Sleepless Warriors

Di balik selimut malam yang semakin tebal dan gelap, dalam gedung-gedung apartemen, di balik jendela kamar-kamar tidur rumah real estate, bahkan di dalam kamar-kamar kos di Jakarta saat ini, banyak yang tidak bisa tidur. Pikiran mereka disibukkan oleh tantangan baru. Merekalah para panglima dan prajurit perusahaan mapan yang kini mulai digoncang pendatang baru.

Pemain yang tadinya sendirian menguasai pasar, kini mulai mendapatkan pesaing-pesaing yang tidak bisa diremehkan. Detik.com yang bertahun-tahun melenggang sendirian di dunia dotcom kini mulai dikepung sejumlah pemain baru yang didukung pebisnis media tangguh. Koran Bisnis Indonesia yang berjaya di harian bisnis kini harus menghadapi Kontan, tabloid mingguan bisnis dan ekonomi yang sejak bulan ini berubah menjadi harian.

Ya. Genderang perang di medan media, baik dotcom maupun tradisional, kembali ditabuhkan. Para prajurit mulai merapatkan barisan mereka, mulai berkonsolidasi, memikirkan langkah-langkah strategis dan inovasi.

Bayangkan Anda pemimpin redaksi Detik.com. Bisakah Anda tidur nyenyak dengan datangnya Okezone.com, pemain baru yang didukung oleh grup media terbesar di Indonesia seperti Media Nusantara Corp (MNC) yang memiliki teve, koran dan radio? Bayangkan pula jika Anda sang CEO, betapa rumitnya tantangan bisnis yang harus dihadapi. Belum lagi jika beberapa konglomerat dan media besar lain memutuskan serius masuk ke dotcom dengan model bisnis yang sama dengan Detik.com. Bayangkan pula jika Anda menjadi bos atau pemimpin redaksi Bisnis Indonesia yang harus menghadapi terjangan koran bisnis Kontan.

Apalagi, dalam situasi persaingan tinggi seperti itu, biasanya hukum alam SDM mulai berlaku. SDM akan mengalir ke tempat-tempat yang lebih menarik. Jika dulu sulit mencari pilihan karir yang lebih baik di luar Detik.com misalnya, kini pilihan itu terbentang di depan mata. Bukan rahasia lagi, beberapa SDM raja portal itu sudah pindah ke perahu Okezone. Mereka yang selama ini menjadi tulang punggung dan paham isi perut perusahaan, baik dari sisi pemberitaan, bisnis maupun teknologi informasi, telah berada di pihak pesaing, atau sedang diiming-imingi dengan gaji, benefit dan karir yang lebih menantang oleh pesaing. Detik.com bagaimana pun, telah menjadi sumber SDM di bidang dotcom, sebagaimana Citibank di industri perbankan. Jadi, sangat wajar jika SDM-nya banyak diminati pesaing atau pemain baru di bisnis dotcom.

Inovasi-inovasi baru dan jurus-jurus baru pun harus digelar agar tetap bisa menjaga jarak dengan pendatang baru. Detikcom misalnya, meluncurkan DetikTV, DetikFoto, membenahi suara pembaca sehingga semakin interaktif dan mendorong partisipasi pembacanya. Namun, itu saja tidak cukup. Detikcom juga harus mempertahankan kinerjanya sebagai nomor satu dalam kecepatan berita. Jangan sampai kalah dengan TV, radio, apalagi media online yang lain. Demikian pula halnya dengan Bisnis Indonesia: berita bisnis mikronya jangan sampai kalah dengan Kontan. Situasi inilah yang membuat para panglima dan prajurit kedua penguasa pasar tersebut tak nyenyak tidur belakangan ini.

Tapi, itulah, betapa indahnya kompetisi. Dia memaksa kita untuk terus terjaga, waspada, dan selalu inovatif. Sedikit saja kita lengah, adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu kompetitor. Sedikit saja kita mengecewakan konsumen, dengan mudah mereka pindah ke toko sebelah. Yang saya sebut kita adalah SDM. Mereka harus lebih pintar menjaga sumber-sumber informasi, cek media-media lain, pandai mengembangkan isu, pintar menciptakan tren dan inovasi. Mereka harus memiliki SDM beretos kerja tinggi agar menang di pasar. Tidak aneh jika malam pun kini kembali menjadi teman mereka.

Peran HRD
Cerita di atas hanyalah salah satu ilustrasi terbaru ketatnya persaingan bisnis. Hal ini juga pernah terjadi di industri lain, seperti ketika Indomie digoyang Mie Sedap, tatkala bisnis dotcom marak awal 2000-an, atau ketika bisnis perbankan bangkit pada era 1990-an. Di tengah perang bisnis seperti ilustrasi di atas, di mana posisi divisi HR? Sayangnya, divisi HR kita sering lupa, tidak sadar, atau tidak terbiasa berpikir bahwa mereka mempunyai peran yang sangat penting dalam konteks persaingan bisnis.

Yang sibuk dalam urusan bersaing itu biasanya divisi sales/marketing, divisi produk, atau business development. Divisi HR kita masih belum terbiasa mengambil peran penting di baris terdepan di medan perang. Padahal, dalam banyak kasus, peran divisi HR yang paling penting.

Dunia bisnis saat ini sepakat, bila pada masa lalu keunggulan kompetitif sebagian besar berdasarkan pada aspek-aspek tradisional seperti teknologi dan sumber daya alam, maka pada masa kini, aspek-aspek tradisional itu menjadi semakin mudah ditiru dan disaingi. Aspek-aspek itu saat ini tidak lagi menjadi tumpuan keunggulan kompetitif.
Yang dianggap sebagai keunggulan kompetitif saat ini adalah karakteristik di dalam organisasi dan kompetensi SDM di dalam organisasi itu. Peran SDM sebagai sumber keunggulan kompetitif yang berkesinambungan saat ini semakin menjadi perhatian suatu organisasi.

Saya beruntung mengikuti sesi sharing dalam HRI Learning Forum yang digelar 24 Februari lalu, yang menghadirkan pembicara Tony Silalahi, team leader Astra Management Development Institute sekaligus Division Head of Strategic Sourcing Partnership Division – Corporate Organization & Human Capital Development PT Astra International Tbk.

Tony membeberkan rahasia sukses Astra di era kompetisi ini, yakni dengan terus melestarikan budaya inovasi. Dia menjelaskan hasil kajian tim HR di Astra tentang pergeseran paradigma perusahaan yang unggul pada masa ini. Bila pada masa lalu perusahaan yang unggul adalah yang bisa meramalkan masa depan, maka paradigma itu semakin bergeser. Perusahaan yang unggul saat ini adalah mereka yang bisa terus-menerus mengubah aturan main. Itu berarti, perusahaan harus terus melakukan inovasi.
Diperlukan sejumlah prasyarat untuk melakukan inovasi, dan HR memegang peranan yang sangat penting di dalam menggerakkan inovasi itu, misalnya dengan menciptakan kepemimpinan yang kuat dan menyediakan program-program reward yang memadai. (Baca: HR Harus Ambil Bagian dalam Inovasi Perusahaan)

Divisi HR harus terlibat aktif dalam era persaingan ini. Mereka harus mengambil peran penting, terus-menerus melakukan kajian, karena tuntutan dunia bisnis selalu berubah. Faktor-faktor intangibles seperti kepemimpinan, kompetensi, inovasi dan etos kerja yang saat ini menjadi aspek keunggulan kompetitif organisasi tersebut, bagian siapa lagi kalau bukan divisi HR?

(Penulis adalah pemimpin redaksi PortalHR.com)