkan dengan misi yang diemban perseroan? Dan basisnya seharusnya atas dasar kompetensi teknis- manajerial? Pria asal Sampang ini memjawab sambil tersenyum. Katanya:  Engagement basis spiritual itu seperti sambal dalam masakan,  ia akan menutupi berbagai kekurangan dari resep dan racikan bumbu lainnya. Bukankah dengan Sambal semua menjadi lebih nikmat, meskipun di sana-sini ada kurang bumbu sedikit- sedikit? Katanya sambil memberi Amsal.

M SyafiudinPria yang menamatkan MBA nya dari Flinder University South Australia ini lebih lanjut mengatakan: betul secara konvensional basis pengembangan employee engagement adalah kompetensi teknis, profesionalisme, pengembangan diri, dan sejenisnya. Namun menurutnya kalau hanya sebatas pendekatan konvensional itu saja, maka cara pandang terhadap dunia kerja sering berujung pada transaksional. Akibatnya bisa saja orang mendapatkan reward gaji dan bonus, tapi hidupnya merasa kosong dan sepi. Ia merasa kesepian di tengah berbagai hiruk pikuk.

Raport index engagement di negeri kita memang amat rendah. Survey Gallup 2013 menunjukkan ada banyak sekali Pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh para Leaders untuk meningkatkan keterlibatan, antusiasme dan koherensi para insan perseroan terhadap goal organisasi.

Kalau begitu proyet kondisinya, timbul pertanyaan bagaimana perseroan mengimplentasikan konsep engagement tersebut dalam dunia kerja? Untuk meningkatkan employee engagement, Perseroan harus bisa menjual misinya, dan pekerja bisa melihat apa jadinya mereka kalau misi itu tercapai. Jadi harus ada suatu overlapped area antara apa yang mau dicapai oleh perseroan dengan aspirasi personal. Dari situ akan timbul ownership dan akuntabilitas terhadap suatu proses. Setelah itu, baru berbagai alat dan teknik engagement bisa di-deployed. Hal hal yang berkaitan dengan teknik engagement akan punya dampak yang makin besar, pada industri jasa, dan basis knowledge economy.

Untuk memenuhi goal perseroan tidaklah mudah, lantas bagaimana business leader bisa mengajak semua insan organisasi untuk terus optimis dalam berbagai proses tersebut?Kita akan lebih bisa menerima berbagai kesulitan dan tempaan selama proses, jika kita sudah tau atau sudah bisa memprediksi  hasil akhirnya. Dan harapan-harapan seperti itu akan menjadi Vitamin jiwa ketika kita sedang berhadapan dengan proses penempaan dan pembentukan. Di situlah fungsi seorang leader. Ia harus bisa memberikan diskripsi gambaran, tentang ‘nasib’ atau terminal akhir perjalanan secara jelas. Sehingga para pekerja bisa menaruh harapan tumbuh didalamnya. Nah karena proses diskripsi ini juga mempertaruhkan sebuah keyakinan masa depan, tentu saja hal- hal yang bersifat keyakinan dan belief menjadi amat penting. Yaitu tadi seperti yang dikatakan Syafiudin, bisa bersifat seperti “Sambal”. Sambal selalu efektif untuk menutupi kekurangan apapun dari formulasi bumbu-bumbu lain. Begitu juga engagement. Berbagai formulasi dan teknik sudah banyak ditawarkan, Spiritual engagement bisa melengkapinya.

Dan ketika goal tersebut tercapai, jangan lupa untuk merayakannya dan men-sharingkan pelajaran-pelajaran yang didapat selama proses tersebut.

*) Hendrik Lim adalah Penulis Happy Work, Happy Life. Strategi transformasi kultur

Tags: ,