Sehat

image001 (1)

Renungan Akhir Minggu

Ada ungkapan yang membingungkan untuk dicerna. ‘Sakit itu mahal’. Apa benar? Atau, apakah bila seseorang sakit, harus mengeluarkan biaya tinggi, agar sehat? Mungkin ini yang lebih pas untuk menjelaskan ungkapan itu. Kalau begitu, ia mesti diubah menjadi, ‘Sehat itu mahal’. Kita perlu banyak mengeluarkan ‘biaya’, atau ‘usaha’, atau ‘perhatian’, atau ‘disiplin’, atau ‘pengorbanan’ agar (tetap) sehat atau menjadi sehat, bila sedang sakit. ‘Jer waras mawa bea’. (Untuk sehat memerlukan pengorbanan).

image001 (1)

Semua orang tak kepingin sakit. Semua orang ingin sehat. Tapi aneh, banyak orang tak mencerminkan keinginannya dalam pola hidupnya sehari-hari. Manifestasinya tak terlihat. Orang cenderung berperilaku menuju sakit ketimbang menjadi sehat. Life style-nya tak menunjukkan bahwa dia ingin sehat. Meski tahu bahwa itu bertentangan dengan keinginannya, tak juga mau berubah agar ‘cita-cita’-nya, bisa terwujud. Ingin sehat, tapi perilakunya sebaliknya.

Anomali terjadi karena ketidaksadaran bahwa kesehatan itu tanggung jawab masing-masing pemilik badan. Selalu sehat adalah tugas masing-masing individu. Bukan tugas orang lain. Bukan orang tua, pasangan, atasan, teman atau, apalagi, dokter. Rasanya, kewajiban menjaga kesehatan ada pada setiap agama. Ibadah, yang harus dipikul semua insan. Sekali lagi, ibadah yang satu ini tak banyak terlihat pada kebanyakan orang.

Hidup sehat tidak mudah, apalagi bila lingkungan tidak mendukung. Sehat, tidak cukup menjadi suatu keinginan, tapi yang lebih penting, harus menjadi budaya. Sehat tidak akan awet. Tapi, kalau itu menjadi kebiasaan, bagian dari pola-hidup, maka ‘sehat’ bukan sesuatu yang mahal, tidak sulit dan ikut dalam setiap tarikan nafas manusia. Ia menjadi mahal, bila ‘budaya sehat’ belum terbentuk, atau bila sakit sudah kadung menyerang.

Teori sehat jauh lebih sederhana dibanding ilmu tentang sakit. Bila belajar ilmu penyakit perlu kuliah 6 tahun di Fakultas Kedokteran, plus sekian tahun praktek lapangan. Teori sehat jauh lebih mudah. Rasakan tubuh Anda. Pahami bagaimana badan Anda. Ikuti perasaan. ‘Understand your body’. Pahami tubuh Anda. Ia memberitahu pemiliknya, apa yang harus dilakukan agar sehat.

Kurang makan, tubuh memberitahu dengan rasa lapar. Kurang minum dengan haus. Kurang tidur, akan mengantuk. Itu contoh tanda-tanda bagaimana tubuh memberitahu pemiliknya untuk tetap sehat. Sederhana sekali, asal mau sensitif dan jujur untuk menangkap tanda-tanda itu. Bila tanda itu diabaikan, maka tubuh berbalik arah menuju ‘tak sehat’. Lama-lama menjadi sakit. Pengabaian atau bahkan mungkin penolakan tanda yang keluar dari dalam tubuh, merupakan isyarat bahwa ‘budaya sehat’ belum ada dalam diri anda. Kalau pun saat ini masih sehat, pasti tak akan lama.

Meski sederhana, pengetahuan tentang sakit lebih banyak digemari orang daripada sehat. Dokter lebih suka menyembuhkan orang sakit daripada membuat orang menjadi tidak sakit dan sehat. Ada faktor komersial dan kekuatan industri yang bermain di sana.

Sebagian malah tidak sengaja, kalau sudah berada di jalur yang keliru. Jangan hanya salahkan orang yang mempunyai paradigma terbalik-balik tentang ‘sehat-sakit’. Itu produk dari masyarakat, meski sejatinya bisa dilawan.

Banyak perusahaan mempunyai dokter perusahaan agar pekerjanya ‘sembuh’ dari sakit. Sangat sedikit perhatian, dana, dan waktu yang dicurahkan untuk membuat pekerja tetap sehat dan tambah sehat. Infrastruktur yang melingkupinya juga mendukung mindset ini.

Contoh nyata adalah aturan yang memberi ‘reward’ bagi pekerja yang sakit, tapi tidak untuk yang sehat. Undang-undang pun seolah meng-iya-kan paradigma ini. Budaya sehat tak akan lahir di komunitas seperti itu, karena sistem akan melahirkan budaya. Tanpa sistem, tak akan lahir budaya. System creates culture.

Di ranah ilmu-jiwa, Seligman merombak paradigma ini. Dia mengenalkan pendekatan Positive Psychology. Jangan terpaku dengan ‘penyakit’. Semakin menyehatkan orang sehat, akan ‘mengangkat’ orang sakit menjadi lebih sehat. Fokus mengembangkan orang pintar, membuat mereka yang kurang pintar menjadi lebih pintar. Tugas Dokter dan Psikolog bukan hanya menyembuhkan si sakit tapi harus lebih banyak pada lebih menyehatkan si sehat. Diharapkan yang sakit akan sehat dan yang sehat menjadi lebih sehat.

Seligman mengantarkan pendekatan baru, dengan paradigma positif. Secara tak langsung, dia melakukan pendekatan budaya, agar seluruh komunitas yang diamati berada pada level yang selalu naik, terus meningkat.

Atasan jangan terlalu banyak membuang perhatian dan waktunya kepada si dead wood. Mending lebih fokus kepada talented employees. Usahakan agar lebih berprestasi dan berkontribusi. Insya Allah, Puji Tuhan, para low contributor, secara bertahap, akan meningkat kemampuannya. Mereka terseret arus positif yang bergulir ke atas.

Menjadi manusia sehat banyak kelebihannya. Suatu merek jamu di Semarang pernah mempunyai jargon tentang apa yang terjadi bila banyak orang sehat. “Rakyat sehat – Negara kuat”. Sehat dulu, baru prestasi. Sehat dulu, baru produktif. Sehat dulu, baru memberi. Sehat dulu, baru berbuat baik. ‘Mens sana in corpore sano’. Tanpa sehat, orang tak bisa apa-apa.

Sehat memerlukan prasyarat. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi sehat. Jangan menunda upaya untuk sehat. Lakukan sekarang juga, karena esok hari adalah penyakit itu sendiri.

“When it comes to eating right and exercising, there is no ‘I’ll start tomorrow’. Tomorrow is disease” (V.L. Allineare)

*) P.M. Susbandono, Senior Advisor Human Resources Star Energy

Baca juga: Comfort Zone

Tags: