Raksasa Dunia Bertempur di Cakrawala Nusantara

Menarik menilik response Richard Budihadianto CEO GMF Aero Asia ketika menatap peluang besar bisnis depan mata: “Tanpa antisipasi strategis, suatu  perseroan ibarat penderita ICU yang diundang ke pesta banquet mewah, banyak kesempatan bisnis dan makanan yang ditawarkan, tetapi organisasi tidak punya kapasitas dan kapabilitas untuk menikmatinya.”

Pas rasanya taklimat tersebut, apalagi dengan dimulainya Pasar Tunggal Asean kurang dari dua tahun mendatang, transformasi bukan lagi sebuah opsi tapi mandatory bila perseroan ingin tetap stay fit dalam bisnis. Pertanyaannya adalah, bagaimana mengelola transformasi.

Kondisi Pasar

Lion Air membuat headline, memesan 234 Airbus pekan lalu setelah sebelumnya memesan 201 Boeing dari Paman Sam. Garuda pun tidak ketinggalan, maskapai ini bertekad menggandakan armadanya dalam dua tahun mendatang, dan menargetkan masuk  airlines kategori layanan ala  bintang 5 Skytrax. Garuda juga ikut bertempur dalam low cost carrier dengan memperkuat Citilink. Si Bungsu Citilink pun memesan 25 pesawat Airbus jenis A320 Neo guna mendukung rencana penambahan rute penerbangan ke sejumlah daerah pada tahun ini. Tak mau ketinggalan, AirAsia juga besar-besaran memperkuat armadanya.

Pasar Angkutan udara tumbuh pesat, pertumbuhan PDB sektor angkutan sekitar 10.7% tahun 2011. Bandara Soekarno Hatta mencatat pertumbuhan tercepat ke-4 di dunia setelah New Delhi, Rio De Janiero dan Xiamen. Tidak hanya industri airline, bidang industri dan jasa lain pun tumbuh amat pesat. Namun hypergrowth ini juga diwarnai dengan hypercompetition. Beberapa airline nasional grounded alias bangkrut di tengah maraknya pertumbuhan.

Bagaimana perseroan merespon dan melakukan alignment transformasi agar siap dalam meraup kesempatan bisnis yang muncul seiring pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Bagaimana MengartikanTransformasi dalam Bahasa Sederhana?

Transformasi dimulai dari sebuah consciousness bahwa: wow kesempatan bisnis dan pertumbuhan pasar begitu pesat, ada banyak sekali peluang di depan mata, seperti sebuah pesta banquet mewah. Mengapa tidak? Semua angka pertumbuhan makro menunjukkan fondasi yang kuat terhadap pertumbuhan bisnis. Yang menjadi tantangan utama adalah, di mana ada peluang yang menggiurkan, di situ ada banyak pemain yang ingin masuk, atau yang sudah ada akan memacu keunggulan inovasinya tanpa henti. Contohnya airline industry di atas tadi. Product dan jasa unggulan mereka makin ciamik, makin terjangkau dengan berbagi fitur yang menjawab kebutuhan pasar.

Apalagi dengan segera berlakunya Pasar Tunggal Asean, melalui  Asean Community plus China di tahun 2015, pemain dengan berbagai skala kompetensi dan kapabilitas akan segera masuk. Ini berarti kurang dari dua tahun seleksi alam ganas di pasar domestik dan regional akan terjadi. Perseroan yang segera dan secara proaktif mempersiapkan diri melalui transformasi perseroan akan  menyambut pesta ini dengan sorak-sorai, sementara yang menjalankan business as usual, akan “kelabakan” diterpa gelombang tsunami kompetisi.

Mengapa Perseroan Perlu Secepatnya Melakukan Transformasi?

Pasar bebas bersifat fair dan tidak memihak. Ia memberi kesempatan kepada yang layak dan siap. Bak seleksi alam, “Only the best dan most Adaptive yang diizinkan hidup dan menikmati pesta perjamuan pasar.  Kalau begitu kapan sebaiknya sebuah perseroan meng-initiate transformasi?

Tentu saja saat yang terbaik untuk melakukan transformasi adalah “kemarin.” Dengan demikian opsi-opsi strategis perihal area apa saja yang perlu mendapatkan transformasi sudah dipetakan dan program Change Management sudah bisa dijalankan secara proaktif. Mumpungselagi masih ada waktu, tanpa terjebak dalam ritme sirine “Emergency.

Namun berbagai riset pasar menunjukkan perseroan sering complacent, apalagi kalau perseroan saat ini fine-fine saja, merasa no problem dengan bisnisnya. Tidak usah heran kalau mereka tiba-tiba dikejutkan dengan gelombang perubahan dan sophistikasi tuntutan konsumen yang kian cerdas, dan tawaran produk kompetitor atau substitusi yang lebih baik, akhirnya kehilangan competitiveness.  Dipaksa keluar dari radar permainan sambil beteriak SOS: May Day.

Dari Area Mana Saja Sebuah Roda Transformasi Dijalankan?

Ada banyak area transformasi yang bisa dilakukan, mulai dari yang bersifat core fundamental, strategis maupun supporting.

– Ada perseroan yang meredefinikan productservice offering-nya. Mereka berganti haluan terhadap apa yang mereka tawarkan selama ini, A Major Business Changes.

– Ada juga yang mempertajam strategi, dari yang selama ini samar-samar alias tidak begitu jelas diasah runcing menjadi tajam sebening kristal, atau adopsi teknologi canggih melalui sophistikasi dan fine tuning business process.

– Ada juga yang melalui reformasi kultur dan bisnis mindset perseroan. Yang dulunya  taken for granted, captive market dan “berburu di kebon binatang”, kini harus bertempur di medan laga bebas dan harus bertemu dengan kompetitor buas.

Berbagai macam cara dilakukan. Sebagian besar menterjemahkan transformasi dengan perombakan struktur, sistem dan policy.GMF Aero Asia, Industri Aircraft maintainance kelompok anak perseroan Garuda Indonesia misalnya, melakukan transformasi secara integral. Mereka meramu resep Transformasi Business Process, Reformasi Kultur, Introduksi Mindset Business Entrepreneurship, Penajaman Strategy dan Milestone yang lebih konkret, serta pengawasan performance management untuk mencegah offside dan distraksi.

Gairah GMF sebagai salah satu aset nasional mempersiapkan diri, melakukan stretching transformasi  dalam  menyongsong pasar bebas, terlihat dari program transformasi mereka  yang embedded dalam operating system organisasi. Apapun itu, semuanya dipakai menjadi sebuah alat untuk memastikan apa yang ditawarkan perseroan masih relevan dengan kebutuhan pasar, dan masih kompetitif dibandingkan dengan produk sejenis maupun produk substitusi.

Apa Pendekatan yang Umumnya Dipakai dalam Mengelola Transformasi?

Pendekatan transformasi yang efektif memerlukan pendekatan intregratif dan common ground engagement di tingkat personal, organizational dan sisi bisnis dalam artian perseroan sebagai going-concern entity.

Dalam tingkat individual, perlu diupayakan agar setiap personal dalam organisasi paham benar, apa yang akan terjadi dengan nasib perseroan, kalau tetap menjalankan roda bisnis seperti selama ini, business as usual, sementara di luar tembok perseroan, tuntutan dan harapan konsumen makin hari makin canggih. Selain itu jurus dan metode yang dipakai oleh kompetitor juga semakin inovatif dan susah ditebak. Jadi sisi konsekuensi dan ancaman “kesengsem” dengan status quo ini harus bisa dikonversi menjadi sumber motivasi dan menciptakan iklim urgency. Bak doktrin “Do or Die.”

Konstruksi Business Clarity juga harus dirancang agar pekerja bisa melihat apa impact yang akan terjadi pada mereka, ketika transformasi terwujud. Hal ini amat penting sehingga mereka bisa melihat relevansi apa yang akan dicapai terhadap  pengorbanan yang mereka kerjakan atas nama transformasi. Disebut pengorbanan, karena transformasi selalu berhubungan dengan aspek melawan inertia kebiasaan, conditioning behavioral. Menjadi amat penting, mereka mendpatkan reward fulfilment, sebuah rasa puas dan penuh ketika bisa melihat kontribusi yang ia lakukan dengan keberhasilan pencapaian perseroan.

Dalam segi bisnis, sebuah transformasi baru bisa dikatkan berhasil kalau value creation yang diciptakan memang lebih baik, lebih efisien, lebih memberi Nilai daripada apa yang ditawarkan kompetitor.  Kata kuncinya adalah productivity, efficiency dan values creation. Tanpa ukuran itu transformasi hanya sebuah tambahan beban kerja, only a business, but  not a business. Tepat kiranya meminjam istilah Richard Budihadianto, “Peluang bisnis itu sudah pasti, ada didepan mata, jangan sampai kita hanya bisa melihatnya tanpa meraupnya karena incompetence.”

Kalau begitu, Lets Transform selagi masih ada waktu. (*)

 

(Hendrik Lim, MBA, Managing Director Defora Consulting, www.defora.info)

 

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah HC edisi Maret-April 2013

Tags: ,