Productivity Management

kris_s

 

Saya berkenalan dengan Ong Teng Wan salah seorang founder principal dari STADA. Kebetulan saya diperkenalkan oleh Anton Widodo salah seorang executive STADA. Pak Ong di usianya yang hampir 70 tahun masih aktif di berbagai organisasi termasuk duduk sebagai salah seorang direksi VICOM yang merupakan salah satu perusahaan inspeksi transportasi yang cukup besar di Singapura.

Dalam diskusi dengan Pak Ong kami terlibat diskusi yang sangat menarik khususnya menyoroti masalah productivity management atau mempergunakan istilahnya ia lebih suka mempergunakan istilah Result Management di dalam bukunya. Di dalam berbagai kesempatan seringkali praktisi HR membahas mengenai masalah naiknya biaya-biaya SDM seiring dengan naiknya  angka inflasi. Masalah kenaikan upah atau kompensasi dan benefit adalah suatu keniscayaan yang akan dialami oleh semua organisasi karena seiring dengan semakin tingginya persaingan organisasi dan usaha dan juga semakin berkurangnya sumberdaya alam, maka kenaikan biaya SDM tidak dapat kita hindari. Sayangnya kenaikan biaya SDM seringkali tidak diiringi dengan kenaikan produktivitas dari perusahaan dan sayangnya para praktisi HR masih sedikit sekali yang mendalami masalah produktivitas di dalam organisasi secara serius.

Sumber Daya Manusia sejatinya jika kita menyimak konsep Human Capital bukanlah resources yang semakin berkurang nilainya, karena berbeda dengan sebuah mesin produksi yang akan mengalami depresiasi maka konsep SDM yang sesungguhnya bahwa seorang manusia seharusnya mampu semakin memperkaya nilainya seiring dengan unsur Intelectual Capital yang ia kembangkan. Faktor pengalaman, skill, edukasi dan networking menjadi suatu Intangible asset yang seringkali membedakan kemampuan produktivitas suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Dua perusahaan yang sama-sama memiliki besaran asset atau sama-sama memiliki perangkat atau mesin produksi yang canggih dapat dihargai sangat berbeda secara market value nya karena masalah-masalah Intangible Capital yang banyak dilatarbelakangi oleh kemampuan kualitas SDM di belakangnya. Intangible Capital sangat dipercaya sebagai motor dan generator dari suatu produktivitas di dalam organisasi.

Jim Collins penulis buku Built To Last dan Good To Great menyatakan pendapatnya bahwa memilih dan memiliki orang yang tepat sangat penting di suatu organisasi. Orang yang tepat menurut Collins, memahami perbedaan antara “memiliki pekerjaan dan memegang tanggung jawab.” Collins mengacu pada sifat ini sebagai “produktif neurotik.”

Tentunya yang dimaksud oleh Jim Collins di sini bukanlah negative neurotic di dalam organisasi yang dapat merusak dan menghancurkan organisasi, melainkan gambaran cerminan keseriusan seseorang untuk benar-benar mencintai dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan organisasinya yang pada akhirnya mampu memiliki dan menumbuhkembangkan produktivitas di unit produksinya dengan semaksimal mungkin.

Masalah produktivitas seringkali menjadi masalah yang sering dibahas dan diperdebatkan di berbagai forum organisasi. Produktivitas tidak lagi semata-mata sekedar bagaimana mencapai suatu nilai output yang sebesar-besarnya atau rasio dari suatu output terhadap input yang sebesar-besarnya tetapi lebih jauh lagi pakar-pakar produktivitas mulai membahas adanya suatu “value added” yang diberikan dari suatu kombinasi dari nilai physical labour dan capital value untuk suatu proses kerja.

Value added mencakup suatu nilai output yang sudah memperhitungkan semua biaya salary dari suatu proses produksi, bunga yang harus dibayarkan, nilai depresiasi dari alat kerja, deviden kepada pemegang saham, dan laba yang dapat dikontribusikan kepada investor. Maka tantangan dan tuntutan dari suatu parameter produktivitas tidaklah semudah dulu lagi yaitu menghasilkan hasil setinggi-tingginya dengan biaya serendah-rendahnya tanpa mempertimbangkan faktor-faktor added value yang seringkali terlupakan.

Akhirnya, saya mulai melihat kebutuhan akan adanya suatu perubahan organisasi HR yang mendasar dan sebaiknya mulai memfokuskan beberapa nilai tambah fungsi HR yang dianggap penting dan strategis untuk organisasi.

Maka sebaiknya ke depannya organisasi HR terdiri dari fungsi-fungsi yang difokuskan kepada beberapa hal seperti Talent Management (mencakup fungsi recruitment, training, competency development dan retention management), Service Center (payroll, HR services , industrial relationship dan executive services), Productivity Management (performance management, rewards management, dan capacity planning), dan Engagement (corporate culture dan worklife balance).

 

N. Krisbiyanto adalah Senior Partner People Consulting