Pola Baru bagi Komunikasi Pekerja dan Pengusaha

Ada yang salah dari kita di zaman ini dalam melihat pola baru hubungan antara buruh dengan perusahaan. Globalisasi telah sedemikian jauh mengubah realitas, tapi cara pandang dan tindakan kita dalam menyikapi persoalan kondisi buruh, dan hal-hal terkait dengannya seperti lapangan kerja, masih dengan paradigma lama.
Globalisasi merupakan proses alamiah transformasi kehidupan manusia. Kaum pengusaha maupun buruh sama-sama problematis menghadapi situasi ini. Sebelum teknologi berkembang, umat manusia berharap teknologi mutakhir seperti otomatisasi, standarisasi, mekanisasi akan membebaskan manusia dari kerja fisik. Manusia akan terbebas dari penindasan antarmanusia. Tapi, dalam kenyataannya, <I>hi-tech</I> justru banyak mengatur, bahkan mendominasi manusia. Teknologi memaksakan tuntutan ekonomis dan politiknya kepada manusia.
Filsuf Herbert Marcuse berpendapat, jika dahulu dalam era kapitalisme liberal mayoritas (buruh) ditindas oleh minoritas (majikan), kini di era neo-liberal mayoritas ditindas oleh sesuatu yang bersifat anonim, yaitu ‘sistem teknologi’. Marcuse punya istilah yang menarik dalam melihat karakter zaman ini dengan menyebutnya rasionalitas teknologis. Jangankan dalam tata-kelola ekonomi, dalam hal kebudayaan pun bisa dipandang rasional sejauh bisa diperalat, dimanipulasi, dimanfaatkan atau diperhitungkan secara matematis dan ekonomis.
Dalam bidang politik, –seperti kata F. Budi hardiman (1992)– penguasa bisa mempertahankan kekuasaannya sejauh mereka sukses memobilisasi, mengorganisasi dan mengeskploitasi produktivitas secara mekanis, teknis dan ilmiah bagi kebudayaan industri. Tak hanya dalam bidang-bidang itu, bidang agama pun kini telah masuk dalam pola yang kurang lebih sama.
Seseorang sudah pantas disebut tokoh agama tanpa harus menunjukkan tingkat keilmuan dan moralitas ketokohannya di masyarakat. Cukup sedikit bekal ayat, sedikit pengetahuan reflektif tentang relijiusitas untuk mencapai popularitas. Bekal ini sudah cukup, asalkan sang mubalik mampu beradaptasi dan mendapat dukungan sistem teknologi; media cetak, elektronik, dan manipulasi digital dalam upaya mendongkrak citra.
Di era tradisional, hanya sedikit orang yang bisa meraih popularitas, kini mubalik bisa bermunculan seperti produksi ponsel. Jurgen Habermas, sang penafsir Marxisme, menemukan satu teori yang sangat bagus sebagai paradigma melihat situasi sekarang. Melepaskan diri dari pandangan ala Marxian -yang menurut dia sebagian sudah tidak relevan untuk menyikapi situasi modernitas sekarang- Habermas menganjurkan sebuah model masyarakat  ‘komunikasi bebas penguasaan’, yang merupakan kritik atas konsep masyarakat tanpa kelas.
Bedanya, kalau Marx mengandaikan masyarakat tanpa kelas melalui perjuangan kelas, revolusi, Habermas mencanangkan sebuah jalan melalui cara berkomunikasi. Secara umum, teori ini memang dimaksudkan untuk mewujudkan komunikasi yang bisa mengatasi lapisan kelas sosial dalam masyarakat. Namun, secara khusus bisa juga digunakan untuk mencapai konsensus dari perseteruan antara pekerja dengan pengusaha.
Tentu semangat Habermas ini cukup menyegarkan kita yang kini hidup dalam era demokratisasi dan liberalisasi. Melalui komunikasi yang baik, satu pihak memahami pihak lain, semua akan memiliki kesempatan yang setara melibatkan diri dalam perbincangan dan mengemukakan persetujuan, penolakan dan penafsiran fakta. Bahkan, dengan cara komunikasi itu pula mereka bisa mengungkapkan perasaan dan sikap secara bebas terbuka tanpa pembatasan diri.
Di sini diharapkan, antara karyawan dan pengusaha bisa melihat kenyataan makro seperti globalisasi, teknologi dan realitas pasar melalui ‘sudut yang sama’ untuk mencapai kesepakatan bersama. Dengan itu pula kelak kaum pekerja tidak akan mudah menyalahkan pengusaha atas persoalan-persoalan kerja. Dampak positif lain dari pola komunikasi semacam ini juga memberikan kesempatan masing-masing pihak untuk paham dan sadar akan perbedaan bahasa kehidupan.
Bos akan bisa memahami karakter kehidupan karyawannya karena dalam komunikasi-dialogikal mereka secara terbuka menceritakan kebutuhan dan persoalan hidupnya. Sementara para karyawan akan mengerti keadaan perusahaan, keadaan pasar, bahkan kondisi keuangan perusahaan secara baik.
Pengertian, transparasi sudah menjadi hal yang wajar di era sekarang. Sebab keuntungan perusahaan sekarang tidak mungkin berhasil jika sekadar mengandalkan “kecerdasan” pemilik modal dalam mengeskploitasi karyawannya. Berhasil atau tidaknya perusahaan sangat bergantung kepada pasar.
Kompetisi produk unggul dan pelayanan yang baik adalah kata kunci yang harus dipegang setiap orang. Andaikan perusahaan itu klub sepakbola di Eropa yang kini telah masuk dalam industrialisasi, maka manajer, <I>marketing club</I>, pelatih dan pemain harus bergerak padu menembus pasar, meraih simpati penonton agar loyal dan terus berbondong-bondong membeli tiket.
Dalam setiap laga, semua harus tampil maksimal. Kalau pun tidak mungkin selalu menang, setidaknya tampil cantik, fair play sehingga enak ditonton. Di balik stadion, klub sepakbola tangguh tidak hanya mengandalkan kepemilikan bintang lapangan melainkan harus memiliki hubungan yang setara dan harmonis antarpemain, pelatih, manajer dan pemilik modal.
Konflik pekerja dan pengusaha, dalam pandangan klasik Marxian, memang logis diselesaikan melalui perjuangan kelas. Hanya saja, perjuangan kelas tidak bisa dipisahkan internasionalisme. Slogan “kaum buruh di seluruh dunia bersatulah” adalah upaya ideologis mewujudkan tatanan dunia berupa masyarakat tanpa kelas secara internasional. Sayangnya, ide ini terbentur “ketidaksepakatan” semua kaum pekerja dari berbagai negara, yang memang tidak seragam kepentingannya.
Dulu semangat internasionalisme menjadi hak paten kaum komunis. Sekarang komunisme telah usang, serupa dengan tumbangnya kapitalisme klasik. Internasionalisme justru kian tampak dalam bentuk globalisme. Tatanan global adalah realitas. Kenyataan yang harus dipahami secara baik untuk menentukan tindakan yang tepat.
Filsuf eksistensialis Nietzsche pernah mengatakan, “Tangkaplah zamanmu untuk mendapatkan dunia dan kehidupanmu.” Tanpa kecerdasan ini, bagi Nietzsche, orang hanya akan menjadi budak kehidupan. Di sinilah paradigma komunikasi menjadi penting bagi siapapun yang tak ingin dilibas zaman.
(<I>Faiz Manshur, pemerhati masalah sosial, bekerja di penerbit buku Yayasan Nuansa Cendekia, Bandung</I>)