"Pelatihan Tidak Akan Membawa Hasil Jika Produk Anda Buruk"

Itulah yang dibahas James Gwee dalam seminarnya di Mangga Dua, Jakarta beberapa waktu lalu. Kendati tak lepas dari dampak krisis ekonomi global, volume pekerjaan di Indonesia akan tetap meningkat. Menurut ‘Labour and Social Trends ASEAN 2008’ yang dirilis ILO, peningkatan pekerjaan paling pesat akan terjadi di Singapura, Indonesia (4,7%) dan Philipina. Studi tersebut dilanjutkan dengan informasi tentang pergeseran pekerjaan dari agrikultur ke sektor jasa. Data memperlihatkan peningkatan pekerjaan sebesar 72% di sektor industri dan pelayanan jasa, dan produktivitas di sektor-sektor tersebut pun akan meningkat. Diperkirakan pada 2015 bidang jasa merupakan sektor terbesar di ASEAN.
Apa makna hasil studi tersebut bagi pemimpin dan praktisi HR?
Agar sebuah perubahan dapat menjadi dan selalu berada pada posisi yang ‘profitable’, meskipun kondisi sedang sulit, perusahaan harus dapat menjual produk dan jasanya dengan harga yang wajar atau kompetitif. Di sinilah pentingnya kemampuan HR untuk dapat menarik karyawan yang memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk menciptakan produk dan jasa yang berkualitas tinggi. Yang harus dicari adalah "knowledge worker". Pertanyaan, dari mana mendapatkannya? Tidak lain, karyawan yang ada harus dilatih dengan baik dan di-update dengan informasi dan keterampilan seperlunya, dan riset pasar yang terbaru. Pelatihan harus seimbang antara "knowledge" dan keterampilan karena, seperti ungkapan pujangga Goethe, "Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do."
HR mesti lebih jeli dan mencari jalan yang paling cerdas agar karyawan mampu memberi hasil yang diinginkan. Karyawan harus dilatih di bidang pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan. Dunia bisnis berputar dengan begitu pesat, tiap hari muncul ide dan teknik baru. Karyawan pun harus diikutsertakan dan ditingkatkan pertangungjawabannya agar mereka dapat mengikuti pergeseran sesuai dengan permintaan pasar dan zaman. Satu pokok pembahasan dalam studi ILO 2008 adalah tentang kekurangan pimpinan. Daya kepemimpinan di seluruh ASEAN termasuk Indonesia kurang dan krisis ekonomi berdampak negatif terhadap jumlah pimpinan terlatih yang ada. Indonesia sangat memerlukan orang-orang dengan kepemimpinan luas dan tinggi agar negara ini dapat maju dan keluar cepat dari kesulitan akibat krisis ekonomi.
Tentu saja, anggaran pelatihan untuk 2009 mungkin tidak setinggi tahun sebelumnya, namun kita tetap harus mengedukasi karyawan agar perusahaan tetap di peringkat atas. Dengan ancaman masa sulit sekarang, apakah kita dapat menonjol dan menghadapi situasi dengan mengerjakan sesuatu yang ‘out of the box’? Jawabannya ada di pelatihan yang mendobrak kebiasan rutin dengan pikiran menarik dan skill set yang berubah! Kata James Gwee, ini merupakan tahun yang tepat untuk merancang tujuan ke depan yang jelas dan pilihan program pelatihan dengan seksama agar hasilnya optimal.
Pelatihan sering kali gagal karena karyawan yang diikutsertakan salah, atau tidak diberi tahu dengan jelas tujuan mengikuti pelatihan tersebut. Tujuan ROI walaupun sulit diukur tetap harus dapat diperlihatkan sebagai penghasilan perusahaan. James Gwee dalam seminarnya tersebut mengurutkan pokok-pokok penting yang sebaiknya dilaksanakan seblum pelatihan. Kalau produk sudah tidak diminati oleh pasar, pelatihan pun tidak akan mengubah pasar dan fakta itu. Kalau peserta yang dikirim ikut pelatihan tidak bersemangat, tidak disiapkan atas hasilnya, percuma saja dia ikut latihan. Pelatih pun punya batas. Oleh karenanya, begitu pelatihan usai, ketika peserta masih semangat dan terinspirasi oleh tujuan baru, segeralah memutuskan langkah-langkah yang akan diimplementasikan besok pagi di kantor.
(<I>Penulis adalah Founder dan CEO Speakers Indonesia</I>)