Spartacus Indonesia

”Benarkah tidak ada pemimpin besar dari 240-250 juta manusia untuk memimpin Indonesia tahun depan?” Pertanyaan setengah optimis yang terus-terusan mengganggu pikiran peserta diskusi Leadership di satu ruangan perusahaan swasta di Jakarta baru-baru ini.  ”Benarkah kita kehabisan stok pemimpin bersih yang mau bersih-bersih dan berbenah untuk tahun depan?”   Jika tak bisa menandingi Spartacus di masa lalu, minimal sama dengan Chavez di masa kini.

Spartacus (bahasa latin)

Ia sangat fenomenal ketika memimpin sekawanan budak dalam melawan imperator Crassus, yang mewakili penguasa kejam, Republik Roma pada zamannya. Spartacus, meski akhirnya mati tertombak pasukan Romawi, namun Crassus hampir saja kalah ketika duel satu lawan satu lawan Spartacus. Ia, seorang gladiator pemberani, heroic-warrior dan militan hidup sekitar tahun 109-71 SM. Ia tak pernah takut mati. Ia selalu maju paling depan.  Keterampilannya untuk berperang sangat tinggi. Karakternya pejuang sejati. Pengaruhnya radikal merubah status budak menjadi warga merdeka. Supaya ”apple to apple” dengan politikus umumnya di Indonesia, ia berjuang juga sejak muda belia dan meninggal masih di usia 38 tahun.

Chavez (negeri latin)

Lain lagi, di era modern ini, dunia memiliki Hugo Chavez pemimpin negeri Venezuela, pejuang sejati yang selalu jadi rujukan perubahan radikal.  Chavez, icon pemimpin di Amerika latin,  memutuskan menjalankan ”revolusi sosialis” Bolivarian sejak tahun 2000.  Sepanjang masa kepemimpinannya, ia telah menerapkan konstitusi baru, menasionalisasi sejumlah industri penting, meningkatkan anggaran kesehatan dan pendidikan dan mengurangi tingkat kemiskinan secara besar-besaran. Supaya juga ”apple to apple” dengan  pemimpin Indonesia saat ini,  Chavez adalah  presiden yang berasal dari Partai. Ia memimpin Partai Sosialis Bersatu Venezuela [PSUV] sampai ia meninggal 5 Maret 2013.

Spartacus di era lama dan Chavez di era modern,  sama-sama bisa menjadi inspirasi radikal bagi pemimpin baru di Indonesia. Mengapa?  Menjadi pelajaran bagi kita semua, ternyata rakyat telah ”keliru” menggunakan hati nuraninya ketika memilih pemimpin yang tepat.  Apa yang tepat? Pertama, Indonesia dengan berbagai krisisnya, masih membutuhkan momentum revolusi radikal, bukan reformasi yang ”incremental.” Karakter pemberani, heroic-warrior dan militan ala Soekarnolah yang paling tepat membebaskan belenggu dingin membeku saat ini. Kedua,  saya rasa kita harus punya optimisme ingin mewujudkan prediksi McKinsey Global Institute bahwa negeri ini akan menjadi kekuatan ekonomi maju tahun 2030 [85 tahun sejak merdeka].

3 Karakter (kekuatan batin)

”Leadership, it is really about you,” John Maxwell, pencerah kepemimpinan abad ini, yang 100% persis sama dengan  wacana pengamat politik Indonesia. ”Jika mau memimpin negeri, ia harus beres dulu dengan dirinya sendiri.”  Konteks kita, konteks krisis, tak bisa dikemudikan oleh driver pemimpin yang biasa-biasa saja. Pemimpin macan kertas dan penebar pesona  tak bisa menyediakan solusi bagi krisis. Rakyat dan DPR harus ”teriak kencang” melalui 3 senjata karakter (kekuatan batin), ketika negeri ini harus menentukan calon pemimpin terbaiknya.  Karakternya harus beres dulu, setelah itu baru kompetensinya, ”passion-nya” dan ”humility-nya” (kepemimpinan level 5).

Pemberani

Jika ia bersih ”luar-dalam,” karakter wajib pertama, pastilah ia pemberani. Untuk menjadi pemberani ia harus masuk pertempuran.  Ia haruslah gladiator yang ada di medan pertempuran dan terbukti tak takut mati. Track-recordnya bisa dilacak a.l.  apakah ia pernah diteror  tapi tak takut,  apakah ia pernah ditawari suap 1-25 M tapi tak mempan? dst.

Ia tahu persis ”where to play?” Ia petarung yang akan berhadapan dengan banyak musuh jahat dan teman busuk. Tetapi, ia akan berperang dengan  dirinya sendiri. Pikirannya harus jernih, ucapannya tajam, tindakannya lurus sejati dan pengambilan keputusannya pro rakyat negeri sendiri.  Tony Allan dalam ”Wise Lord of The Sky: Persian myth”,  mengatakan pemimpin pemberani harus memakai ”basic instinctnya” untuk menaklukkan, mengalahkan dan menguasai rasa takutnya sendiri.

Ia juga tahu, ”what matters most?” Dengan karakter pemberaninya yang tak umum, ia akan mampu memerdekakan Indonesia dari perasaaan tertekan, kemalasan berfikir, pengaturan pihak asing yang merugikan, lilitan budaya korupsi, kemakmuran semu, dst.  Ukuran karakternya ialah keberaniannya melawan stagnansi.  Ia harus merubah keinginan konsumtif rakyat menjadi karya produktif  nasional, memberantas mental korupsi, menghentikan hutang luar negeri, meroketkan ekspor,  menggenjot PDB dan income per capita, sampai mendongkrak sektor riil.

Heroic-warrior

Kita butuh eksekutor yang tahu memakai akal sehat dan perasaannya untuk ”how to win?”  Ia harus tahu persis perubahan adalah peperangan, ada yang dikorbankan dan ada yang dimenangkan.   Oleh karena itu ia harus berani diawal,  berkorban hidup asketis di tengah, seperti Jenderal Soedirman dan Bung Hatta.  Dan ia tetap  konsisten, sampai pada garis akhir di finish.

Visinya harus ditest,  yang ia perjuangkan ialah melawan ”dehumanisasi” negeri, bukan menyenangkan donaturnya atau sponsor di belakangnya.  Ia model petarung ”fighting like a lion and a champion,” yang memiliki kuku tajam dan terus-terusan lapar. Ia adalah tipe pendebat, pejuang dan penakluk apa saja yang membuat Indonesia terus bodoh, terus miskin, tersandera dan tertinggal.

Ukuran heroismenya adalah ia harus berhasil membalikkan keadaan negeri yang hidup ”belum” sebagai negeri betulan. Ciri pemimpin heroic-warrior:  ia harus berani berbalik arah 3600. Ia harus berkeras hati  ”tidak” membiarkan kelimpahan alamnya diambil orang lain. Ia harus berkeras hati bahwa  negeri dengan kekuatan SDMnya yang handal [seperti yang ada di  Jepang, Singapura, Korea dan China] akan tahu bahwa alamya yang kaya raya ini harus dikelola dengan akal sehatnya sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.  Ia harus ”mentally ready” pergi ke arena peperangan yang sesungguhnya, bukan hanya pandai membuat peraturan-perundangan. Ia haruslah pemimpin yang dalam 100 Hari Program Kerjanya akan segera menyetop semua impor, mulai dari kedelai, jagung, beras, susu, garam, gula, terigu dst dan  memaksa petani untuk maju mengejar swasembada.

Militan

”If your actions inspire others to dream more, to learn more, to do more and to become more, then you are a leader,” John Quincy Adams, eks Presiden Amerika ke-6 th 1825-1829.

Ia, sang calon,  juga harus mengerti ”how to connect?” Hubungannya dengan followernya harus kuat dan menguatkan satu sama lain, karena ia akan mengandalkan kerja bersama dengan para orang dalam, yaitu rakyat sendiri. Ia membutuhkan dukungan kuat dari arus bawah. Ukuran keberhasilannya sederhana, rakyat pandai memakai common-sense untuk mengatasi masalahnya sendiri, rakyat makmur bukan karena berhutang, rakyatnya maju cara berfikirnya, sehingga negeri ini bisa hidup bebas dari  ketergantungan asing. Ia tak boleh orang yang membenci asing. Ia haruslah lebih sayang kepada rakyatnya sendiri.

Apa yang harus dibuktikan? Bagi yang sudah masuk ”papan atas” bursa calon pemimpin, ia harus mampu dalam 5-6 bulan ke depan menjual dirinya habis-habisan bahwa ia militan terhadap ”first thing first.”  Dan ia  harus semakin ”gigih” mempertahankan kinerja tingginya,  agar dampak kepemimpinannya semakin dirasakan oleh rakyat disekitarnya.

Ia mesti  mempraktekkan ”what impact?” dan ”what focus?”   Jim Collins dalam ”Great by Choice,” tahun 2011, menemukan bahwa ”disiplin fanatik” telah membantu pemimpin korporasi tetap fokus dan berdampak hebat.  Saya sependapat dengan George Bradt  dalam artikelnya di Forbes.com tentang “the five most important questions for brave leader,” bahwa pemimpin berani harus berdampak dan punya fokus berkaliber tinggi, agar sukses.

Fokus pemberani ialah ia tak boleh goyah sedikitpun dari prinsip kuatnya untuk membela rakyatnya. Dan dampak dari kemilitanismenya yang ekstrim itulah, ia akan mampu mengawal setiap tujuan pembangunan baik jangka panjang, menengah dan pendek,  hanya untuk menyenangkan hati dan piring rakyatnya

Fit & proper test

Cara kita harus diubah agar tidak salah pilih. Bagi orang lapangan, tinggal mensinkronkan antara pikiran dan perkataannya dengan track recordnya. Keluarga, tetangga dan komunitasnya harus diundang sebagai peserta test untuk mendukung pembuktian.

Bagi calon yang belum memiliki banyak track record, test harus lebih detail, seperti : test keberanian membuat kebijakan publik yang berseberangan dan tak umum dengan tim penguji bisa dari wakil mahasiswa/i, wakil LSM, wakil komunitas dan wakil perempuan. Ia harus membuat presentasi dari gagasannya yang berdampak nasional lewat media massa dan  sukses melakukan debat publik dengan tokoh yang ahli di bidangnya. Ia dapat diuji untuk menyerahkan 25%  dari asetnya kepada Negara. Ia harus menjalani test kejujuran, test keberanian mengambil resiko yang maha besar, dst.

The dreams and the believes

Upah dari keyakinan adalah  melihat apa yang sebelumnya tak terlihat. Jika Raoul Oberman, Chairman dari McKinsey Global masih percaya akan ada kebangkitan Asia, termasuk Indonesia, maka wajar dan pantas jika masih ada sekelompok orang Indonesia, yang menaruh keyakinannya untuk melihat langit keajaiban dari tanah karut-marut negeri.   Negara Inggris perlu 250 tahun untuk bisa menggandakan produk domestik brutonya.  Namun,  China dengan karakter  mirip Spartacus dan Chaveznya, hanya perlu 12 tahun untuk melipat-gandakan PDB-nya.  “Inilah kebangkitan Asia,” analisis Oberman.  Pada masa ”substantial turn-around” ini, kita tidak lagi bisa menerima pemimpin yang ”bukan”  dari jenis pemberani, heroic-warrior dan militan. Jika Raoul yakin, mengapa kita tidak yakin dengan diri kita sendiri?